Perusahaan pelayaran asal Prancis, CMA CGM, mencatat penurunan pendapatan dan laba pada kuartal kedua (Q2) 2025, di tengah ketegangan dagang antara Tiongkok dan Amerika Serikat yang terus membayangi sektor maritim global.
Dalam laporan keuangan terbarunya, CMA CGM melaporkan pendapatan sebesar 8,2 miliar dollar AS dari bisnis maritim selama kuartal tersebut. Angka ini mencerminkan penurunan sebesar 1,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) turun 19,9 persen menjadi 1,6 miliar dollar AS. Margin EBITDA pun ikut menyusut, dari 23,9 persen menjadi 19,4 persen. Penurunan ini mencerminkan tekanan ekonomi yang terus meningkat, terutama akibat ketidakpastian perdagangan global.
Pendapatan rata-rata per TEU (twenty-foot equivalent unit) juga mengalami penurunan 1,2 persen menjadi 1.367 dollar AS. Meski demikian, total volume yang ditangani selama periode tersebut tetap stabil. CMA CGM mengangkut sekitar 6 juta TEU selama kuartal tersebut, hampir sama dengan periode yang sama pada 2024.
Stabilitas volume ini dinilai signifikan, mengingat adanya gangguan sementara dalam arus perdagangan antara Tiongkok dan Amerika Serikat selama periode tersebut. Perubahan kebijakan tarif yang diterapkan oleh pemerintah AS, termasuk warisan kebijakan dari masa pemerintahan Donald Trump, turut memengaruhi permintaan impor dan menekan tarif pengiriman kontainer.
Chairman sekaligus CEO CMA CGM, Rodolphe Saadé, menyatakan perusahaan tetap menunjukkan kinerja stabil meski di tengah tantangan geopolitik.
“Dalam situasi ketegangan geopolitik yang terus berlangsung dan ketidakpastian perdagangan yang kembali muncul, grup kami tetap mencatatkan kinerja yang stabil, berkat ketahanan bisnis maritim kami,” ujar Saadé dalam keterangan resmi.
Ia juga menekankan pentingnya strategi diversifikasi perusahaan yang mencakup terminal, logistik, dan angkutan udara. Menurutnya, pendekatan ini memberikan fleksibilitas dalam menghadapi perubahan pola perdagangan global.

