Pasar pelayaran kontainer intra-Asia menunjukkan potensi pertumbuhan yang kian menjanjikan. Maersk Line, perusahaan pelayaran terbesar kedua di dunia, menaikkan kapasitas layanannya di kawasan ini hingga 52%, kendati freight rate sedang mengalami pelemahan.
Langkah tersebut meningkatkan total kapasitas terpasang Maersk untuk pasar intra-Asia menjadi 298.134 TEU, naik dari 195.714 TEU.
Dengan peningkatan itu, Maersk semakin menegaskan posisinya di urutan kedua pasar, tepat di belakang Cosco Shipping yang mengoperasikan kapasitas sebesar 300.491 TEU di kawasan yang sama.
Dalam laporan mingguan terbarunya, Alphaliner menyebut pertumbuhan Maersk juga ditopang oleh kemitraannya dengan Hapag-Lloyd dalam aliansi Gemini Cooperation.
Hapag-Lloyd sendiri mencatat lonjakan kapasitas hampir dua kali lipat pada Agustus 2024, tumbuh sebesar 97 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pertumbuhan signifikan kedua perusahaan ini didorong oleh strategi layanan feeder regional yang terintegrasi dalam skema hub and spoke. Rata-rata kapal yang dioperasikan dalam aliansi ini berkapasitas sedikit di atas 2.900 TEU.
Sebagai perbandingan, kapal-kapal Cosco rata-rata berukuran 2.700 TEU, sementara MSC—meski bukan pemain utama di segmen ini, mengoperasikan kapal dengan rata-rata kapasitas 3.000 TEU.
Tarif Melemah di Tengah Kenaikan Kapasitas
Penambahan kapasitas tersebut termasuk langkah berani, karena saat ini, freight rate (tariff) sedang melemah. Konsultan Drewry melaporkan penurunan tarif pada paruh kedua Agustus 2025. Indeks Kontainer Intra-Asia (IACI) turun 2 persen menjadi 582 dollar AS per kontainer 40 kaki, terendah sejak Oktober 2024.
Secara tahunan, indeks tersebut tercatat 35 persen lebih rendah dibandingkan Agustus tahun lalu. Hal ini mencerminkan tekanan kompetitif yang masih tinggi di pasar intra-Asia, yang saat ini dilayani oleh sedikitnya 69 operator.
Total kapasitas kapasitas terpasang untuk perdagangan intra Asia mencapai 2,4 juta TEU, meningkat 13% dibanding tahun alu. Dari jumlah tersebut, sekitar 87% dikendalikan oleh 20 operator terbesar.
Menurut Alphaliner, pertumbuhan kapasitas yang digerakkan oleh aliansi seperti Gemini Cooperation menunjukkan pentingnya pasar intra-Asia dalam rantai pasok global. Sistem distribusi regional berbasis hub and spoke menjadi kunci efisiensi pengiriman di kawasan ini.
Volume Intra-Asia Lampaui Trans-Pasifik dan Eropa
Kepala analis pasar di Xeneta, Peter Sand, menyatakan bahwa jalur intra-Asia saat ini menjadi koridor laut tersibuk di dunia. “Lebih banyak kontainer dikirim melalui jalur ini dibandingkan kawasan lain mana pun secara global,” ujarnya.
Data Xeneta mencatat, sejak awal 2023, rata-rata volume pengiriman bulanan antar pelabuhan di Asia Timur mencapai 3,95 juta TEU. Angka ini melampaui gabungan volume pengiriman dari Asia Timur ke Amerika Utara dan Eropa yang mencapai 3,48 juta TEU.
Dalam laporan terpisah, perusahaan logistik asal Taiwan, Dimerco, memperkirakan impor kontainer ke Amerika Serikat akan mengalami penurunan tajam sebesar 19–21 persen (yoy) selama periode September hingga Desember 2025. Secara keseluruhan, volume impor AS diperkirakan turun 5,6 persen sepanjang tahun ini.
“Penurunan tersebut mendorong pelaku bisnis untuk mengevaluasi ulang strategi pengadaan. Perusahaan kini lebih fokus pada ketahanan rantai pasok dan fleksibilitas operasional guna mengantisipasi gangguan ke depan,” tulis Dimerco dalam laporannya.

