Solar Subsidi Dibatasi, Aptrindo Bahas Penyesuaian Tarif Angkutan Barang

Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo), hari ini (Sabtu, 21/9/2019) mulai membahas besaran tarif angkutan barang, sebagai respon atas kebijakan pemerintah membatasi penggunaan Jenis BBM Tertentu (JBT) atau solar bersubsidi.

Ketum DPP Aptrindo Gemilang Tarigan mengatakan pembatasan bahkan larangan penggunaan solar bersubsidi itu tercantum dalam Surat Edaran (SE) Badan Pengatur Hilir Minyak & Gas Bumi (BPH Migas) No 3865.E/Ka.BPH/2019 tertanggal 29 Juli 2019.

Bincang bincang dengan Indonesia Shipping Gazette kemarin, Tarigan mengatakan dalam SE BPH Migas antara lain disebutkan untuk angkutan barang jenis truck trailer, truck gandeng mau pun dump truck dilarang menggunakan solar bersubsidi.

Sementara untuk angkutan barang roda 4 penggunaan solar subsidi dibatasi hanya 30 liter/ kendaraan /hari dan kendaraan roda 6 atau lebih dibatasi 60 liter/kendaraan/hari.

Mengingat komponen BBM mempengaruhi besaran tarif sampai 40% , ujar Tarigan, kebijakan pembatasan bahkan larangan penggunaan solar subsidi pada angkutan barang tersebut harus dijawab dengan penyesuaian tarif.

Dia mengatakan besaran tarif ongkos angkut sekarang ini dihitung dengan formulasi komponen tarif BBM harga subsidi. “Karena terjadi pembatasan bahkan larangan penggunaan solar subsidi untuk angkutan barang tertentu, mau gak mau besaran tarif
disesuaikan, ” ujar Tarigan.

Terkait dengan kebijakan pengendalian kouta JBT Jenis Solar (Solar Bersubsidi), Senin (23/9/2019) BPH Migas menggelar sosialisasi di kantornya.

Seperti diberitakan sebelumnya, alasan BPH Migas membatasi angkutan barang yang boleh memakai solar subsidi, kata Tarigan, untuk menghindari over kuota pemakaian solar subsidi.

Berdasarkan data BPH Migas, kuota JBT jenis minyak Solar tahun 2019 secara nasional sebesar 14,5 juta KL (dicadangkan 500.000 KL). Realisasi Januari s/d 31 Mei 2019 sudah mencapai 6,4 juta KL atau sebesar 45,73 % dari kuota penetapan.

Realisasi seharusnya sebesar 41% dari kuota penetapan. Karena itu apabila tidak dilakukan penghematan, pendistribusian JBT jenis minyak solar berpotensi over kuota tahun 2019.

Komposisi kuota solar subsidi tahun 2019 yaitu: UNTUK TRANSPORTASI masing masing: Transportasi Darat 10.658.279 KL (76,13%), KAI 243.262 KL (1,74%), Kapal ASDP 243.172 KL(1,74%), Kapal Penumpang 372.224 KL (2,66%), PELRA 118.508 KL (0,85%).

UNTUK NON TRANSPORTASI: Usaha perikanan 1.931.155 KL (13,79%), usaha pertanian 308.400 KL (2,20%), usaha mikro 75.000 KL (0,54%), pelayanan umum 50.000 KL (0,36%).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *