Covid-19: Pelabuhan Tetap Beroperasi, Bagaimana Upaya Perlindungan terhadap TKBM?

Pelabuhan merupakan obyek vital yang tidak hanya melayani penumpang tetapi juga angkutan barang dan logistik. Pelabuhan juga berfungsi sebagai salah satu simpul sarana prasarana penanggulangan bencana nasional seperti supply obat-obatan, mobilisasi personil medis dan keamanan Negara.

Selain itu pelabuhan juga memegang peranan penting dalam menjamin kelancaran arus barang ekspor impor, sehingga perekonomian suatu negara tetap berjalan dengan baik. Dengan perannya yang sangat strategis tersebut, pelabuhan tetap melakukan fungsinya yaitu tetap melayani kegiatan ditengah pandemi Covid 19 ini.

Berkenaan dengan tindakan pencegahan penyebaran Covid-19 di pelabuhan, pemerintah mengimbau kepada para Kepala Kantor Otoritas Pelabuhan (OP)/Syahbandar Utama/Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP)/KSOP Khusus Batam/Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP), Operator Kapal, Operator Pelabuhan agar melakukan prosedur pembatasan yang telah ditetapkan.

Langkah Siaga Hadapi Penyebaran Virus Corona di Wilayah Pelabuhan Indonesia sebagai tindak lanjut dari adanya Surat Edaran International Maritime Organization (IMO) atau IMO Circular Letter Nomor 4204 tanggal 31 Januari 2020 tentang tindakan pencegahan dan penularan Virus Corona atau Novel Coronavirus (2019-nCOV).

Terkait hal tersebut, telah dilakukan pemantauan di beberapa pelabuhan besar antara lain: Pelabuhan Tanjung Priok, Pelabuhan Tanjung Perak, Pelabuhan Belawan dan Pelabuhan Makasar dalam penerapan protokol tindakan pencegahan dan penularan Virus Corona atau Novel Coronavirus.

Dibeberapa pelabuhan besar, penanganan pencegahan penyebaran Covid-19 umumnya sudah mengikuti protokol yang telah ditetapkan pemerintah namun demikian masih ada saja pelabuhan besar yang sampai saat ini belum menerapkan sepenuhnya protokol tindakan pencegahan dan penularan Virus Corona tersebut.

Bahwasanya kebijakan mengenai kesiapan APD (Alat Pelindung Diri) baik masker dan gloves serta perlengkapan lainnya seperti hand sanitizer, dan sabun antiseptic, tissue serta air bersih untuk mencuci tangan adalah merupakan kebutuhan pokok dan mendasar bagi pekerja Pelabuhan. Mereka bekerja di garda terdepan yang selalu siap melayani kegiatan bongkar muat barang dan petikemas selama dua puluh empat jam, tujuh hari dalam seminggu termasuk tenaga kerja bongkar muat (TKBM).

Ada pelabuhan besar yang masih terlihat lemah atau kurang tanggap baik itu didalam pengawasan maupun dalam kesiapan penyediaan APD bagi pekerjanya dan TKBM. Dimana pengawasan terhadap penggunaan APD dalam rangka untuk memastikan kesehatan dan keselamatan bagi para pekerja dan TKBM dari penularan Virus Corona, sedangkan kesiapan penyediaan APD adalah dalam rangka komitmen perusahaan dan kepedulian perusahaan kepada para pekerjanya dan TKBM dalam rangka terciptanya suasana bekerja yang kondusif.

Masih terlihat pada salah satu pelabuhan besar, dimana pekerja pelabuhan maupun TKBM masih banyak yang belum menggunakan APD. Padahal hal tersebut sangat membahayakan baik untuk diri pekerja pelabuhan dan TKBM itu sendiri, membahayakan pekerja lainnya di pelabuhan serta keluarganya.

Pertanyaan yang muncul adalah apakah ketersediaan APD bagi pekerja pelabuhan dan TKBM sangat terbatas yang dialokasikan oleh perusahaan karena kurang tanggapnya perusahaan dalam pencegahan penyebaran Covid 19,  atau karena kurangnya pemahaman atau kurangnya disiplin dari pekerja pelabuhan dan TKBM itu sendiri terhadap pentingnya penggunaan APD untuk melindungi diri dan menekan penyebaran Covid 19.

Selain itu disisi lainya masih terlihat minimnya perlengkapan hand sanitizer dan sabun antiseptic, tissue serta air bersih dan penyediaan wastafel portable yang ditempatkan disisi dermaga pelabuhan, padahal wastafel portable dengan kelengkapannya ini sangat dibutuhkan oleh pekerja pelabuhan maupun TKBM untuk kebutuhan mencuci tangan.

Hal Ini untuk memastikan tangan pekerja pelabuhan dan TKBM tetap selalu bersih baik sebelum dan sesudah bekerja di kapal. Dengan minimnya wastafel portable dengan kelengkapannya didermaga sangat menyulitkan bagi pekerja pelabuhan dan TKBM untuk membersihkan diri yaitu mencuci tangan dan memastikan tangan pekerja pelabuhan dan TKBM selalu tetap bersih karena harus terlebih dahulu ke office atau workshop yang letaknya sangat jauh dari dermaga. Dan hal ini sangat tidak efektif dan efisien bagi pekerja dan TKBM serta bagi pelayanan.

Sisi lainnya yang juga menjadi catatan dan sorotan penanganan pencegahan penyebaran Covid-19 di beberapa pelabuhan besar yaitu penggunaan wastafel portable disisi dermaga dimana air bekas mencuci tangan dibiarkan tumpah kedermaga dan mengalir ke kolam pelabuhan, sehingga air laut menjadi terkontaminasi oleh sabun antiseptic yang tentunya dapat menimbulkan pencemaran lingkungan.

Seharusnya air bekas mencuci tangan yg mengalir ke bawah wastafel portable dapat ditampung didalam jerigen atau ember, sehingga air bekas mencuci tangan tidak langsung tumpah ke dermaga dan kolam pelabuhan.

Sisi lainnya yang perlu mendapatkan perhatian adalah perlu adanya petugas yang khusus ditugaskan untuk mengontrol ketersediaan kelengkapan wastafel portable seperti hand sanitizer, dan sabun antiseptic, tissue, air bersih. Petugas ini juga diberikan tanggung jawab untuk mengisi ulang dan membuang air bekas mencuci tangan tersebut ditempat yang semestinya yang telah disediakan oleh pelabuhan, dan bukan di kolam pelabuhan. Sehingga penanganan pencegahan penyebaran Covid-19 di pelabuhan dapat berjalan beriringan bersama-sama dengan menjaga lingkungan kebersihan kolam pelabuhan dan perairan laut dari pencemaran lingkungan.

Harijanto
Direktur Eksekutif HMPM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *