Dampak Covid-19 terhadap Implementasi Proyek Strategis Kepelabuhanan

Pemerintah mulai khawatir proyek-proyek strategis nasional bakal terganggu oleh merebaknya virus corona (Covid -19). Kendati kebijakan lockdown secara resmi hingga hari ini (kamis, 19 Maret) belum diambil pemerintah pusat, namun himbauan ataupun kesadaran masyarakat sendiri untuk mengambil langkah social distancing sangat berpengaruh signifikan terhadap aktivitas.

Apalagi, himbauan lockdown berbasis regional sudah pernah dikeluarkan oleh sejumlah pemerintah daerah (provinsi). Pemerintah Daerah DKI Jakarta misalnya, pada minggu lalu mengumumkan lockdown untuk wilayah ibukota, kendati kemudian dibatalkan lagi oleh pemerintah pusat. Lockdown belum perlu diambil karena akan berdampak serius terhadap aktivitas ekonomi. Cukup dengan kebijakan social distancing.

Tak perlu men-judge siapa yang benar. Apalagi, himbauan lockdown ini juga sudah dilakukan oleh negara-negara yang terkena penyebaran covid-19 tersebut. Apalagi, sebenarnya, secara de facto kebijakan lockdown dan social distancing sesungguhnya sudah berjalan sangat masif baik itu di DKI Jakarta maupun daerah daerah lainnya di tanai air.

Langkah social distancing ataupun lockdown tak diragukan akan membatasi aktivitas masyarakat baik aktivitas ekonomi maupun social. Kebijakan institusi, baik pemerintah maupun swasta untuk melakukan aksi bekerja dari rumah (work from home) tentu merupakan langkah yang positif. Mengantisipasi dari kemungkinan penyebaran covid-19 sekaligus menjaga layanan atau kegiatan usaha tetap jalan. Tetapi tak bisa dipungkiri, tentu tidak optimal.

Juga tak bisa dipungkiri, kebijakan lockdown ataupun social distancing tersebut akan sangat berpengaruh terhadap pelaksanaan proyek strategis nasional. Dapat dipastikan penyelesaian sejumlah proyek, baik proyek strategis nasional maupun proyek non strategis lainnya, akan mundur dari target, jika masalah covid-19 ini tak diselesaikan segera. Seperti proyek pembangunan jalur Kereta Cepat Jakarta Bandung dan proyek pemurnian mineral yaitu stainless steel dan carbon steel yang berlokasi di beberapa tempat di Sulawesi diperkirakan akan molor. Apalagi, kedua proyek tersebut menggunakan tenaga ahli dan tenaga kerja dari China.

Sejumlah proyek strategis di sektor kepelabuhanan yang saat ini sedang dikerjakan ataupun dijadwalkan untuk dilakukan oleh BUMN PT. Pelabuhan Indonesia II/IPC juga dikwatirkan tidak selesai sesuai target. Sebagaimana diketahui, saat ini, PT Pelindo II sedang menyelesaikan sejumlah proyek, termasuk pembangunan Terminal Kijing (Kalimantan Barat), penyelesaian proyek jalan tol Cilincing – Cibitung, serta tindak lanjut dari proyek New Priok, baik itu  penyelesaian proyek area 57 meter NPCT1, maupun CT2 dan CT3.

Dengan masifnya efek covid-19 saat ini, ada kemungkinan penyelesaian proyek-proyek tersebut akan mundur. Apalagi, sudah ada himbauan untuk melakukan work from home dikalangan ASN, pegawai BUMN dan para pekerja lainnya.

Proyek lainnya yang juga akan mengalami perlambatan dan terkait dengan IPC yaitu Pelabuhan Kijing terhadap produksi pelayanan curah kering (alumina) yaitu proyek pembangunan smelter bauksit milik PT. Borneo Alumina Indonesia di Mempawah Kalimantan Barat. Keterlambatan pembangunan proyek smelter ini terutama disebabkan konsorsium kontraktor pembangunannya yaitu PT. Pembangunan Perumahan (PP) yang menggandeng perusahaan dari China yaitu China Aluminium International Engineering dalam proyek ini.

Terhambatnya penyelesaian keseluruhan proyek-proyek ini akan mempunyai dampak kepada IPC antara lain potensi pengurangan (QSR) Quarterly Site Rent lebih besar lagi serta realisasi capex (capital expenditure) yang rendah (tidak maksimal). Hal ini akan berdampak pada  menurunkan kinerja perusahaan dan akan berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan industri pelabuhan yang pada akhirnya mengurangi pendapatan dan EBITDA (Earning Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization).

Harijanto, Executive Director of Himpunan Masyarakat Peduli Maritim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *