Di Balik Container Shortage dan Kenaikkan Throughput Tanjung Priok pada November

Bambang Sabekti

Oleh Bambang Sabekti (Pelaku Aktivitas Bisnis Perdagangan dan Kepelabuhanan)

Kabar menggembirakan muncul dari Pelabuhan terbesar di Indonesia – Tanjung Priok. Pelabuhan yang meng-handle sekitar 60% volume pengapalan Indonesia, baik internasional maupun domestik, menunjukkan peningkatan volume bongkar muat pada beberapa bulan terakhir, setelah mengalami penurunan yang cukup tajam selama pandemi. Pada bulan November, volume bongkar muat (throughput) domestic mengalami kenaikan 4% dibandingkan bulan sebelumnya, sedangkan volume (throughput ) internasional mengalami kenaikan sebesar 7% dibandingkan dengan bulan Oktober.  

Kendati demikian, secara akumulatif, dari Januari sampai November 2020 masih lebih rendah sekitar 5% untuk domestik dan 11% untuk  volume ekspor dan impor dibanding tahun lalu untuk periode yang sama.  Sebenarnya volume internasional akan naik lebih tinggi, kalau tidak terjadi  “shortage” container baik secara global maupun di Indonesia.

Perusahaan Pelayaran global (Main Line Operator) lebih memilih mengalokasikan kontainernya untuk  ekspor dari China ke Amerika Serikat dan Amerika Latin daripada untuk ekspor dari China  ke Jakarta (Indonesia) karena  alasan profit margin. Padahal, China adalah mitra dagang terbesar Indonesia.  

Dua bulan terakhir terjadi pergeseran pasar (market shifting) antara Main Line Operator (MLO) dengan “shipper”nya terutama untuk “spot market”. Yang sebelumya  Shipper mempunyai “bargaining power” terhadap MLO karena banyaknya pasokan  (Buyer Market) kini berubah dan bergeser  menjadi “ Seller Market”, di mana MLO yang memilih dan menentukan  Shipper mana yang akan dilayani dan diberikan container dan “space”. Maka tidak aneh kalau ocean freight meroket terutama untuk “spot market”. Diproyeksikan, ketersediaan container baru akan kembali  normal setelah  Chinese New Year bulan Februari tahun depan, dengan catatan kalau  terjadi keseimbangan baru  (‘new equilibrium “)  di pasar global.

Kenaikan troughput di Tg Priok di bulan November, mengindikasikan secara perlahan kegitan ekonomi merangkak naik baik secara lokal maupun nasional dan kita sudah dapat mensiasati Covid 19.  Hal ini menunjukkan adanya peningkatan pasar domestik dan tingkat konsumsi rumah tangga. Industri pengolahan, konstruksi dan perdaganagan yang merupakan penyumbang terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) juga menunjukkan tren yang positif. Neraca  perdagangan juga menujukkkan “record” yang positip pula.

Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia surplus US$2,61 miliar secara bulanan. Ini lebih baik di bandingkan defisit $1,33  miliar pada bulan yang sama di tahun 2019. Yang menggemberikan, secara tahunan sektor non migas naik sebesar 12,41%, yang sebagian besar (lebih dari 90%) pengiriman barangnya untuk ekspor ke luar negeri menggunakan kapal kontainer.

Berdasarkan negara asal impor, penurunan impor non migas terjadi dari China, Hongkong, Kanada dan Taiwan. Ini dapat dimaklumi, salah satu alasannya barangkali karena  keterbatasn kontainer seperti dijelaskan di atas, di mana mereka lebih memilih ekspor ke Amerika yang “business value”nya lebih tinggi  dari pada ekspor ke Indonesia /Jakarta.

Bank Pembangunan Asia (ADB) melihat ada peluang peningkatn ekspor Indonesia di tahun 2021, hal ini dikarenakan meningkatnya pemulihan ekonomi dari mitra dagang utama RI seperti China, India dan Jepang serta naiknya harga komoditas. Pertumbuhan ekonomi China tahun depan diproyeksikan tumbuh hingga 7,7%, India tumbuh 8% dan Jepang diperkirakan ekonominya juga tumbuh positip 2,3%. Sementara Bank Indonesia memproyeksikan volume perdagangan  dunia tahun depan dapat tumbuh sebesar 4,4% dari tahun ini yang terkontraksi  hingga 6.3%. Namun kita harus tetap waspada, harapan itu akan dapat terwujud, kalau mobilitas social berjalan aman, karena permintaan masyarakat  (“demand”)  berbanding lurus dengan mobilitas sosialnya. Oleh karenaya, semoga program vaksinasinya berjalan lancar dan tidak dikorupsi lagi seperti BANSOS tempo hari, kasus hukum HRS dapat ditangani dengan apik dan tidak menimbukan kegaduhan, dan para Main Line Operator berkenan mereposisikan Empty Container (Kontainer Kosong) nya ke Indonesia untuk kegiatan ekspor atau tercipta “Trade Balance” yang baru untuk ekspor dari Indonesia dan impor ke Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *