Menyusul CMA CGM dan HMM, PIL Harapkan Dana Segar Negara (Temasek) agar Keluar dari Krisis Keuangan

Menyusul dua raksasa global dalam industri container shipping – CMA CGM dan HMM – yang meminta sokongan dana segar dari negara masing-masing dalam mengatasi krisis keuangan sebagai dampak dari merebaknya coronavirus (covid-19), Pacific International Lines (PIL) juga sedang menjajaki dana segar dari pemerintah Singapura (lewat investasi Temasek) agar bisa keluar dari krisis keuangan.

Dilaporkan, perusahaan pelayaran container terbesar ke-10 global tersebut, sedang mencari sokongan dana dari Temasek Holdings. Ini merupakan upaya PIL agar bisa keluar dari krisis keuangan, terutama dalam melunasi utang yang hampir jatuh tempo.

Dalam sebuah pernyataan sebagaimana ditulis Hong Kong Shipping Gazette (schednet.com), PIL mengatakan Heliconia Capital Management milik Temasek merupakan calon investor potensial yang bisa membantu PIL dalam melunasi pinjaman serta bunganya dari 15 kreditur yang jatuh tempo pada akhir tahun ini. Salah satu dari 15 kreditur tersebut adalah anak usaha Temasek.

“Kendati perusahaan sudah melakukan upaya-upaya terbaik, namun pandemi covid-19 telah menyebabkan perusahaan semakin terpuruk,” kata PIL sebagaimana dikutip schednet.com.

Menurut Alphaliner, dalam beberapa tahun terakhir, kinerja keuangan PIL memang selalu negatif.

Wall Street Journal melaporkan PIL merupakan bagian dari rentetan perusahaan pelayaran yang meminta sokongan dana segar dari negara untuk bisa bertahan karena dampak dari virus corona.

Sebelumnya, dua perusahaan pelayaran raksasa global yakni CMA CGM (Perancis) dan HMM (Korea Selatan) juga meminta sokongan dana dari pemerintah masing-masing. Menurut laporan Wall Street Journal, CMA CGM mendapatkan pinjaman sebesar US$1,12 miliar atas jaminan Pemerintah Perancis dan HMM mendapatakn dana segar sebesar $600 juta dari perusahaan negara di mana perusahaan tersebut sudah menguasai 74% saham HMM.

Saat ini, industri perusahaan pelayaran container sedang tertekan karena market yang sedang lesu sebagai dampak dari merebaknya pandemi covid-19. Hampir semua perusahaan pelayaran menangguhkan kurang lebih 25% service-nya agar tarif angkut (freight rate) tetap stabil. Namun, langkah ini tidak sepenuhnya menghindarkan mereka dari potensi krisis finansial.

Apalagi, untuk kasus PIL. Sebelum terjadinya pandemi ini, rapor keuangan perusahaan sudah merah. Pada tahun 2018, total kerugian PIL mencapai $203 juta, meningkat dari $141 juta pada tahun sebelumnya (2017). Ini merupakan salah satu kinerja keuangan terburuk dari perusahaan pelayaran yang bergerak dalam industri container shipping

Utang PIL pun menumpuk. Hingga Juni tahun lalu, total utang perusahaan ini mencapai $1,89 miliar. Kendati tidak dirinci berapa dana yang dibutuhkan PIL dari Heliconia, namun diperkirakan dana segar tersebut diperuntukkan untuk pelunasan utang tersebut. Juga, PIL butuh dana segar untuk membayar sewa kapal yang jumlahnya diperkirakan mencapai puluhan juta dollar.

Saat ini, disamping 65 kapal milik sendiri, PIL juga sewa 45 kapal untuk mendukung bisnisnya. Namun, jumlah kapal PIL diperkirakan sudah berkurang. Pada bulan Maret, berbarengan dengan pemberhentian layanannya pada rute trans-Pasifik, PIL menjual sejumlah kapalnya.

Jika negosiasi ini berhasil, Temasek akan kembali bermain di sektor shipping setelah melepaskan perusahaan pelayaran Neptune Orient Lines (NOL) ke CMA CGM. Sebagaimana diketahui, pada tahun 2015, Temasek menjual NOL dengan nilai $2,4 miliar kepada CMA CGM.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *