Operasional Sejumlah Pelabuhan Besar China Berangsur Normal

By: Harijanto, Executive Director of Himpunan Masyarakat Peduli Maritim (Editor: Damas Jati)

 

Operasional beberapa pelabuhan besar di China sudah mulai menunjukkan tanda-tanda normal. Menurut data yang dikeluarkan Lloyd’s List Intelligence, total kunjungan kapal (shipcalls) ke Shanghai dan Yangshan pada minggu ke-10 (2020) jumlahnya hampir sama dengan total kunjungan kapal pada periode yang sama tahun lalu.

Menurut data Lloyd’s List Intelligence, total shipcalls pada dua pelabuhan tersebut selama minggu ke-10 mencapai 393 unit, hampir sama dengan 394 kunjungan pada minggu yang sama tahun lalu.

Hal yang sama diungkapkan Shanghai International Shipping Institute (SISI). “Titik balik telah tiba. Kita melihat bahwa stagnasi di pelabuhan telah mereda dan logistik mulai hidup kembali,” kata Xu Kai, Direktur Informasi Research Institute SISI.

Kota Ningbo adalah termasuk wilayah Zhoushan, memiliki 24.000 sopir truk petikemas yang terdaftar, 95 persen di antaranya berasal dari wilayah lain, dari jumlah tersebut hanya 800 sopir truk yang bekerja pada 12 Februari dan itu tidak cukup untuk menangani throughput normal pelabuhan menurut otoritas Pelabuhan Ningbo-Zhoushan.

Saat ini sudah hampir 7.000 pengemudi truk telah kembali bekerja pada hari Jumat lalu. Dan hasilnya adanya peningkatan throughput yang melonjak mencapai 13.235 (20’) pada hari sabtu, dibandingkan hanya lima TEUs enam hari sebelumnya, menurut data SISI. Saat ini memang dibandingkan tahun 2019 peningkatan pelayanan bongkar muat petikemas masih dibawah rata rata throughput harian sebesar 75.000 TEUs

“Namun demikian, kami melihat bahwa peningkatan ini mengisyaratkan pelabuhan di seluruh Tiongkok sudah kembali berjalan normal,” kata seorang manajer di pelabuhan Yingkou di provinsi timur laut Liaoning.

Selama merebaknya covid-19 yang memaksa sejumlah wilayah di China melakukan lockdown, sejumlah Pelabuhan petikemas di China terlihat kosong. Dari penumpukan petikemas di dermaga, para pekerja tidak bekerja disebabkan ketakutan akan penyebaran Virus Corona. Wabah Virus Corona, yang berasal dari kota Wuhan, sebuah hub logistik pedalaman di Provinsi Hubei, telah menewaskan lebih dari 2.700 orang dan yang terinfeksi lebih dari 78.000 orang diseluruh daratan Tiongkok, dan menyebabkan stagnasi dipelabuhan secara besar-besaran karena kekurangan tenaga kerja yang disebabkan oleh penutupan kota kota di seluruh Tiongkok.

China adalah pengendali kargo petikemas terbesar dengan kontribusi  sekitar 30 persen dari lalu lintas global atau sekitar 715.000 petikemas sehari di tahun 2019. Lockdown Pemerintah Tiongkok terhadap penyebaran virus corona dinegerinya berdampak rantai pasokan seperti komponen mesin, komponen teknologi, makanan dlsb terhenti. Rata rata waktu tunggu kapal petikemas di Zhoushan China Selatan yaitu pelabuhan petikemas terbesar ketiga di dunia lebih dari 60 jam pada minggu kedua bulan Februari, hal ini terutama disebabkan kekurangan tenaga kerja. Waktu tersebut 15 jam lebih lama dari seminggu sebelum hari raya imlek, dan hampir 20 jam lebih lama dibandingkan awal Januari sebelum pemberlakuan lockdown, menurut data Shanghai International Shipping Institute (SISI). Saat ini waktu perputaran di Zhoushan dan pelabuhan lain di China mulai meningkat, hal ini disebabkan para operator Crane, petugas bea cukai, petugas kapal tunda pilot, supir truk dan link logistik sudah kembali bekerja.

Sebelumnya, CEO CMA CGM Rodolphe Saadé, memprediksi pengiriman dari China akan kembali normal pada akhir bulan ini (Maret). Perkiraan tersebut didasarkan pada mulai dibukanya kembali aktivitas industri di China dan adanya kekosongan stok barang baik di Eropa, Amerika, maupun negara-negara lainnya.

 CMA CGM merupakan salah satu pelayaran global yang juga turut terkena dampak dari coronavirus yang melanda China dan kemudian menyebar ke sebagian besar negara di dunia. Dari total 500 kapal yang dioperasikan CMA CGM di seluruh dunia, terdapat 19 kapal yang terpaksa tidak berlayar sebagai dampak dari virus tersebut.

“Gudang-gudang di Eropa sudah mulai kosong. Diperlukan pasokan baru dari China untuk memenuhi berbagai kebutuhan di Eropa. Apalagi saat ini 80% industri di China sudah beroperasi kembali. Kami harap pada akhir Maret semuanya akan kembali normal,” kata Saadé sebagaimana dikutip The Financial Times.

Kendati demikian, Saadé mengingatkan terjadinya pergeseran economic shock dari China ke Eropa dan negara-negara lain di luar China.

“Saat ini kita semua sudah paham bahwa ini sudah menjadi krisis global. Di Eropa, ketakutan terhadap coronavirus begitu tinggi. Ini akan berdampak pada aktivitas ekonomi,” katanya.

Saadé menjelaskan aktivitas ekonomi baik di Amerika maupun Eropa saat ini sangat membutuhkan pasokan bahan dari China.

Impor China ke Amerika, khususnya Pelabuhan Los Angeles dan Long Beach yang turun drastis pada Februari, diperkirakan akan kembali naik, menyusul rencana sejumlah pelayaran untuk mendatangkan call baru kapal yang lebih besar. Maersk dan MSC sudah menambahkan call baru termasuk MSC Mia yang berkapasitas 23,756 TEU, terutama untuk mengangkut empty container yang menumpuk di dua pelabuhana AS tersebut.

Source: Kompilasi sejumlah sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *