Optimalisasi Pelabuhan Cirebon: Pengembangan Gudang Batubara Sangat Potensial

Kegiatan batubara memang sangat menarik dan tentu menggiurkan. Sebuah aktivitas bisnis  sangat menguntungkan. Di beberapa pulau di Indonesia seperti Kalimantan dan Sumatera, komoditi ini menjadi unggulan bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD). Sejumlah perusahaan negara (BUMN) serta swasta juga menjadikan batubara sebagai core business. Sebut saja PT Kaltim Prima Coal dengan nilai sebesar Rp 6,5 triliun, PT Adaro Indonesia dengan bilai Rp 5,0 triliun, PT Kideco Jaya Agung sebesar Rp 3,3 triliun dan PT Bukit Asam, Tbk Rp.2,1 triliun, dan lain-lain.

Bagi negara, ini juga merupakan sebuah sumber pendapatan yang sangat besar yang didapat baik melalui pajak, penerimaan negara bukan pajak (PNBP), maupun setoran deviden yang didapat dari beberapa BUMN dalam sektor ini.

Bahkan, tidak hanya bagi perushaan dengan core business batubara. Sektor ini juga menciptakan peluang bisnis bagi sektor lain. Sebut saja transportasi baik darat maupun laut, usahan bongkar muat, gudang, penumpukan, dan tentu saja pelabuhan sebagai simpul utama aktivitas bongkar dan distribusi.

Cirebon adalah salah satu pelabuhan yang sudah lama berkecimpung dengan komoditas ini. Memang bukan salah satu dari perusahaan besar batubara tersebut, namun pelabuhan Cirebon adalah mata rangkai pendistribusian batubara di wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Sebagai mata rantai pendistribusian batubara, pelabuhan Cirebon mempunyai peran penting baik sebagai regulator maupun sebagai operator dalam mengamankan pasokan batubara untuk kebutuhan industri tekstil dan semen di Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Pelabuhan Cirebon saat ini telah menangani 20 perusahaan batubara: yakni;

  1. PT.Berdikari Inti Mandiri
  2. PT.CentraL Batubara Nusantara
  3. PT.Mitra Bara Abadi
  4. PT.GBU
  5. PT.TerminaL Batubara Indah
  6. PT.Corona Indo Bara
  7. PT.Kalco Indonesia
  8. PT.Lumbung Jaya International
  9. PT.Transindo Perkasa Prima
  10. PT.PeLangi Berjaya Utama
  11. PT.Cakra Nusa
  12. PT.Multi Mekar Lestari
  13. PT.Bara Anugerah Tri Tunggal
  14. PT.Sumber Energi Globalindo
  15. PT.Diantama Cipta Sejahtera
  16. PT.Sudan Prima Coal
  17. PT.Satya Coalindo
  18. PT.Dewa Sutratex
  19. PT.ALuna Kusumah Lestari
  20. PT.Barindo Sumber Energi

Dengan peran strategisnya, pelabuhan Cirebon dapat memainkan perannya lebih jauh lagi didalam bisnis batubara. Peran ini dibutuhkan pelabuhan Cirebon guna lebih menata kembali aspek operasional dengan mereview skema operasional yang ada saat ini untuk dapat evaluasi dan dapat dijadikan improvement baik dari kinerja pelayanan maupun kinerja keuangan untuk dapat ditingkatkan lebih baik lagi.

Saat ini, dalam melaksanakan bongkar muat batubara, pelabuhan Cirebon boleh dikatakan belum maksimal. Gudang Muara Jati untuk kegiatan penumpukan batubara misalnya belum dioptimalkan dalam menangkap peluang. Padahal, hampir 80% batubara yang diangkut oleh truck tidak langsung ke Bandung atau Cilacap melainkan mampir dulu ke stock pile di Nember Kanci dan Palimanan.

Stockpile daerah Kanci ada 10 perusahaan yaitu Aldika, DPS, MBA, AKL, GBU, Kalco, KKW, TCP, TBI dan BIM. Sedangkan stockpile di Palimanan ada 2 perusahaan yaitu IC dan Citra. Adapun pemilik stockpile dan sekaligus sebagai pengusaha batubara ada 6 perusahaan yaitu MBA, AKL, GBU, Kalco, TBI dan BIM.

Bagi pelabuhan Cirebon, sebenarnya hal ini peluang sangat bagus baik itu dalam rangka peningkatan pendapatan maupun untuk mengalihkan kegiatan di stockpile ke Gudang penumpukan di pelabuhan. Karena selama ini pengusaha batubara mengangkut batubara dari pelabuhan ke stockpile menggunakan truck kapasitas muatan 25 ton dengan tarif Ro.12 ribu per ton dengan jarak 10 km dari pelabuhan ke Kanci dan Palimanan. Ditambah juga dengan biaya penumpukan di stockpile Rp.5000 per ton per tiga puluh hari.

Penyediaan gudang penumpukan di dalam pelabuhan tentu akan mengurangi beban biaya pungusaha batubara. Dengan demikian, secara otomatis dapat menekan biaya distribusi logistik dan ikut berperan aktif dalam mengurangi beban jalan dan biaya perawatan jalan yang ditanggung pemerintah.

Butuh Gudang Baru

Untuk menangkap peluang ini, pelabuhan Cirebon perlu membangun beberapa gudang baru untuk penumpukan batubara yaitu seperti di depan dermaga muara jati II dan di ex. lapangan penumpukan TBI (Terminal Batubara Indah). Kedua lokasi tersebut memungkinkan untuk dibangun gudang penumpukan dan dalam rangka mengoptimalkan aset yang tidak produktif pelabuhan Cirebon.

Untuk menangkap dan menarik pasar dalam rangka pengalihan skema bisnis dari stockpile ke gudang pelabuhan, tarif yang diberlakukan harus lebih rendah dari biaya yang dikeluarkan pengusaha batubara saat ini meliputi tarif pengangkutan Rp.12.000 ditambah tarif penumpukan Rp.5000 total Rp.17.000 per ton.

Pelabuhan Cirebon dapat memberlakukan tarif dibawah dari Rp.17.000 misalnya Rp.10.000 per ton ditahap awal, dengan pertimbangan bahwa pelabuhan Cirebon juga mendapatkan tambahan dari pendapatan corgodoring sebesar Rp.4.400 per ton dan penggunaan alat digudang sebesar Rp.3.800 per ton. Total pendapatan pelabuhan Cirebon dari kegiatan gudang penumpukan sebesar Rp.18.200 per ton.

Secara existing, gudang yang ada yaitu muara jati I seluas 4000 meter saat ini diperuntukan hanya untuk kegiatan penumpukan batubara dari kapal-kapal tongkang yang tidak dapat menyelesaikan waktu bongkaran 2,5 etmal. Ketika kapal tongkang diperkirakan tidak dapat menyelesaikan bongkarannya tepat pada waktunya (2,5 hari) maka untuk tidak menghambat antrian kapal selanjutnya, baru batubara tersebut ditumpuk di gudang muara jati I.

Pembangunan gudang penumpukan baru di pelabuhan Cirebon selain untuk meningkatkan pendapatan pelabuhan Cirebon juga untuk mengoptimalkan aset yang tidak produktif seperti ex. lapangan penumpukan TBI serta penataan aspek operasional khususnya truck truck yang saat ini masih mengantri disepanjang dermaga menunggu muatan batubara dari tongkang.

Pembangunan gudang penumpukan untuk kegiatan penimbunan batubara ini juga nantinya dapat disinergikan dan sesuaikan dengan rencana induk PT. Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasi III Cirebon untuk melakukan pengangkutan batu bara dari dermaga pelabuhan Cirebon ke Bandung dan Cilacap.

Perlu diketahui bahwa KAI berencana untuk melaksanakan pengangkutan batu bara dari dermaga pelabuhan Cirebon ke Bandung dan Cilacap. KAI secara infrastruktur telah siap merealisasikan pengangkutan batu bara dari dermaga pelabuhan Cirebon ke Bandung dan Cilacap.

Kesiapan itu dapat dilihat dari telah dioperasikannya track jalur ganda dan telah tersedianya lokomotif dan gerbong yang cukup untuk pengangkutan batu bara serta sedang dibangunnya shortcut. Shortcut adalah pemotong rute lebih pendek dari saat ini rute Cirebon-Bandung sejauh kurang lebih 206 km dengan harus melewati stasiun Tanjungrasa-Cikampek-Cibungur terlebih terdahulu.

Dengan adanya shortcut ini akan memperpendek waktu dan jarak tempuh angkutan KA Cirebon-Bandung, memperpendek jarak hingga 25 km, karena sudah tidak harus melalui Cikampek dahulu untuk melakukan langsir (pindah lokomotif) sebelum melanjutkan perjalanan kembali ke Bandung. Dengan adanya pembangunan short cut Tanjungrasa-Cibungur, juga akan menghemat waktu tempuh kurang lebih 45 menit.

Pembangunan short cut ini juga melibatkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Saat ini, Pemprov Jabar tengah merampungkan pembebasan lahan untuk jalur short cut Tanjungrasa-Cibungur sejauh kurang lebih 10 km. Sedangkan dari Kemenhub sudah membangun sepur simpangnya (bagian jalur kereta api berkecepatan rendah yang bercabang dari jalur utama.

Jalur ini dapat terhubung ke sepur utama atau dapat bercabang lagi di kedua ujungnya. Berat sepur simpang relatif ringan, dimaksudkan untuk kecepatan yang lebih rendah berguna dalam sistem persinyalan) sejauh 6 km.

Tujuan pembangunan short cut ini selain untuk angkutan barang yang tidak hanya batubara tetapi juga komoditi yang lain dan juga digunakan untuk kereta penumpang.

Harijanto, Direktur Eksekutif HMPM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *