Sekarang, Bukan Waktu yang Tepat untuk Order Kapal Baru

Permintaan (order) terhadap pembangunan kapal kontener baru saat ini lagi dalam kondisi lesu. Naiknya freight rate (tarif angkuatan kontener) yang cukup fantasis dalam beberapa bulan terakhir ternyata tidak berdampak pada permintaan pembangunan kapal baru.

Disamping karena strategi jangka pendek dalam upaya membatasi kapasitas yang dilakukan oleh industri pelayaran di tengah kondisi volume muatan yang tidak menentu, ketidakpastian soal pemulihan ekonomi ke depan, munculnya sejumlah regulasi baru, terutama aturan yang terkait lingkungan hidup, serta perkembangan teknologi yang begitu cepat, mendorong hampir semua perusahaan pelayaran ataupun perusahaan leasing kapal untuk menunda oder pembangunan kapal baru.

Sejumlah narasumber dalam forum diskusi virtual – New York Maritime Forum yang dilakukan pada pertengahan bulan ini (Kamis, 15/10), mengatakan, perusahaan pelayaran lebih memilih untuk mencarter atau membeli kapal bekas dibanding memesan pembangunan kapal baru.

“Dalam dua hingga tiga bulan ke depan, ketidakpastian pasar masih berlanjut. Dalam situasi seperti ini, kesepakatan charter kapal akan meningkat, sementara order kapal baru sangat kecil,” kata Jerry Kalogiratos, CEO Capital Product Partners yang memiliki 13 kapal kontener untuk disewakan, sebagaimana ditulis hellenicshippingnews.com.

“Saat ini, nilai order kapal mencapai titik terendeh,” lanjut Jerry.

George Youroukos, Executive Chairman Global Ship Lease, sebuah perusahaan kapal charter yang memiliki 43 unit kapal kontener, mengamini kondisi tersebut. George menggarisbawahi, rendahnya permintaan pembangunan kapal baru sebagai konsekwensi logis dari strategi perusahaan pelayaran yang berupaya untuk mengontol kapasitas agar tariff (freight rate) tetap terjaga tinggi.

“Ketika perusahaan pelayaran berupaya untuk meningkatkan pendapatan dengan cara mengontrol atau membatasi kapasitas, maka permintaan untuk pembangunan kapal baru tidak akan terjadi. Dengan tidak adanya kapal baru, mereka (perusahaan pelayaran) akan dengan mudah mengontrol kapasitas kapal yang dioperasikan sesuai dengan keinginan,” kata George.

Sementara itu, Evangelos Chatzis, CFO Danaos Corporation, perusahaan charter yang memiliki 63 kapal kontener, menyoroti soal mahalnya biaya pembangunan kapal menyusul adanya aturan baru terkait kewajiban pengurangan emisi karbon. Menurutnya, menyusul dikeluarkannya aturan tersebut, biaya untuk pembangunan kapal baru menjadi lebih mahal.

Di samping itu, menurut Evangelos, kemajuan teknologi yang terus berubah dalam waktu yang relatif singkat, memaksa para pelaku usaha untuk mengambil sikap ‘wait and see.’

“Kemajuan teknologi saat ini merupakan isu yang sangat krusial dalam mengambil sebuah kebijakan. Kita tidak akan berani menghabiskan $100 -150 juta untuk pengadaan kapal di saat market tidak menentu. Sementara, pada 10 tahun lagi, bisa saja teknologi yang dimiliki kapal tersebut sudah ‘out of date’.  Ini tentu sangat merugikan,” jelas Evangelos.

Saat ini, menurut Evangelos, bukan waktu yang tepat untuk order pembangunan kapal baru. “Pilihan paling bijak adalah charter atau membeli kapal bekas yang teknologinya sudah modern,” jelasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *