Virus Corona: Kehilangan Pendapatan Pelayaran Sudah Tembus $1,5 miliar atau Rp 21 Triliun

Foto: Pelabuhan Shanghai, pelabuhan terbesar di dunia dengan kunjungan kapal paling banyak

Hingga saat ini, total kehilangan potensi pendapatan kumulatif perusahaan pelayaran global sebagai efek dari merebaknya virus corona sudah mencapai $1,5 miliar, atau Rp 21 triliun dengan kurs Rp 14,000/dollar.

Menurut Lembaga Research Alphaliner, angka tersebut merujuk pada total kehilangan muatan industri pelayaran sebagai dampak dari pembatalan sejumlah pelayaran (blank sailing).

Sejak Januari hingga 26 Februari, kehilangan volume pelayaran sudah tembus angka 1,7 juta TEUs. Angka tersebut berdasarkan jumlah pembatalan pelayaran mulai tahun baru China (Imlek) serta rendahnya tingkat isian (load factor) sejumlah pelayaran selama merebaknya virus tersebut karena kekurangan volume barang.

“Dengan asumsi freight rate rata-rata sebesar $1,000/TEU, potential loss pendapatan kumulatif sudah melebihi $1,5 miliar. Angka ini akan terus membesar mengingat pembatalan kunjungan kapal ke China akan terus berlanjut,” demikian disampaikan Alphaliner dalam laporan hasil research dan analisisnya pada Rabu, 26 Februari.

Baltic and International Maritime Council (BIMCO) mengingatkan dampak yang lebih serius dari merebaknya coronavirus di China terhadap industri pelayaran dan perdagangan jika bencana tersebut terus berlanjut dan tak teratasi dalam waktu dekat.

Analis BIMCO Peter Sand memaparkan tiga kemungkinan yang akan terjadi dengan dampak yang berbeda terhadap kegitan pengiriman. Pertama, jika China berhasil melakukan pengendalian dalam waktu dekat, aktivitas pabrik-pabrik Cina akan normal pada bulan Maret. Kemungkinan kedua, normalisasi tidak terjadi hingga April; dan ketiga (yang terburuk) virus terus menyebar dengan cara yang tidak mungkin untuk diprediksi atau dianalisis.

Jika kemungkinan pertama yang terjadi, maka dampaknya terhadap aktivitas supply chain global akan relatif kecil. Jika kemungkinan kedua yang terjadi, apalagi kemungkinan ketiga, dampaknya akan lebih serius baik terhadap manufaktur, transportasi, pelayaran, dan kegiatan kepelabuhanan.

“Saat ini berhentinya aktivitas produksi berdampak pada menurunnya volume kontener. Namun jika hal ini terus berlanjut, akan menggangu rantai pasok hingga sampai aktivitas retail,” jelas Sand.

Menurut Sand, merebaknya virus corona telah membuktikan betapa tingkat ketergantungan industri pelayaran terhadap perekonomian China begitu tinggi. Jika aktivitas industry di China berhenti beroperasi, industry pelayaran akan stuck.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *