Akibat Coronavirus, Pelayaran Kehilangan Pendapatan $350 juta Per Minggu

Industri pelayaran diperkirakan mengalami kerugian yang sangat besar sebagai dampak dari wabah coronavirus. Menurut sejumlah lembaga research & Analysis global, total kerugian yang dialami industri ini berkisar antara $300-350 juta per pekan.

Menurut Sea-Intelligence, penutupan pabrik-pabrik di China menyebabkan volume ekspor dari negara tersebut mengalami penurunan secara drastis. Sejumlah pelayaran terpaksa membatalkan jadwal kunjungan kapalnya ke negara tersebut.

Data Sea-Intelligence menunjukkan dalam periode waktu yang sangat singkat selama jeda Tahun Baru Cina, total 31 jadwal kunjungan kapal yang dibatalkan, termasuk dari rute perdagangan transpacific dan rute Asia-Eropa.

Pada rute transpacific, sekitar 21 pelayaran atau setara dengan kapasitas 198.500 TEU telah dibatalkan. Sementara untuk rute Asia-Eropa, tercatat 10 pelayaran dengan total kapasitas 151.000 juga dibatalkan.

“Jadi dalam waktu yang relative singkat, industry pelayaran kehilangan kapasitas total mencapai sekitar 300.000 – 350.000 TEU per minggu. Jika freight rata-rata sekitar USD 1.000 per TEU, berarti industri ini kehilangan pendapatan sebesar $300-350 juta per minggu,” demikian disampaikan SeaIntel.

Drewry, sebuah lembaga research & analysis terkait industry shipping yang berbasis di London, Inggris, juga mengingatkan hal yang sama.

Menurut Drewry, eksportir/importir serta para pelaku usaha sektor perdagangan perlu melakukan antisipasi terhadap dampak dari virus corona yang melanda kota Wuhan di China. Pasalnya, musibah tidak hanya menghentikan kegiatan produksi di negara tersebut tetapi sangat berdampak signifikan terhadap kegiatan pengiriman, logistic, dan shipping.

Di samping adanya kebijakan baik kebijakan pemerintah masing masing negara maupun kebijakan masing-masing perusahaan untuk menghentikan sementara penerbangan ataupun pelayaran dengan China, pemberhentian aktivitas produksi di China juga akan berdampak pada turunnya volume perdagangan lintas negara.

Drewry memaparkan sejumlah fakta yang akan berdampak pada menurunnya aktivitas distribusi barang dari dan ke China, antara lain: tutupnya sejumlah kegiatan produksi sejak perayaan tahun baru China (imlek), pembatalan sejumlah pelayaran dari China ke Eropa dan Amerika, pengurangan jumlah kargo udara yang dilakukan oleh sejumlah airlines.

“Semua fakta tersebut berdampak pada menurunnya aktivitas logistik,” tegas Drewry.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *