Perusahaan riset dan analisis Denmark, Sea-Intelligence, memeriksa peningkatan kemacetan terkait kedua terminal peti kemas, begitu juga kemacetan intermodal terkait terminal, menggunakan pembaruan kemacetan yang diterbitkan oleh HMM dari 16 November 2020 hingga 16 Desember 2021.
Data dibagi menjadi terminal dan intermodal, dan ditandai dengan warna yang berbeda untuk masing-masing terminal tersebut. Yaitu hijau berarti “baik”, kuning berarti “masalah ringan”, dan merah berarti “masalah serius”.
Untuk menghitung kumpulan data, Sea-Intelligence mengubahnya menjadi sistem penilaian, dengan lampu hijau diberi nilai “0”, kuning diberi nilai “1”, dan merah diberi “2”, untuk menghitung nilai total kemacetan terminal dan antarmoda. “Semakin tinggi skornya, semakin banyak masalah yang terlihat,” ujar Alan Murphy, CEO Sea-intelligence.
Sea-intelligence mengatakan bahwa berdasarkan data kemacetan HMM dari 16 November 2020 hingga 16 Desember 2021, tidak ada jaminan bahwa pengalaman perusahaan tertentu secara sempurna mewakili semua perusahaan lain secara global, tetapi sebagai perusahaan global utama dan anggota THE Alliance, harus mencerminkan pasar yang lebih luas secara keseluruhan.
Indeks Kemacetan Terminal untuk Amerika Utara menunjukkan perkembangan di mana kemacetan mencapai puncaknya pada pertengahan September 2021, dan kemudian terdapat peningkatan sementara pada awal Oktober. Bagaimanapun, peningkatan ini dengan cepat mengembalikan kemacetan ke level tertinggi dan berkelanjutan.
Murphy mengatakan, “Meskipun lebih fokus pada masalah kemacetan, dan bertujuan untuk keputusan yang sama, kenyataan yang dialami oleh HMM adalah bahwa masalah kemacetan terminal memburuk di Eropa dan bertahan pada level tinggi sepanjang sejarah di Amerika Utara, tanpa (adanya) indikasi perbaikan. ,” kata Murphy.
Sementara itu, kemacetan intermodal terus memburuk di Amerika Utara dan di Eropa, terdapat pula tanda-tanda sedikit memburuknya situasi baru-baru ini. “Saat kita semakin mendekati perayaan Imlek dalam enam minggu ke depan, sangat mungkin bahwa kondisi ini akan menjadi lebih buruk sebelum sempat menjadi lebih baik,” pungkas CEO Sea-Intelligence.

