Apakah Serangan Rusia ke Ukraina Akan Melemahkan Aktivitas Pabrik Global?
Di tengah varian virus Corona Omicron dengan dampak yang lebih ringan, pada Februari lalu pabrik-pabrik di seluruh dunia mengalami pemulihan yang cepat. Kendati demikian, adanya krisis yang terjadi di Ukraina dengan cepat menyebabkan risiko bagi rantai pasokan dan kemungkinan akan memperburuk tekanan biaya.
Sanksi internasional yang kuat terhadap Rusia dalam menanggapi invasi ke Ukraina telah menyentak pasar dan mendorong naik harga minyak, menambah beban bagi ekonomi dan bisnis yang sudah kewalahan akibat kenaikan biaya masukan.
“Perang di Ukraina merupakan sumber utama ketidakpastian baru,” ungkap Gubernur Reserve Bank of Australia Philip Lowe setelah banknya mempertahankan suku bunga pada rekor rendah.
Rantai pasokan global yang masih belum pulih dari pandemi, kini menghadapi gangguan lebih lanjut dan inflasi biaya akibat penutupan wilayah udara yang memengaruhi industri angkutan udara.
Sementara itu, lonjakan harga komoditas yang disebabkan oleh invasi juga kemungkinan akan menopang inflasi yang sudah mencapai level tertinggi di banyak negara selama bertahun-tahun serta memperumit kebijakan bank sentral karena menyeimbangkan kebutuhan untuk menahan kenaikan harga yang tidak diinginkan dan menopang pertumbuhan.
Analis senior di Fitch Ratings, Pawel Borowski mengungkapkan, “Peningkatan inflasi global yang meluas dan terus-menerus telah menunjukkan sedikit tanda-tanda mencapai puncaknya. Hal ini juga telah menjadi fitur yang bertahan lama dari pemulihan ekonomi di banyak ekonomi utama, mengubah prospek kebijakan moneter.”
Jajak pendapat February Reuters memperkirakan pada 17 Maret mendatang Bank of England akan menaikkan suku bunga lagi disusul oleh European Central Bank (ECB) akan menaikkan suku bunga depositonya pada paruh kedua tahun ini, tidak menunggu sampai 2023 seperti yang diharapkan sebelumnya.
ECB akan mempublikasikan proyeksi staf terbaru untuk pertumbuhan dan inflasi pada 10 Maret mendatang dan secara luas diperkirakan akan mengangkat perkiraan kenaikan harga. Inflasi di blok tersebut mencapai rekor tertinggi bulan lalu yaitu sebesar 5,4%, data resmi awal diperkirakan akan ditampilkan pada hari Rabu, kemungkinan menambah tekanan pada European Central Bank untuk memperketat kebijakan.
“Pada inflasi, kami mengharapkan revisi yang besar hingga 2022,” ujar ekonom di JP Morgan.
FEBRUARI KUAT
Sementara konflik di Ukraina menimbulkan resiko besar bagi ekonomi global, indikator dari Februari menunjukkan kondisi yang kuat menjelang eskalasi signifikan dalam krisis.
Sebagian besar data Eropa dikumpulkan sebelum invasi Rusia namun Indeks Manajer Pembelian Februari IHS Markit menunjukkan kendati momentum pertumbuhan manufaktur zona euro sedikit berkurang, namun aktivitas bulan lalu masih kuat karena permintaan naik pada laju tercepat dalam enam bulan. [EUR/PMIM]
IHS Markit mengungkapkan, sejak bulan Juli lalu produksi pabrik Inggris tumbuh pada tingkat tercepat di bulan Februari lalu.
Survei pada pabrik China, baik sektor negeri maupun swasta menunjukkan aktivitas di wilayah ekspansif, menunjukkan ketahanan di ekonomi terbesar kedua di dunia itu meskipun ada tekanan biaya. Kendati mengalami peningkatan, namun PMI resmi China tetap jauh di bawah rata-rata pra-pandemi, ungkap Julian Evans-Pritchard, seorang ekonom senior China di Capital Economics. “Hasilnya adalah ekonomi China tampaknya telah berjuang untuk mendapatkan momentum sepanjang tahun ini,” tambahnya.
Pertumbuhan aktivitas pabrik Jepang melambat ke level terendah sejak lima bulan pada Februari lalu akibat berlanjutnya pembatasan COVID-19 dan meningkatnya biaya masukan. Pertumbuhan aktivitas juga melambat di Taiwan dan Indonesia.
“Pukulan paling langsung dari krisis akan datang dari kenaikan harga minyak, yang akan memberikan pukulan telak bagi banyak ekonomi Asia,” ungkap Toru Nishihama, kepala ekonom di Dai-ichi Life Research Institute di Tokyo.
“Rusia merupakan eksportir besar gas, logam langka, dan barang-barang lain yang penting dalam produksi chip. Hal itu berarti krisis dapat memperburuk gangguan rantai pasokan, yang akan menjadi berita buruk bagi negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan.”

