Kelangkaan kontainer yang menjadi masalah utama tahun lalu dinilai sudah selesai, kendati permintaan tetap tinggi, bahkan semakin tinggi. Hal tersebut terjadi menyusul masuknya jutaan kontianer box yang diproduksi tahun lalu ke pasar.
Beberapa perusahaan penyewa peti kemas (lessor) terkemuka melaporkan bahwa peningkatan produksi peti kemas telah mengurangi beberapa kendala rantai pasok yang terjadi sejak tahun lalu. Kendati pasokan diperkirakan akan memenuhi permintaan tahun ini, namun pasar peti kemas terpantau tetap padat.
“Kami memperkirakan pasokan peti kemas akan lebih sesuai dengan permintaan pada tahun 2022 karena adanya peningkatan volume produksi peti kemas baru, dan harga peti kemas baru berkurang lebih dari 10% dibandingkan dengan harga tertingginya menjadi sekitar USD 3.400 per 20’dry container. Kendati demikian, harga peti kemas baru tetap jauh berada di atas kisaran catatan harga normal, dan tingkat sewa pasar serta harga jual peti kemas bekas juga tetap sangat tinggi,” ujar Brian Sondey, CEO Triton International, setelah rilis hasil tahunan perusahaan.
Sondey menambahkan bahwa sementara ekonomi global masih pada ketidakpastian yang meningkat karena pandemi COVID-19, perusahaan mengharapkan permintaan peti kemas secara keseluruhan tetap kuat sepanjang tahun. “Pelanggan kami mengantisipasi tetap tingginya konsumsi barang dan volume perdagangan, dan menurut mereka tantangan operasional memperlambat perputaran waktu peti kemas masih akan sulit terselesaikan,” katanya.
Hal yang sama disampaikan CEO Textainer Olivier Ghesquiere. Menurutnya, kendati lessor melihat ada penurunan sewa container tahun ini, namun kebutuhannya tetap tumbuh. “Karena volume perdagangan tetap meningkat, pelayaran terus meningkatkan kapasitas mereka. Kebutuhan peti kemas tambahan juga tetap tinggi,” ujar Ghesquiere.
Ghesquiere menambahkan bahwa dampak dari COVID-19 juga terus mempengaruhi pasar secara keseluruhan. Rantai pasok juga masih terganggu dan kebutuhan peti kemas tambahan permintaan juga tetap tumbuh.
Triton dan Textainer merupakan lessor peti kemas barang antarmoda terbesar di dunia, dengan armada peti kemas masing-masing 7,3 juta TEUs dan 4,3 juta TEUs. Kedua perusahaan melaporkan pendapatan setahun penuh yang mengesankan didorong oleh kenaikan harga sewa karena krisis kekurangan peti kemas.
Pada tahun 2021, produksi peti kemas baru mencatat rekor tertinggi. Harga juga mencatat rekor tertinggi, baik harga untuk produski baru maupun harga sewa.
Data Lembaga Research Drewry menunjukkan bahwa tarif sewa peti kemas telah melonjak begitu signifikan tahun lalu (2021). Ini merupakan nilai tertinggi sejak Drewry mulai memantau harga peralatan peti kemas sejak tahun 1998.
Perusahaan lessor merupakan pemesan utama pengadaan peti kemas tahun lalu, mencapai 5,2 juta TEUs, atau sekitar 67% dari total produksi.

