Skip to content

Shanghai Lockdown, Ekonomi Terguncang Akibat Kebijakan Nol-Covid

Dari pabrik giga Tesla hingga resor Disney yang besar, banyak perusahaan multinasional China berpijak di Shanghai. Namun dalam beberapa hari terakhir pusat perekonomian yang biasanya ramai itu terhenti setelah terjadi lonjakan kasus virus corona.

Dengan sedikit pemberitahuan, para pejabat pemerintahan China memberlakukan lockdown pada lebih dari 26 juta penduduk kota itu. Pembatasan, yang dimulai sebagai lockdown dua tahap minggu lalu, kini telah diperluas untuk membatasi hampir semua penduduk di rumah mereka.

Get Free Latest Magazine by Join Our Weekly Newsletter:Click here to join free weekly newsletter

Putaran karantina terakhir merupakan yang terbesar di China sejak wabah virus corona pertama kali diidentifikasi di Wuhan pada akhir tahun 2019 lalu.

Lockdown ini bisa sangat menyebabkan kerugian bagi pusat ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut.

Selain menjadi fokus utama industri keuangan, Shanghai merupakan pusat semikonduktor, elektronik, dan manufaktur mobil serta merupakan pelabuhan pengiriman tersibuk di dunia.

Xu Tianchen, ekonom China untuk Economist Intelligence Unit mengatakan gangguan rantai pasokan jangka pendek akan berdampak pada ekonomi China secara keseluruhan. “Juga akan ada efek riak di tempat lain karena keterkaitan antara Shanghai dan wilayah lain di China, terutama pusat manufaktur Delta Sungai Yangtze,” ungkapnya.

Pada tingkat yang lebih lokal, kota yang terkenal dengan etalase kelas atas seperti Gucci dan Louis Vuitton telah mengalami penurunan belanja konsumen.

Xu juga mengungkapkan bahwa lockdown ini berdampak pada bisnis retail, hotel, dan restoran yang dapat membebani Shanghai sebesar 3,7% dari Produk Domestik Bruto (PDB) tahunannya. 

 

Target pertumbuhan China

Pemerintah China telah menetapkan target PDB negara itu tumbuh sebesar 5,5% di tahun ini.

Pada akhir pekan lalu, data menunjukkan perlambatan di bulan Maret dalam sektor manufaktur dan jasa China. Hal tersebut terjadi setelah pusat teknologi Shenzhen dan Jilin di timur laut industri China bulan lalu juga menghadapi lockdown sehingga para pejabat dapat melakukan pengujian virus corona massal dan mencoba untuk menekan penyebaran Covid-19 varian Omnicron yang sangat menular.

“Kami telah melihat data PMI, yang menunjukkan bahwa sektor manufaktur dan jasa benar-benar dirugikan. Dan itu belum termasuk lockdown Shanghai. Jadi saya pikir secara kualitatif kita melihat lebih banyak penurunan untuk data PDB kuartal pertama dan kedua,” menurut Peiqian Liu, ekonom China untuk NatWest Markets.

Dengan jumlah kasus virus corona yang meningkat, mungkin ada lebih banyak masalah di depan jika ada lockdown lebih lanjut, terutama untuk pemilik usaha kecil. “Fokusnya lebih pada bagaimana pekerjaan akan bertahan dalam lockdown yang berkepanjangan yang menyebabkan semakin panjangnya ketidakpastian akibat wabah tersebut. “Jadi saya pikir sektor jasa tidak hanya menghadapi tekanan jangka pendek akibat tiga minggu lockdown dari Shenzhen atau satu minggu lockdown dari Shanghai, tetapi juga menghadapi lebih banyak tekanan dari ketidakpastian yang akan terjadi dengan kondisi terkini kebijakan manajemen Covid,” ungkap Liu.

‘Kehidupan Closed-loop’

Sementara beberapa perusahaan di Shanghai telah memutuskan untuk tutup selama lockdown, yang lain di industri seperti layanan keuangan dan manufaktur mobil telah menerapkan apa yang disebut sistem “closed-loop”, ungkap Ms Liu.

Pada dasarnya, ini berarti bahwa karyawan harus hidup dan bekerja di kantor atau pabrik mereka.

“Bayangkan apa yang terjadi di Olimpiade Musim Dingin. Hal tersebut juga merupakan manajemen ‘closed-loop’, hanya untuk memastikan bahwa operasional hal-hal yang berkaitan berfungsi normal dan bahwa mereka mengisolasi orang dari luar atau dari seluruh China.”

Namun, Xu menunjukkan bahwa itu bukan strategi yang dapat dipertahankan dalam jangka panjang.

“Ada kekhawatiran jika penguncian berlangsung lama dan gangguan pada transportasi ke rantai pasokan berlanjut, bisnis tidak akan dapat memperoleh pasokan. Jadi mereka berdampak pada transportasi jalan. Risiko yang jelas adalah Shanghai gagal menghilangkan wabah saat ini dengan cepat, ” ungkap Xu.

Akankah Beijing tetap pada rencana tersebut?

Kendati sebagian besar negara lain di dunia membuka perbatasan dan melonggarkan pembatasan, namun China tampaknya masih tidak mungkin beralih dari pendekatan ketatnya terhadap virus corona.

“Kebijakan tersebut telah menjadi sumber legitimasi politik. Rendahnya tingkat infeksi dan kematian di China sering dibandingkan dengan negara lain di media domestik. Akibatnya, mayoritas penduduk di China masih mendukung kebijakan nol-Covid, meskipun biaya ekonomi meningkat,” ungkap Xu.

Kendati demikian, Ms Liu percaya ada kemungkinan hikmahnya karena Beijing telah berjanji untuk mendukung ekonomi untuk memenuhi target pertumbuhannya yang ambisius.

Join Telegram Group Shipping & Logistics:

“Pemerintah telah responsif dengan serangkaian kebijakan pelonggaran baik dari sisi fiskal maupun moneter. Hal itu diharapkan akan menstabilkan momentum pertumbuhan domestik untuk saat ini, dan untuk memastikan kelancaran rantai pasokan China untuk meminimalkan gangguan global rantai pasokan dalam jangka pendek ini,” ujarnya.