Pasca Liburan Tahun Baru China, tariff premium (all-inclusive), untuk rute Asia-Amerika cukup variatif, ada yang stabil dan ada yang turun. Per 11 Februari lalu, rute Asia (China) – AS tercatat relative stabil, sedangkan Asia Tenggara – AS cendrung turun.
Namun, pelaku pasar melihat adanya potensi peningkatan pada akhir Februari dan Maret. Sebuah sumber mengatakan, kendati secara umum, kemacetan pelabuhan di AS sedikit menurun, namun ketersediaan rolled cargoes di terminal bongkar muat Asia Utara melonjak dikarenakan operator memprioritaskan kargo premium, yang akan memberi tekanan baru pada kapasitas yang tersedia.
Perwakilan dari salah satu operator AS mengungkapkan bahwa, “Saya mengantisipasi adanya peningkatan pada bulan Maret karena roll pool yang besar. Terdapat sedikit strategi selain mencoba menghilangkan roll pool, hanya ada banyak kapal dan feeder yang hanya dapat menampung banyak peti kemas. Selain itu, biaya tambahan ketidakseimbangan bahan bakar dan peralatan kemungkinan akan diberlakukan dalam beberapa minggu mendatang.
Sedangkan hasil pantauan S&P Global Platts, tariff premium pekan lalu Asia (China) – AS (USWC) sekitar USD 12.000/FEU – 2.500/FEU. Tetapi, ada beberapa yang masih menawarkan harga pada level USD 14.000/FEU. Beberapa freight forwarder di China mengungkapkan nilai tersebut akan kembali menguat.
Asia Tenggara ke AS melemah
Hingga 11 Februari lalu, tarif premium all-inclusive untuk jalur perdagangan Asia Tenggara-Amerika Utara melemah di tengah melambatnya masa liburan. Tarif premium all-inclusive pada rute perdagangan Asia Tenggara-Pantai Timur Amerika terpantau sebesar USD 16.000-USD 20.000/FEU, sedikit lebih rendah dari seminggu yang lalu. Untuk rute Pantai Barat, tarif tetap berkisar antara USD 13.000-USD 17.000/FEU, sebagian besar tidak berubah dari minggu lalu.
Seorang sumber di Singapura mengungkapkan bahwa ada pelayaran yang mematok rate Singapura-Savannah sebesar USD 12.000/FEU. Nilainya jauh lebih rendah dari harga pasar, namun juga sangat jarang. Penawaran tersebut dilakukan oleh ZIM. Kemungkinan mereka memiliki banyak space kosong yang sangat mereka butuhkan untuk diisi, jika tidak, tarif tersebut tidak realistis untuk situasi saat ini.”
Seorang sumber di India mengungkapkan, “Tarif diperkirakan akan tetap kuat sepanjang tahun 2022 karena permintaan yang kuat dari AS dan masalah kemacetan di pelabuhan-pelabuhan utama. Saya tidak melihat jeda dalam situasi apapun baik di kuartal ketiga bahkan di kuarter keempat.”
Kekuatan volume jalur AS telah memperburuk ketersediaan peralatan di wilayah lain karena tidak hanya operator yang mengalihkan kapasitas dari rute jarak pendek, namun mereka juga memulai pengadaan kapal kecil dan kapal feeder untuk jarak jauh, terutama Asia-Eropa, ungkap salah satu freight forwarder di India.
“Tarif dari India ke AS telah meningkat hampir 40% dalam satu bulan menjadi USD 14.000/FEU, bahkan untuk India-Timur Tengah, sentimen berubah menjadi bullish, dengan kenaikan harga diperkirakan akan terjadi dalam beberapa hari mendatang,” ungkapnya.

