Volume perdagangan batubara pada Januari di Asia mengalami penurunan. Kendati permintaan Korea dan Jepang tetap naik, namun permintaan dua negara konsumer terbesar batubara – China dan India – mengalami penurunan. Hal ini berimbas pada penurunan volume secara kumulatif.
Menurut data analis perdagangan Kpler, total impor batubara beberapa negara Asia pada bulan Januari mencapai 77.65 juta metrik ton, turun 5% dari bulan sebelumnya (Desember 2023) yang mencapai 81,8 juta ton (rekor tertinggi dalam sejarah). Kendati demikian, impor pada bulan Januari tetap menduduki posisi ke-4 sebagai rekor tertinggi dalam impor bulanan.
Impor batubara (termal) China pada bulan Januari turun menjadi 27,92 juta ton dari angka rekor tertinggi pada bulan Desember sebesar sebesar 31.59 juta ton, namun masih lebih tinggi 34% dibanding impor pada bulan Januari 2023 yang mencapai 20.86 juta ton.
Tingginya permintaan impor China didorong oleh kuatnya permintaan pembangkit listrik tenaga panas di tengah rendahnya produksi pembangkit listrik tenaga air, serta harga yang lebih kompetitif dibandingkan harga batubara dalam negeri.
Sebagian besar impor China adalah batubara berenergi rendah dari Indonesia dan berenergi menengah dari Australia.
Batubara Indonesia, berdasarkan penilaian lembaga pelaporan harga komoditas Argus, memiliki kandungan energi sebesar 4.200 kilokalori per kilogram (kkal/kg). Harganya, relatif lebih murah. Pada perdagangan 9 Februari, harga batubara Indonesia dengan kalori rendah mencapai $56.53 per metrik ton, turun dari harga tertinggi sebelum musim dingin sebesar $61,70 dicapai pada akhir Oktober.
Sementara itu, harga batubara Australia dengan kandungan energi 5,500 kkal/kg pada perdagangan minggu lalu mencapai $94,44 per ton, turun sedikit dari $95,02 pada minggu sebelumnya, namun masih relatif sama dengan harga pada bulan November sebesar $94.
Impor batubara termal India turun menjadi 13,42 juta ton pada bulan Januari. Menurut Kpler, Ini merupakan penurunan ketiga berturut-turut dan terlemah sejak Agustus tahun lalu. Namun, sama dengan China, impor India tetap meningkat secara signifikan dibanding tahun sebelumnya, yakni naik 27,2% dari 10,55 juta ton pada bulan Januari 2023.
Pemintaan Jepang Tetap Naik
Sementara itu, impor batubara (termal) Jepang tetap naik pada Januari. Impor negara tersebut tercatat sebesar 11,24 juta ton, naik dari 9,99 juta ton pada bulan Desember, namun lebih rendah dari sedikti lebih rendah dari Januari 2023 sebesar 11,54 juta ton.
Impor Jepang biasanya mencapai puncaknya pada bulan Desember dan Januari karena peningkatan permintaan pada musim dingin.
Berbeda dengan China dan India yang relatif mengimpor batubara berkalori rendah, Jepang lebih mengimpor batubara berkalori tinggi dengan harga yang lebih mahal yang Sebagian besar berasal dari Australia.
Harga batubara Australia 6.000 kkal/kg ARGMCCINDX=ARG, kualitas yang disukai Jepang dan Korea Selatan, mencapai $120,16 per ton pada pekan hingga 9 Februari, naik sedikit dari penutupan sebelumnya di $117,28.
Sama dengan Jepang, impor batubara Korea Selatan juga mencapai puncaknya pada bulan Januari, dengan total mencapai 7,92 juta ton, naik dari bulan Desember sebesar 7,32 juta ton dan merupakan yang tertinggi sejak bulan Juli tahun lalu.
Menurut sejumlah analis, volume perdagangan batubara akan terus menurun pada bulan Februari, terutama volume impor dari kempat negara tersebut sebagai konsumen terbesar
Hal tersebut diperkirakan akan memberikan tekanan terhadap harga batubara dari dua negara exporter batubara terbesar yakni Indonesia dan Australia. Sumber: Reuters

