Aliansi Gemini antara Hapag-Lloyd dan Maersk yang direncanakan untuk beroperasi pada Februari 2025, dipercepat dua bulan lebih awal, dengan rencana open booking dimulai pada 3 Desember mendatang. Keputusan untuk mempercepat peluncuran ini diambil karena kondisi pasar yang sangat baik, terutama di jalur perdagangan Trans-Pasifik, yang saat ini mengalami lonjakan permintaan.
Dalam laporan terbaru, Hapag-Lloyd dan Maersk mencatat bahwa permintaan pasar untuk rute Trans-Pasifik tetap kuat sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini, sementara kapasitas ruang (kapal) tetap terbatas. Salah satu penyebabnya adalah pengalihan sebagian besar kapal untuk melayani rute pengalihan di Laut Merah, menyusul krisis politik yang melanda kawasan tersebut.
Stefan Verberckmoes, analis senior Alphaliner, menjelaskan bahwa pelayaran di rute Trans-Pasifik saat ini menikmati margin operasional yang lebih tinggi, terutama karena kekurangan pasokan kapal akibat krisis Laut Merah. Operator pelayaran di rute ini mendapatkan keuntungan dari tarif yang lebih tinggi tanpa perlu menanggung biaya operasional tambahan seperti yang terjadi pada rute pengalihan Laut Merah ke Afrika.
Faktor lain yang mempercepat operasional aliansi ini adalah kenaikan tarif yang terjadi pada kedua perusahaan pelayaran tersebut. Selama kuartal ketiga 2024, tarif rata-rata Maersk meningkat sebesar 54,4%, menjadi $1.618 per TEU, sementara Hapag-Lloyd juga mengalami kenaikan sebesar 22,9%, mencapai $1.612 per TEU. Kenaikan tarif ini mempermudah kedua perusahaan dalam menetapkan tarif pada aliansi Gemini.
Sebagai informasi, aliansi ini akan menerapkan sistem hub-and-spoke yang inovatif, di mana London Gateway, pelabuhan yang dikelola oleh DP World, akan menjadi salah satu hub utama. Hal ini kemungkinan akan mengurangi pangsa pasar Pelabuhan Felixstowe, yang dimiliki oleh Hutchison. Keputusan pemindahan ke London Gateway dianggap strategis karena pelabuhan ini memiliki infrastruktur transportasi kereta api yang lebih modern, dengan rel ganda, dibandingkan Felixstowe yang masih mengandalkan jalur rel tunggal yang lebih tua.
Dalam pernyataan resmi, Maersk mengungkapkan bahwa keputusan untuk memilih London Gateway didasarkan pada efisiensi jaringan transportasi yang lebih baik untuk mendukung ekspor dan impor kargo, serta untuk meningkatkan keandalan dan kecepatan layanan bagi pelanggan.
Tantangan dan Prospek
Peralihan ke sistem hub-and-spoke ini tentu saja bergantung pada kemampuan operator untuk mencapai tingkat keandalan (schedule reliability) lebih dari 90%. Hal ini menjadi tantangan utama bagi Gemini, mengingat pesaing mereka yang lebih tradisional, seperti Cosco dan MSC, masih menawarkan solusi yang lebih langsung dan lebih sederhana dengan biaya lebih rendah di rute perdagangan utama.
Analis dari Dynamar, Darron Wadey, mengungkapkan bahwa meskipun konsep Gemini menarik di atas kertas, keberhasilannya sulit diprediksi. Wadey mengatakan Maersk kemungkinan akan menggabungkan layanan pelabuhan, transportasi darat, dan logistik sebagai paket dalam aliansi ini. Namun, konsep hub-and-spoke ini membutuhkan dukungan substansial dari jaringan transhipment dan kapal yang lebih kecil, yang dapat memengaruhi kapasitas dan efisiensi operasional.
Keberhasilan Gemini, menurut Wadey, sangat bergantung pada bagaimana aliansi ini dapat mengatasi kompleksitas operasional dan mencapai target keandalan yang ambisius. Konsep tersebut mungkin terlihat ideal dalam teori, terutama terkait dengan biaya unit kontainer dan hasil tarif yang diharapkan, tetapi perlu diuji dalam implementasi nyata.
Dengan tujuan yang sangat tinggi pada tingkat keandalan jadwal dan pengelolaan jaringan pelabuhan yang lebih efisien, aliansi ini akan menghadapi banyak tantangan yang perlu dihadapi dalam waktu dekat.

