Skip to content

Pemain Logistik Lebih Cemas terhadap Kenaikan Tarif Impor AS Dibandingkan Isu Lain

Kenaikan tarif impor di Amerika Serikat menjadi masalah yang paling disoroti oleh pelaku usaha logistik dan rantai pasok global menjelang tahun 2025, mengungguli isu-isu lain yang memengaruhi sektor ini. Hal ini terungkap dalam survei yang dilakukan oleh Descartes Systems Group (Nasdaq: DSGX, TSX: DSG), yang melibatkan 975 responden dari perusahaan logistik terkemuka di berbagai wilayah perdagangan utama, termasuk Eropa, Amerika Utara dan Selatan, serta Asia-Pasifik.

Temuan survei ini memberikan gambaran yang jelas mengenai tantangan yang dihadapi dalam perdagangan global. Sebanyak 48% responden menyebutkan bahwa kenaikan tarif impor AS adalah isu utama yang paling mencemaskan mereka untuk bisnis tahun depan (2025). Isu berikutnya yang menjadi perhatian adalah gangguan rantai pasok dan ketidakstabilan geopolitik.

Get Free Latest Magazine by Join Our Weekly Newsletter:Click here to join free weekly newsletter

Hasil survei ini muncul di tengah pengumuman Presiden terpilih AS, Donald Trump, yang baru-baru ini mengumumkan tarif 25% untuk semua impor AS dari Kanada dan Meksiko, serta tarif tambahan 10% untuk impor dari Tiongkok. Trump juga mengancam negara-negara BRICS (Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan) dengan tarif 100% jika blok negara-negara tersebut berupaya melemahkan dolar AS dengan mata uang mereka.

Selama masa kampanye, Trump mengusulkan tarif 10% untuk semua impor AS dan pungutan 60% untuk produk buatan Tiongkok.

“Tarif dan kebijakan perdagangan yang terus berkembang merupakan salah satu tantangan rumit yang memaksa perusahaan untuk memperkuat ketahanan rantai pasokan mereka melalui kepatuhan, teknologi, dan perencanaan strategis,” ujar Jackson Wood, Direktur Strategi Industri di Descartes.

Join Telegram Group Shipping & Logistics:

“Dengan kemungkinan pemerintah AS yang baru akan mengenakan tarif baru pada berbagai barang dan negara asal, importir AS mungkin perlu merancang ulang strategi pengadaan mereka untuk mengurangi potensi biaya yang lebih tinggi,” lanjutnya.