Realisasi terbentuknya aliansi (shipping alliance) antara tiga perusahaan pelayaran terkemuka Asia – ONE (Jepang), HMM (Korea Selatan), dan Yang Ming (Taiwan) – terpakasa tertunda. Pasalnya, Federal Maritime Commission (FMC) – lembaga independen pemerintah Amerika Serikat yang mengatur transportasi laut dan perdagangan maritim – untuk kedua kalinya menunda persetujuan terhadap aliansi baru tersebut. FMC mengumumkan penundaan tersebut pada Jumat, 6 Desember 2024.
Ini merupakan kedua kalinya tahun ini FMC meminta waktu tambahan untuk meninjau dan memperoleh informasi lebih lanjut sebelum memberikan persetujuan, setelah sebelumnya mengambil langkah serupa terhadap pengajuan Maersk dan Hapag-Lloyd untuk meluncurkan Aliansi Gemini.
Aliansi dengan nama ‘Premier Alliance’ ini dimaksudkan sebagai penerus aliansi sebelumnya ‘The Alliance’. Permohonan untuk aliansi baru tersebut diajukan pada 28 Oktober 2024 oleh ketiga pelayaran tersebut.
Aliansi ini akan menggantikan perjanjian kerja sebelumnya yang dikenal sebagai The Alliance – yang mana anggotanya termasuk pelayaran Jerman Hapag-Lloyd. Hapag-Lloyd tidak bergabung dalam aliansi baru ini tetapi bergabung dengan Maersk untuk membentuk Aliansi Gemini.
Setelah menilai pengajuan tersebut, FMC memutuskan untuk meminta informasi tambahan guna menyelesaikan proses evaluasi.
Dalam pengumuman tersebut, FMC menyatakan bahwa pengajuan awal tidak menyediakan informasi yang cukup atau membahas beberapa isu penting, sehingga mereka memerlukan data lebih lanjut untuk menilai dampak persaingan yang mungkin timbul dari perjanjian ini.
Komisi menilai pengajuan tersebut “tidak memiliki detail yang cukup untuk memungkinkan analisis mendalam mengenai potensi dampak persaingan dan kepatuhan terhadap persyaratan hukum yang berlaku.”
Beberapa isu yang perlu dipertimbangkan termasuk pembagian kapal, pertukaran slot kapal, serta kemampuan ketiga perusahaan untuk membahas dan menyetujui hal-hal terkait ukuran, jumlah, dan karakteristik operasional kapal dalam kerangka perjanjian ini.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, pada bulan September lalu, ketiga perusahaan tersebut menyatakan kesepakatan untuk memperluas hubungan kerja mereka, termasuk menjalin perjanjian terpisah dengan MSC Mediterranean Shipping Company setelah Hapag-Lloyd memutuskan untuk keluar dari aliansi yang ada dan bergabung dengan kerja sama baru dengan Maersk.
The Alliance pertama kali diluncurkan pada tahun 2016 sebagai bagian dari tiga aliansi besar di industri pelayaran global. Operasional The Alliance dimulai pada April 2017 dan melibatkan 260 kapal yang melayani 82 pelabuhan dengan 31 layanan di rute perdagangan utama.
Tindakan FMC ini diambil sehari setelah Premier Alliance mengumumkan rincian pelayaran pertamanya dan rencana untuk meningkatkan operasinya mulai Februari 2025. Aliansi baru ini berencana untuk mengoperasikan 24 layanan di rute timur-barat, yang dijadwalkan dimulai pada tahun 2025 dan berlangsung selama lima tahun.
Berdasarkan peraturan peninjauan yang diterapkan oleh FMC, komisi menunda persetujuan perjanjian ini sambil menunggu informasi tambahan yang telah diminta. Setelah informasi lengkap diterima, FMC akan memiliki waktu 45 hari untuk menyelesaikan proses peninjauan.
Pada Juli 2024, FMC juga menunda persetujuan terhadap ‘Aliansi Gemini’, yang diajukan Maersk dan Hapag-Lloyd dengan alasan serupa. Pengajuan tersebut akhirnya disetujui pada September 2024, meskipun FMC tetap mengawasi dampak persaingan dengan cermat.
Chairman FMC Daniel Maffei mengungkapkan bahwa mereka telah melampaui batas waktu yang ditentukan, tetapi meskipun begitu, kesepakatan akan diteruskan. Namun, FMC akan terus memantau pelaksanaan perjanjian tersebut dengan seksama.
Kekhawatiran terkait aliansi antara operator besar dan konsentrasi pasar dalam tiga aliansi utama ini juga telah memicu diskusi mengenai reformasi kewenangan FMC, serta dorongan dari Kongres AS untuk memperketat pengawasan guna menjaga persaingan yang sehat di sektor pelayaran.
Source: Disadur dari sejumlah sumber

