Skip to content

Bagaimana Dampak Konflik Israel – Iran terhadap Pelayaran Global

Photo: Selat Hormuz, jalur pelayaran utama pengiriman minyak global.

Meski konflik Israel – Iran belum secara langsung menutup jalur pelayaran, kekhawatiran besar menyelimuti Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi terpenting global.

Get Free Latest Magazine by Join Our Weekly Newsletter:Click here to join free weekly newsletter

Para pengamat dan ahli sektor kemaritiman memperingatkan adanya resiko yang begitu besar. Bahkan, di saat jalur tersebut masih dibuka, tindakan super hati-hati dari operator pelayaran dapat memperlambat arus perdagangan global.

Menurut Jakob Larsen, Chief Safety & Security Officer Baltic and International Maritime Council (BIMCO), salah satu asosiasi pengiriman internasional terbesar, situasi saat ini berada dalam kondisi “sangat tegang”. BIMCO melaporkan bahwa semakin banyak pemilik kapal yang mengambil langkah ekstra hati-hati dengan menghindari Laut Merah dan Teluk Persia.

Selat Hormuz, yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab, menjadi titik vital dalam jaringan logistik global. Sekitar 20 juta barel minyak dan produk minyak melewati selat ini setiap hari, atau setara dengan 20% perdagangan minyak global.

Menurut data MarineTraffic, selat ini telah menangani sekitar 34% dari semua pengapalan minyak global sepanjang tahun ini.

Meskipun kemungkinan penutupan total oleh Iran tergolong kecil, terakhir kali terjadi pada 1984 saat perang Iran – Iraq, namun risiko tetap membayangi. Serangan terbaru telah memicu lonjakan harga minyak dan menciptakan ketidakpastian baru terhadap stabilitas jalur pasokan energi dunia.

Namun, Selat Hormuz tidak hanya penting untuk minyak. Pelabuhan-pelabuhan besar di sekitarnya seperti Jebel Ali dan Khor Fakkan merupakan pusat transshipment kargo global. Dubai, yang menjadi pusat logistik kawasan, sangat bergantung pada kelancaran arus peti kemas dari dan ke wilayah Teluk, Asia Selatan, dan Afrika Timur.

Firma keamanan maritim asal Inggris, Ambrey, dalam surat edaran terbarunya, menyarankan agar kapal dagang mempertimbangkan pengalihan rute jika ketegangan meningkat. Lembaga ini juga mendorong pemilik kapal untuk memeriksa afiliasi dengan Israel sebagai bagian dari penilaian risiko sebelum melintasi wilayah yang rawan.

“Jika terjadi eskalasi, kapal niaga disarankan untuk menjauhi perairan dekat Iran dan mencari lokasi aman di wilayah yang bersahabat,” tulis Ambrey.

BIMCO juga telah merilis panduan kepada para pemilik kapal, mulai dari penerapan protokol pertahanan, pelaporan aktivitas mencurigakan ke badan pengawas seperti UK’s Maritime Trade Operations, hingga mempertimbangkan rute alternatif demi keselamatan pelaut.

Salah satu kekhawatiran utama adalah kemungkinan keterlibatan Amerika Serikat secara langsung. Meski hingga kini AS bersikap hati-hati, Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyebut serangan Israel sebagai tindakan “sepihak” dan memperingatkan Iran untuk tidak menyasar kepentingan AS.

Apabila AS dianggap terlibat, risiko akan meningkat drastis. “Eskalasi seperti itu dapat mengganggu kebebasan navigasi, termasuk serangan rudal atau pemasangan ranjau laut di Selat Hormuz,” ujar Larsen.

Kendati demikian, hingga saat ini, Pusat Informasi Maritim Gabungan (Joint Maritime Information Center – JMIC) pimpinan AS menegaskan, lalu lintas di Selat Hormuz masih berjalan normal. Namun, mereka tetap mendesak operator kapal untuk mengevaluasi ulang rencana kontinjensi, termasuk rute pelayaran dan keselamatan awak kapal.

Beberapa negara, seperti Yunani, telah meminta operator kapal mereka untuk melaporkan rencana pelayaran melalui Selat Hormuz. Firma data Kpler mengatakan masih terlalu dini untuk memastikan adanya perubahan besar dalam lalu lintas kapal pasca-serangan.

Pengalihan Rute Semakin Panjang

Pengalihan rute pelayaran dari Laut Merah dan Terusan Suez sudah terjadi dalam kurang lebih dua tahun terakhir, sejak terjadinya serangan oleh kelompok Houthi. Konflik di kawasan tersebut memaksa armada kapal untuk mengambil rute yang lebih panjang, mengelilingi Tanjung Harapan di Afrika, alih-alih melewati jalur Laut Merah yang berbahaya. 

Volume pelayaran melalui Terusan Suez, jalur alternatif penting, turun hingga 60 persen dibandingkan sebelum konflik. Diskon tarif pengiriman 15 persen dari otoritas Suez pun belum cukup menarik kapal kembali ke rute tersebut.

Menurut Peter Sand, Kepala Analis Pengiriman Xeneta, kecil kemungkinan kapal peti kemas akan kembali melintasi Laut Merah dalam waktu dekat.

“Serangan Israel telah menunda kemungkinan pemulihan jalur pelayaran. Tarif pengiriman kemungkinan akan naik, didorong oleh premi asuransi, risiko keselamatan, serta biaya tambahan keamanan yang dibebankan operator,” ujarnya.

Kondisi geopolitik yang tidak menentu ini telah menciptakan gangguan baru bagi sistem logistik global, memperpanjang krisis pengiriman yang sudah dimulai sejak pandemi dan konflik di Laut Merah. Selat Hormuz, sebagai simpul penting dalam rantai pasokan dunia, kini kembali menjadi titik rawan yang bisa mengguncang perdagangan global sewaktu-waktu.

Join Telegram Group Shipping & Logistics:

Source: Diolah dari sejumlah sumber