PT Pelindo (Persero) Regional 2 Tanjung Priok bersama Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Utama Tanjung Priok dan seluruh operator terminal peti kemas menandatangani kesepakatan bersama guna memperkuat mitigasi kemacetan di kawasan pelabuhan.
Plt. Executive General Manager PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 2 Tanjung Priok, Yandri Trisaputra, menegaskan Kesepakatan Bersama yang ditandatangani pada Kamis, 22 Mei, 2025, tidak sekadar bentuk respons terhadap kemacetan yang pernah terjadi pada pertengahan April, namun juga menjadi landasan strategis dalam memperkuat koordinasi dan sinergi antarlembaga.

Menurut Yandri, tujuan utama dari kesepakatan ini adalah untuk menciptakan sistem pelayanan kepelabuhanan yang efisien dan bebas dari hambatan lalu lintas, khususnya truk logistik yang kian padat.
“Pelabuhan Tanjung Priok adalah nadi logistik Indonesia. Kita harus memastikan tidak ada lagi kemacetan yang bisa mengganggu aktivitas bongkar muat dan distribusi barang,” ujarnya dalam sesi wawancara bersama media.
Yandri menjelaskan, peningkatan volume truk barang yang masuk ke pelabuhan menjadi salah satu pemicu utama kemacetan. Karena itu, kesepakatan bersama ini dirancang untuk mendorong kolaborasi lintas sektor dalam mengelola arus kendaraan dan operasional terminal peti kemas secara lebih terintegrasi.
Hal senada diungkapkan Kepala KSOP Utama Tanjung Priok, Heru Sutanto. Dalam kata sambutannya saat penandatanganan, Heru mengungkapkan sejumlah poin penting dari kesepakatan tersebut, antara lain soal pengendalian Yard Occupancy Ratio (YOR) di area penumpukan peti kemas, pengoptimalan proses receiving dan delivery, serta penguatan koordinasi dalam pengawasan arus kendaraan.

“Kami bekerja sama erat dengan Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Korlantas Polri, TNI, serta kepolisian setempat untuk mengantisipasi dan merespons cepat bila terjadi potensi kemacetan. Ini adalah bentuk nyata dari kolaborasi lintas instansi demi kelancaran logistik nasional,” tegas Heru.
Dengan kesepakatan ini, diharapkan Pelabuhan Tanjung Priok dapat terus menjalankan peran vitalnya sebagai simpul utama perdagangan Indonesia tanpa terganggu masalah klasik seperti kemacetan, yang berdampak besar terhadap waktu dan biaya logistik.

