Karyawan Terminal Petikemas Koja (TPK Koja) komit untuk tetap memberikan pelayanan terbaik kepada seluruh pelanggannya dan tidak terpengaruh oleh aksi pemegang saham (Hutchsion) yang melakukan penjualan saham pelabuhan-pelabuhannya, termasuk saham di TPK Koja.
Hal tersebut ditegaskan Serikat Pekerja (SP) TPK Koja dalam ‘Pernyataan Sikap dan Himbauan’ hasil dari pertemuan antara SP dan MPP pada Jumat, 7 Maret 2025. ‘Pernyataan Sikap dan Himbauan’ tersebut ditandatangani Ketua SP TPK Koja Farudi.
Dalam pernyataan tersebut, SP TPK Koja menegaskan penjualan saham tersebut adalah urusan pemegang saham dan tidak ada kaitannya dengan kegiatan operasional di terminal.
“Kami menghimbau kepada seluruh karyawan TPK Koja untuk tetap memberikan layanan terbaik kepada customer. Terkait penjualan saham, itu merupakan ranah pemegang saham yang tidak ada kaitannya dengan operasional,” ungkap Farudi dalam pernyataannya.
Meskipun demikian, SP TPK Koja juga menegaskan akan terus mengawal aspek-aspek yang berkaitan dengan hak-hak pekerja, seperti job security, income security, dan social security. Ini merupakan bagian dari komitmen Serikat Pekerja dalam memastikan kesejahteraan dan perlindungan hak pekerja di TPK Koja.
Isu penjualan saham Hutchison, yang baru-baru ini dijual kepada konsorsium BlackRock-TIL (MSC), sempat menimbulkan kekhawatiran di kalangan karyawan.
Dalam kesepakatan ini, CK Hutchison setuju untuk menjual sahamnya di 43 pelabuhan di 23 negara kepada konsorsium tersebut, termasuk di Indonesia (JICT dan TPK Koja), namun tidak termasuk pelabuhan-pelabuhan Hutchison di Hong Kong dan China Daratan.
Transaksi senilai $22,8 miliar ini merupakan yang terbesar di sektor terminal peti kemas global. Transaksi ini terjadi di tengah meningkatnya tensi politik AS-China pada sektor perdagangan dan kemaritiman, khususnya di Terusan Panama. Tensi tersebut dinilai mempercepat proses negosiasi, termasuk negosiasi penjualan 90% saham Hutchison Port Holdings di Panama Ports Company, yang mengelola Pelabuhan Balboa dan Cristobal di kedua sisi dari Terusan Panama.

Foto: Ketua SP TPK Koja Farudi
Namun, SP TPK Koja menegaskan bahwa peralihan saham ini tidak akan mengganggu kinerja perusahaan, terutama dalam hal pelayanan kepada pelanggan dan kelancaran operasional.
Farudi menambahkan, meskipun perubahan kepemilikan saham dapat mempengaruhi strategi jangka panjang perusahaan, karyawan TPK Koja tetap berfokus pada tugas dan tanggung jawab mereka untuk memberikan layanan yang optimal kepada para pelanggan.
“Sebagai bagian dari komunitas TPK Koja, kami tetap akan berkomitmen untuk menjaga standar layanan yang tinggi dan memastikan bahwa pelanggan kami mendapatkan pelayanan terbaik di setiap kesempatan,” tambah Farudi saat dikonfirmasi Indonesia Shipping Gazette.
Dengan adanya pernyataan sikap ini, Serikat Pekerja TPK Koja berharap agar semua pihak dapat melihat perubahan dalam struktur kepemilikan tidak mempengaruhi dedikasi karyawan terhadap pekerjaan mereka dan kepada pelanggan.
Karyawan TPK Koja tetap berpegang teguh pada komitmen untuk menjaga kelancaran operasional pelabuhan dan mendukung keberhasilan perusahaan ke depannya.
Dengan demikian, TPK Koja tetap menjaga reputasi sebagai salah satu terminal petikemas terkemuka di Indonesia, serta terus memastikan layanan yang memuaskan bagi para pelanggannya.

