Raksasa pelayaran global asal Denmark, Maersk Line, mencatatkan kinerja positif pada kuartal kedua tahun ini dengan pertumbuhan pendapatan sebesar 2,8 persen. Performa yang solid pada divisi shipping, logistic, dan terminal menjadi landasan bagi perusahaan untuk merevisi proyeksi laba setahun penuh 2025, meski tekanan dari ketidakpastian geopolitik dan pasar global masih membayangi.
Laporan keuangan pada Q2 2025 menunjukkan pendapatan Maersk meningkat dari 12,77 miliar dollar AS menjadi 13,13 miliar dollar AS. Secara khusus, pendapatan dari sektor pelayaran, yang masih menjadi tulang punggung bisnis perusahaan, menguat dari 8,37 miliar dollar AS menjadi 8,57 miliar dollar AS. Kinerja divisi terminal juga mencatat pertumbuhan signifikan, dari 1,09 miliar dollar AS menjadi 1,31 miliar dollar AS.
Namun, dari sisi laba usaha (EBIT), Maersk mengalami penurunan secara tahunan dari 963 juta dollar AS menjadi 845 juta dollar AS. Penurunan ini terutama berasal dari sektor pelayaran kontainer yang merosot dari 470 juta dollar AS menjadi 229 juta dollar AS. Sebaliknya, divisi logistik mencatatkan peningkatan laba sebesar 49 juta dollar AS, dan terminal menyumbang tambahan 108 juta dollar AS dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Volume Tumbuh, Freight Rate dalam Tekanan
Volume kontainer secara keseluruhan mengalami kenaikan 4,2 persen, atau sekitar 129.000 FEU (twenty-foot equivalent unit), menjadi 3,23 juta FEU. Peningkatan terbesar tercatat pada rute perdagangan timur–barat, yang naik 60.000 FEU menjadi 1,47 juta FEU. Perdagangan utara–selatan pun tumbuh 5,6 persen menjadi 1,05 juta FEU, sedangkan perdagangan intra-regional meningkat menjadi 698.000 FEU.
Meski volume naik, Maersk menghadapi tekanan pada sisi tarif. Rata-rata tarif angkutan untuk perdagangan timur–barat turun 14,3 persen menjadi 2.286 dollar AS per FEU. Untuk rute utara–selatan, tarif turun 5,7 persen menjadi 2.927 dollar AS per FEU. Hanya rute intra-regional yang mencatatkan kenaikan tarif, yakni 5,9 persen, menjadi 1.520 dollar AS per FEU.
Dalam laporan interimnya, Maersk menyebut permintaan pasar di luar kawasan Amerika Utara sebagai salah satu penopang utama kinerja. Proyeksi pertumbuhan volume pasar kontainer global pun direvisi naik, dari kisaran -1 hingga 4 persen menjadi 2 hingga 4 persen.
Data pendukung dari Container Trade Statistics (CTS) turut menguatkan optimisme tersebut. Volume kontainer global dilaporkan naik 4,5 persen sepanjang semester pertama 2025, mencapai 93,5 juta TEU. CTS mencatat bahwa pasar menunjukkan ketangguhan dan kemampuan adaptasi, terutama ditopang oleh lonjakan impor ke kawasan Sub-Sahara Afrika yang tumbuh 14 persen. Ekspor dari Amerika Selatan dan Sub-Benua India juga menjadi kontributor signifikan terhadap pertumbuhan global.
CEO Maersk, Vincent Clerc, menyatakan bahwa ketidakpastian global tidak serta merta meredam semangat perusahaan untuk terus beradaptasi. “Meskipun volatilitas pasar dan dinamika perdagangan global masih tinggi, permintaan tetap tangguh. Kami terus merespons situasi dengan gesit dan fleksibel,” ujarnya.
Proyeksi Laba Naik
Menghadapi paruh kedua tahun ini, Maersk bersikap realistis. Perusahaan mencermati tantangan yang datang dari pelemahan kepercayaan konsumen di Amerika Serikat, sebagai dampak dari penyesuaian harga akibat kebijakan tarif baru. Sementara itu, di Eropa, konsumsi domestik diperkirakan tetap lemah, meski ada peluang pemulihan lewat meredanya inflasi dan pelonggaran moneter oleh Bank Sentral Eropa.
“Di tengah ketegangan geopolitik yang sedang berlangsung dan iklim perdagangan global yang tidak menentu, kami tetap berkomitmen untuk memberikan nilai terbaik kepada pelanggan. Kami juga terus menjajaki langkah-langkah efisiensi, mitigasi risiko, dan optimalisasi biaya,” tulis Maersk dalam pernyataan resminya.
Dengan mempertimbangkan dinamika tersebut, Maersk merevisi proyeksi laba usaha (EBIT) setahun penuh dari sebelumnya nol hingga 3 miliar dollar AS, menjadi 2 hingga 3,5 miliar dollar AS. Kendati demikian, perusahaan tetap mewaspadai ketidakpastian makroekonomi dan geopolitik yang diprediksi akan terus memengaruhi performa bisnis hingga akhir tahun.

