Foto: Para Sopir Truk Kontener saat berdialog dengan operator alat TPK Koja
Untuk saat ini, tempat yang paling aman dan nyaman bagi para sopir angkutan pelabuhan adalah di dalam terminal atau pelabuhan. Aman karena tidak ada potensi copet, maling, ataupun begal. Mereka juga merasa nyaman karena sejumlah fasilitas seperti Mushola, kamar mandi, dan toilet juga tersedia serta sudah terpelihara dengan baik. Ini tentu sangat berbeda dengan situasi di luar (baik jalan raya maupun rest area).
Hal tersebut diungkapakn para sopir truk kontener yang sehari-hari mengangkut petikemas baik untuk ekspor muapun impor melalui Terminal Peti Kemas Koja (TPK Koja) dalam sebuah dialog yang diadakan pada Kamis, 20 Maret 2024, antara para sopir dengan petugas lapangan TPK Koja baik operator alat maupun security lapangan yang dipandu managemen TPK Koja.
Dialog kali ini yang dilaksanakan bersamaan dengan acara buka puasa bersama membahas berbagai persoalan yang dihadapi di lapangan, termasuk perkembangan kinerja TRT (Truck Round Time) serta fasilitas di lapangan seperti Mushola, kamar mandi, dan toilet.
“Tak bisa dipungkiri, memang saat ini tempat yang paling aman dan nyaman bagi kami para sopir truk adalah di dalam terminal karena tidak ada potensi copet, maling, ataupun begal,” kata Nuratmo, Ketua KBSI (Keluarga Besar Sopir Indonesia) dalam sambutannya.
“Di samping itu, fasilitas seperti Mushola, kamar mandi, dan toilet yang sangat memadai serta sudah terpelihara baik membuat kami sangat nyaman,” lanjutnya.
Makanya, tak heran jika para sopir sering memanfaatkan waktu di terminal untuk beristirahat, sholat, atau sekadar melepas lelah.
Nuratmo juga menyoroti situasi di luar pelabuhan yang saat ini tidak aman dan nyaman, baik di jalan raya arteri, jalan tol, maupun di rest area. “Di luar pelabuhan, situasi tidak begitu aman dan nyaman. Jalanan rawan dengan berbagai potensi kejahatan yang bisa terjadi kapan saja,” lanjutnya.
Hal tersebut dibenarkan oleh salah satu sopir, bernama Agus. Dalam abrolan dengan Indonesia Shipping Gazette di sela-sela kegiatan tertsebut, Agus mengungkapkan keengganan mereka untuk beristirahat di badan jalan, bahkan di rest area sekalipun.
“Bahkan di rest area sekalipun situasinya tidak aman. Kita sering kehilangan barang pribadi, seperti handphone. Bahkan ban mobil pun bisa hilang,” keluh Agus.
Ia mengungkapkan banyak sopir yang lebih memilih beristirahat di terminal karena keamanan yang terjamin. “Di terminal sangat aman dan nyaman, jauh dari gangguan copet, maling, ataupun begal,” ujarnya.
“Fasilitas di dalam terminal, seperti musola, kamar mandi, dan toilet yang sudah terawat dengan baik, juga membuat kami tambah nyaman,” lanjutnaya.
Agus lebih lanjut menjelaskan, kenyamanan yang didapat di terminal sangat membantu mereka yang lelah setelah berjam-jam berkendara. “Kemacetan di jalan sangat melelahkan. Begitu tiba di terminal, kami sering merasa ngantuk dan tidur sebentar. Bahkan ada yang tidur berjam-jam,” tambahnya.
Beberapa juga sengaja beristirahat di dalam terminal sambil menunggu kemacetan di luar pelabuhan terurai. Selain itu, beberapa sopir juga menunggu kedatangan pengawalan dari kantor mereka, terutama jika kontainer yang diambil memerlukan pengawalan khusus.
Berdampak pada TRT
Para sopir menyadari pilihan beristirahat di dalam terminal tidak sesuai dengan prosedur yang ada. Apalagi, semakin mereka lama ada di dalam terminal, akan semakin menurunkan kinerja TRT dari sutau terminal, termasuk TPK Koja.

Karena, ketika mereka masuk di gate in, argo TRT sudah jalan, tak peduli apakah waktu tersebut mereka gunakan untuk bongkar muat atau untuk sitirahat.
Menurut data dan analisis TPK Koja, faktor utama yang mempengaruhi kinerja TRT TPK koja adalah karena prilaku sopir yang menghabiskan waktu yang lebih banyak untuk bersitirahat di dalam terminal ketimbang faktor lain seperti tingkat ketersediaan alat.
Menurut hasil analisis internal TPK Koja dari data yang dikumpulkan hingga 8 Maret, 2025, 90% truk di TPK Koja memiliki TRT kurang dari 2 jam, sementara 10% nya masih di atas 2 jam. TRT yang lebih dari 2 jam sebagian besar disebakan karena sopirnya tertidur di dalam terminal. Bahkan ada yang sampai tertidur lebih dari 8 jam. Ini berdampak pada rata-rata TRT TPK Koja yang masih 120 menit.
Untuk diketahui, TRT (truck round time) adalah waktu yang dihabiskan sebuah truk dari gate-in hingga gate-out.
“Kami tidak menyangkal hal tersebut. Mungkin kelelahan karena macet di jalan. Apalagi yang baru habis melakukan rute panjang,” kata Agus.
“Kami tahu ini tidak sesuai dengan prosedur. Para petugas lapangan TPK Koja sering mengingatkan kami. Namun, terpaksa kami lakukan, karena tidak ada pilihan lain. Meskipun kadang kami harus bermain kucing-kucingan dengan petugas,” ujar Agus.
Meski demikian, dalam dialog tersebut, para sopir berkomitmen untuk berusaha mempercepat waktu mereka di dalam terminal dan berupaya mematuhi prosedur yang ada.
Berharap Adanya Buffer
Nuratmo, Agus, dan para sopir lainnya berharap adanya solusi menyeluruh untuk mendukung keamanan dan kenyamanan mereka dalam menjalankan tugas mengangkut kontainer dari pabrik ke pelabuhan ataupun sebaliknya.
Menurut mereka, masalah keamanan dan kenyamanan di jalan raya menjadi hal yang krusial. Mereka seringkali merasa tidak aman saat berkendara, terutama saat beristirahat di tempat-tempat umum atau rest area.
“Kemacetan dan potensi kejahatan di jalan membuat kami sangat lelah dan khawatir. Kami berharap ada langkah nyata dari berbagai pihak untuk meningkatkan keamanan selama perjalanan kami,” kata Agus.
Namun mereka sadar, penyelesaian masalah keamanan di jalan tidaklah mudah. Solusi yang lebih mungkin cepat dilakukan adalah dengan menyediakan buffer area agar para sopir bisa beristirahat sebelum mereka masuk ke terminal ataupun sebelum melanjutkan perjalanan ke tujuan pengiriman barang.
“Kami yakin jika ada buffer area yang disediakan, para sopir tidak akan lagi kucing-kucingan beristirahat di dalam terminal. Hal ini tentu akan membuat TRT terminal lebih singkat dan operasional menjadi lebih efisien,” ujar Nuratmo.
“Tentu dengan harapan buffer tersebut memiliki sistem keamanan yang memadai, sehingga kami bisa beristirahat dengan tenang sebelum melanjutkan perjalanan atau memasuki terminal,” ungkapnya.

