Skip to content

Rantai Pasok Terganggu, 93% Seller Amazon Kehilangan Pendapatan

Kekacauan rantai pasok yang besar pada sektor ekonomi AS pada tahun 2021 telah banyak ditulis dan dibahas. Kendati tahun ini mulai membaik, namun masih banyak masalah yang belum tuntas, seperti penumpukan kapal peti kemas di Pantai Barat, kekurangan produk, kekurangan pekerja dan peningkatan tarif angkutan.

Sementara sebagian besar fokus diarahkan pada penyelesaian dampak langsung dari kekacauan ini, masih terdapat segmen ekonomi lain yang belum banyak ditangani yaitu seller e-commerce yang banyak di antaranya merupakan perusahaan kecil hingga menengah yang mata pencahariannya bergantung pada rantai pasok global.

Get Free Latest Magazine by Join Our Weekly Newsletter:Click here to join free weekly newsletter

Padahal valuasi kumulatif dari segmen ini sangat besar. Tahun lalu, nilai penjualan e-commerce di AS mencapai hampir USD 470 miliar. Amazon, yang menyumbang sekitar 40% dari total penjualane-commerce AS, juga merupakan platform besar untuk penjual pihak ketiga, dengan hampir 50% penjualannya berasal dari sumber ini.

Dengan begitu banyak perekonomian AS yang berasal dari seller e-commerce ini — dan sebagian besar produk mereka berasal dari luar negeri — penting untuk mengungkapkan kisah tentang bagaimana mereka dipengaruhi oleh gangguan rantai pasok tahun 2021, yang menurut laporan dari 3PL Central hingga 36% bisnis kehilangan pendapatan sepanjang tahun.

Jungle Scout selaku penyedia data dan sumber daya bagi seller yang ingin berpartisipasi di Amazon’s Marketplace, melakukan survei penjual untuk mengetahui bagaimana nasib mereka selama kekacauan tahun 2021.

Kerugian rantai pasok

Menurut survei, 93% seller e-commerce mengatakan mereka kehilangan pendapatan akibat gangguan, dan sebagian besar bisnis mengatakan kegiatan inventory tertunda selama dua bulan atau lebih. Banyak yang beralih ke penjualan produk yang dapat mereka simpan untuk mencoba dan menebus pendapatan yang hilang.

Di antara temuan terperinci, Jungle Scout melaporkan:

  • 48% merek besar mengatakan pesanan persediaan mereka tertunda antara satu sampai empat bulan.
  • 42% merek besar dan 27% pemilik usaha kecil mengatakan mereka tidak dapat memesan persediaan baru dari pemasok.
  • 44% merek besar dan 26% usaha kecil melaporkan bahwa persediaan yang ada dipengaruhi oleh masalah rantai pasok.
  • 23% merek besar dan 11% usaha kecil melaporkan kehilangan Buy Box karena produk kehabisan stok sebagai dampak dari masalah rantai pasok.

Sampai jumpa Buy Box

Amazon Buy Box merupakan sebuah alat penting bagi seller. Menurut Feedvisor, 80% dari penjualan Amazon Marketplace dilakukan melalui Buy Box, yang muncul di sisi kanan halaman produk dan secara otomatis menampilkan seller dengan peringkat tertinggi pada saat itu, yang mengarah pada peningkatan penjualan.

Ketidakmampuan untuk mendapatkan persediaan tepat waktu memengaruhi peluang seller untuk tetap berada di dalam Buy Box. Jungle Scout mengatakan penundaan pesanan persediaan sebanyak satu tahun atau lebih untuk sekitar 3% seller, dengan sejumlah besar bisnis (sekitar 17% bisnis besar dan 6% bisnis kecil) mengalami keterlambatan empat bulan untuk produk.

Jungle Scout mengungkapkan, “Sayangnya, tantangan rantai pasok memperumit upaya merek untuk memenangkan Buy Box. Untuk dapat ‘menang’ dan mempertahankan Buy Box, seller harus tetap memiliki reputasi baik dengan Amazon — dengan memiliki kinerja pengiriman yang hebat, mematuhi persyaratan layanan Amazon dan menawarkan layanan pelanggan yang baik, misalnya. Apabila kehabisan persediaan, seller dapat kehilangan Buy Box, persis seperti yang terjadi pada 23% merek besar, 11% bisnis kecil, dan 11% klien agensi lainnya pada tahun 2021.”

Seorang seller memberi tahu Jungle Scout bahwa keterlambatan dalam rantai pasok memengaruhi penjualan mereka, “memengaruhi pendapatan, berdampak langsung saat mendanai pembelian persediaan sendiri dan ketika mencoba mengambil pinjaman bank.’”

Survei menemukan bahwa komunikasi pemasok masih menjadi masalah hingga saat ini. Survei menemukan sebanyak 42% merek besar dan 27% UKM tidak dapat memesan persediaan baru dari pemasok, dan masing-masing 21% dan 11%, mengatakan pemasok menjadi tidak dapat diakses. Secara keseluruhan, sebanyak 44% bisnis besar dan 26% UKM mengatakan persediaan mereka saat ini dipengaruhi oleh masalah rantai pasok, termasuk kemampuan untuk merelokasi persediaan yang ada.

Pendapatan menurun

Pada akhirnya, gangguan rantai pasok menghantam pendapatan penjual.

Jungle Scout mengungkapkan, “Sementara sebanyak 45% usaha kecil memperkirakan bahwa penjualan mereka yang hilang karena masalah rantai pasok berjumlah di bawah USD 5.000, sebanyak 30% usaha kecil melaporkan bahwa perkiraan kerugian mereka berjumlah antara USD 5.001 hingga USD 25.000. Sebaliknya, sebanyak 18% merek besar memperkirakan bahwa penjualan mereka yang hilang berada di bawah USD 50.000, sementara 51% agensi melaporkan hal yang sama untuk klien mereka.”

Hanya 16% merek besar yang melaporkan kerugian di atas USD 500.000.

Sebanyak 69% bisnis kecil dan 66% bisnis besar melaporkan persediaan yang tertunda terutama berasal dari China dan sebanyak 42% dari total barang dagangan yang diimpor ke AS adalah berasal dari China.

Navigasi krisis

Tidak ada reaksi dominan tunggal tentang bagaimana merek bereaksi terhadap tantangan rantai pasok ini.

Untuk usaha kecil, sebanyak 20% memotong iklan, 20% lainnya mengubah metode penyelesainnya, 24% meluncurkan produk baru yang dapat mereka simpan, 18% menghentikan produk, dan 9% sisanya menyewa lebih banyak ruang penyimpanan persediaan untuk menyimpan barang yang bisa mereka dapatkan.

Untuk merek yang lebih besar, sebanyak 37% memotong pengeluaran iklan, 34% mengubah metode penyelesaiannya. Hampir sepertiganya meluncurkan produk baru, sementara 22% lainnya menghentikan produk dan 25% sisanya mengambil lebih banyak ruang untuk gudang persediaan.

Join Telegram Group Shipping & Logistics:

Jungle Scout Kembali menambahkan, “Merek besar mengambil langkah-langkah tambahan, seperti mengubah pemasok (27%) dan meningkatkan pengeluaran iklan untuk menjual produk mereka yang lengkap (17%). Mereka juga menaikkan harga produk di Amazon dan mulai menjadwalkan pesanan persediaan mereka beberapa bulan lebih awal dari biasanya untuk memperhitungkan penundaan”.