Skip to content

Ekspor Batu Bara Pilih Kapal Supramax, Kendati Freight Rate-nya Lebih Mahal, Kenapa?

Ekspor batu bara dari Kalimantan saat ini, terutama yang tujuannya ke India, banyak menggunakan kapal jenis Supramax, dibanding kapal jenis lainnya. Kendati tarif angkut per metrik ton-nya jauh lebih mahal dibanding jenis kapal lainnya seperti kapal jenis Panamax dan Capesize, namun minimnya peralatan, terutama floating crane, di wilayah tersebut tidak memungkinkan bagi jenis kapal ini.

Hal tersebut disampaikan baik oleh sejumlah perusahaan pelayaran maupun produser dan buyer batu bara sebagaimana dilaporkan Plat.

Get Free Latest Magazine by Join Our Weekly Newsletter:Click here to join free weekly newsletter

Menurut laporan Plat, freight rate untuk kapal Supramax (dengan daya angkut 55,000 mt) untuk rute Kalimantan Selatan – Paradip (India) per 9 Februari tercatat sebesar $21,30/mt, naik 40% ($5,95/mt) dari harga 31 Januari.

Sementara pada periode yang sama, freight rate kapal Panamax ((dengan daya angkut 75,000 mt) untuk rute tersebut tercatat hanya $12/mt, jauh lebih murah dari freight rate Supramax. Namun, penyewa, dilaporkan tetap memilih kapal Supramax.

Menurut sumber Plat, salah satu faktornya kenapa penyewa lebih memilih kapal Supramax karena kekurangan floating crane di Kalimantan sebagai lokasi muat.

Faktor lainnya adalah penyewa tidak terlalu peduli dengan kenaikan freight tersebut karena mereka membeli batu bara tersebut pada saat harganya masih murah. Kontrak pembelian terjadi sebelum Januari, saat di mana Indonesia menetapkan kebijakan larangan ekspor selama satu bulan (1-31 Januari. 2022).

Sebagian besar batubara Indonesia yang diekspor saat ini dikontrak dengan harga yang lebih rendah sebelumnya tetapi tidak dapat diangkat pada Januari karena larangan ekspor.

Join Telegram Group Shipping & Logistics:

India merupakan negara tujuan ekspor batu bara terbesar kedua Indonesia, setelah China. Menurut data, volume ekspor ke India hampir mencapai 100 juta ton per tahun (sekitar 97,5 juta ton pada tahun 2020), atau sekitar 24% dari total volume ekspor batu bara Indonesia.