Dengan naiknya BBM subsidi per hari Sabtu (3/9) jam 14.50 wib, Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) memastikan akan menyesuaikan tarif jasa logistik.
“Kenaikan nya di angka 20%. Tapi, semua tergantung dari masing-masing perusahaan tentunya, apalagi yang mempunyai Kontrak secara Jangka panjang itu sudah Ada rumusan nya sendiri,” kata Yukki Nugrahawan Hanafi, Ketua Umum ALFI, dikutip dari oceanweek.co.id Senin (5/9).
Yukki mengatakan bahwa ALFI setuju saja BBM subsidi naik selama ada kepastian BBM di lapangan. Konsekuensinya otomatis tarif jasa logistik Otomatis juga menyesuaikan.
Menurut Yukki, Efek Domino BBM Subsidi dari kenaikan ini yang perlu diketahui bahwa, mayoritas pelaku logistik menggunakan BBM bersubsidi karena tuntutan pasar/konsumen yang tinggi atas biaya logistik yang rendah.
“Efek Langsungnya, Faktor Komponen BBM dalam sebuah formula hitungan biaya angkutan darat merepresentasi 35-40%. Sehingga berapapun koefisien kenaikan BBM akan berdampak besar,” ujarnya.
Sedangkan Efek tidak langsung, ungkap Yukki, belum lagi biaya lain seperti harga maintenance dan parts juga akan terdongkrak naik akibat tidak langsung dari ongkos produksi dan pengiriman spare parts kepada pengusaha/pemilik truk.
Selain itu, dampak naiknya BBM berpotensi pada tekanan pada kinerja logistik.
“Sangat besar, karena saya sampaikan tadi komponen BBM dalam angkutan darat cukup tinggi. Seperti kita ketahui distribusi barang dengan moda transportasi darat secara nasional masih didominasi angkutan darat,” jelasnya.
Belum lagi response pasar pengguna angkutan, yang pada dasarnya free market, seakan tidak peduli dan membebankan pergeseran harga akibat kenaikan harga BBM kepada pelaku penyedia jasa angkutan.
Karena mereka, kata Yukki, menganggap dasar kenaikan hanya harga BBM sebagai akibat langsung.
Kondisi industri logistik diitengah momentum pemulihan ekonomi cukup baik, volume sudah berangsur naik dan Mobilitas semakin longgar. Hanya saja industri logistik masih memerlukan dukungan pemerintah guna memastikan agenda pemerintah bisa terealisasi.
Sebagai contoh BBM ini, perlu kepastian mengenai ketersediaan supply BBM tanpa henti secara nasional.
Fenomena antrian pengisian BBM di SPBU ini cukup masif dan memprihatinkan dan sudah berdampak kepada kinerja logistik, karena produktifitas barang modal (truck) tidak optimal.
Supply chain itu bicara reliability and sustainability yang predictable sesusai forecast, pun demikian dalam hal BBM dari supply dan demand.
Di daerah ALFI, katanya, sudah menginisiasi untuk mengambil peran dan berinovasi dalam membantu pertamina untuk melakukan ini.
Antisipasi dan efisiensi yang bisa dilakukan, ungkap Yukki, bahwa bicara soal kenaikan ini, kita akan bicara pula mengenai logistik sebagai bagian dari supply chain.
Supply chain berarti bicara ekosistem. “Jadi bisnis kami sangat bergantung juga terhadap industri lain yang menggunakan jasa kami. Efisiensi di sisi produsen sebagai konsumen kami berarti efisiensi di dalam bisnis kami. Sehingga perlu multi sektor dan kelembagaan ini memastikan bisnis logistik berkelanjutan (misal tidak hanya Kemenhub, tapi ada kemendag, kemenperin, kemenkeu, dll),” katanya lagi.
Efek domino BBM naik, menurut Yukki, akan mengerek harga barang konsumsi. “Ini yang terberat, apalagi inflasi menjadi perhatian khusus pemerintah untuk tetap ditekan. Lalu Sentimen negatif luar negeri. Artinya, proyeksi pertumbuhan bisnis logistik 2022 dan 2023 tetap tumbuh positif, karena masih didukung kekuatan konsumsi domestik,” katanya.

