Skip to content

Market Batubara Menggairahkan, Aktivitas Pandu Tunda STS Ambang Luar Sungai Musi Semakin Ramai

Aktivitas towage dan loading batu bara di STS Ambang Luar Sungai Musi

Tingginya permintaan dan harga batubara di pasar global turut mendongkrak aktivitas bongkar muat di STS Ambang Luar Sungai Musi. Hal ini tidak hanya menjadi berkah bagi perusahaan pelayaran pengangkut batubara, tetapi juga bagi jasa terkait lainnya, khususnya jasa pemanduan dan penundaan (pilotage & towage).

Get Free Latest Magazine by Join Our Weekly Newsletter:Click here to join free weekly newsletter

Dalam setahun terakhir, ada beberapa peristiwa penting yang mempengaruhi volume perdagangan dan harga batubara di pasar global. Pertama, turunnya produksi China sebagai negara produsen dan sekaligus konsumen terbesar global, kedua, perang di Ukraina yang menyebabkan berhentinya pasokan energi, khususnya gas dan batubara, dari kawasan tersebut. Ketiga, sekaligus yang mempengaruhi kinerja ekspor batubara Indonesia tahun ini adalah terkait larangan ekpor batubara pada awal tahun.

Sebagaimana diketahui, pemerintah Indonesia menetapkan pelarangan ekspor batu bara pada periode 1-31 Januari 2022 dalam rangka menjamin keamanan pasokan batubara domestik dan memastikan perusahaan tambang batubara memenuhi kewajibannya memenuhi alokasi produksinya untuk kebutuhan dalam negeri (Domestic Market Obligation/DMO) sebesar 25%.

Pelarangan tersebut tidak hanya memicu naiknya harga batubara di pasar global, tetapi juga berimpikasi terhadap aktivitas shipping batubara termasuk jasa terkait lainnya. Aktivitas pandu dan tunda (pilotage & towage), khususnya yang melayani bongkar muat batubara secara ship to ship (STS) merupakan salah satu yang terkena dampak.

Namun, pasca larangan tersebut dicabut, aktivitas produksi, bongkar muat, dan shipping batubara kembali bergairah. Apalagi, menyusul perang Ukraina yang pecah pada bulan Februari. Perang tersebut memaksa berhentinya pasokan energi (gas dan batubara) dari Rusia. Negara-negara Eropa yang sebagian besar gas-nya di-supply dari Rusia mengalami krisis energi.

Negara-negara importir batubara (khususnya China dan India) dari Rusia terpaksa mencari alternatif sumber batubara baru, di mana Indonesia merupakan salah satu sumber potensial. Ketiadaan gas juga memaksa negara-negara Eropa untuk kembali menggunakan batubara sebagai energi. Negara-negara ekporter batubara, khususnya Australia dan Indonesia pun ketiban berkah.

Indonesia merupaakan ekporter batubara terbesar kedua di pasar global, setelah Australia. Adapun negara lain yang masuk lima besar adalah Rusia, Amerika Serikat dan Afrika Selatan.

Kendati dikenal sebegai negara eksporter terbesar, Australia dan Indonesia bukan merupakan produsen terbesar global. China tercatat sebagai penghasil batubara terbesar. Melansir NS Energy, pada tahun 2019 total produksi batu bara China mencapai 3,7 miliar ton, atau setara 47% dari total produksi dunia.

Tingkat produksi China tersebut enam kali lipat lebih banyak ketimbang Indonesia yang berada di urutan ke-empat. Di atas Indonesia masih ada Amerika Serikat (ketiga) dan India India (kedua) Sementara Australia melengkapi 5 besar dengan total produksi 550 juta ton.

Seperti diketahui, harga batu bara kian melejit sejak awal tahun ini, terutama ketika Perang Rusia-Ukraina pecah sejak 24 Februari 2022 lalu. Harga batu bara sempat mencapai puncaknya pada 5 September 2022 sebesar US$ 463,75. Meskipun setelahnya mengalami penurunan, namun harga batu bara masih bertahan di atas US$ 400 per ton.

Analis Industri Bank Mandiri Ahmad Zuhdi memperkirakan harga batu bara akan bergerak di kisaran US$ 410 per ton. Sebagai catatan, harga batu bara tidak pernah meninggalkan level US$ 400 per ton sejak 12 Agustus 2022.

Ekspor Indonesia Meningkat

Kenaikan demand serta harga di pasar global turut memicu kenaikan volume dan nilai ekpor Indonesia. Menurut laporan Badan Pusat Statistik (BPS), volume ekspor batubara Indonesia pada kuartal II 2022 berat bersihnya mencapai 99,49 juta ton, naik sekitar 39% (quarter-on-quarter/qoq) dan sekitar 15% (year-on-year/yoy) dibanding kuartal II 2021.

Sementara itu nilai ekspor batu bara nasional pada kuartal II 2022 mencapai US$13,55 miliar. Nilai ekspor ini meningkat sekitar 78% (qoq) serta tumbuh 155% (yoy), jauh melampaui tingkat pertumbuhan volumenya. Hal ini terjadi seiring dengan harga komoditas ini di pasaran.

Memang pada Q3, volume dan nilai ekpor batubara Indonesia sedikit mengalami penurunan. Trend yang sangat fulktuatif diperkirakan akan berlanjut ke Q4. Akan tetapi, saat ini, industri batu bara nasional tengah menyasar ekspansi ke pasar Eropa.

Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, nilai ekspor batubara Indonesia mencapai US$4,2 miliar pada September 2022. Angka ini turun 4,54% dibandingkan bulan sebelumnya (Agustus).

Meskipun menurun, ekspor batu bara Indonesia ke Tiongkok pada September 2022 justru melejit 41,19% dibandingkan bulan sebelumnya (month-to-month/mom). Nilainya naik dari US$672,19 juta pada Agustus 2022 menjadi US$949,08 juta September.

Nilai ekspor batu bara RI ke Tiongkok pun masih menempati peringkat teratas pada September 2022. Berikutnya, Jepang menduduki peringkat kedua dengan nilai ekspor batu bara RI senilai US$693,95 juta. Nilai ini turun 3,86% dibandingkan bulan sebelumnya (mtm) yang sebesar U$721,82 juta.

Kemudian, nilai ekspor batu bara RI ke India tercatat senilai US$565,46 juta atau turun 33,47% secara bulanan (mtm). Lalu, ekspor batu bara ke Filipina turun 19,72% mtm. Tercatat nilainya terkontraksi dari US$541,16 juta menjadi US$434,43 juta pada September 2022.

Kendati ada penurunan ekpor ke sejumlah negara, pertumbuhan ekspor batubara ke Eropa sangat menjanjikan. Menurut Kementerian ESDM, pertumbuhan ekspor batubara ke Eropa terus mengalami pertumbuhan, terutama pada bulan September. Direktur Pembinaan Pengusahaan Batubara Lana Saria mengungkapkan, volume ekspor batubara ke Eropa pada September mencapai 1,18 juta ton. Jumlah ini melonjak dari permintaan Agustus yang sebesar 574, 84 ribu ton.

Loading batubara dari tongkang ke coal carrier STS Ambang Luar Sungai Musi

 

Hal senada diungkapkan Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI). APBI mencatat, ekspor batu bara Indonesia ke Eropa mencapai hingga 3,5 juta ton sampai 4 juta ton sampai pada Oktober 2022 ini.

“Ini memang belum angka resmi. Cuma memang terjadi peningkatan yang luar biasa,” kata Direktur Eksekutif APBI, Hendra Sinadia pada bulan September sebagaimana ditulis CNBC.

Apalagi, sejumlah perusahaan tambang nasional terus melakukan ekpansi market ke negara-negara Eropa.  PT Bukit Asam, misalnya, telah menandatangani kontrak ekspor batu bara ke Italia sebanyak 140.000 metrik ton (MT) pada semester I tahun ini. Selain Italia, perseroan juga sedang dalam proses penjajakan kontrak ekspor batu bara ke Jerman dan Polandia.

Aktivitas STS Semakin Ramai

Kenaikan permintaan ekspor batubara berdampak pada tingginya kunjungan kapal (coal carrier) serta kapal-kapal feeder (tongkang) di sejumlah titik muat batu bara untuk ekpor, termasuk di STS Ambang Luar Sungai Musi. Hal ini tentu berimpikasi terhadap aktivitas lainnya, termasuk aktivitas layanan jasa pandu dan tunda (pilotage and towage).

Sebagaimana diketahui, Kawasan Pelabuhan Ambang Luar, Tanjung Buyut Anchorage, Palembang diwajibkan pandu mulai pada tahun 2019, sesuai dengan Keputusan Menteri Perhubungan Laut Nomor : PP.304/3/5/DJPL-18 Tentang Penetapan Perairan Wajib Pandu Kelas 1 Pada Pelabuhan Palembang Provinsi Sumatera Selatan.

Layanan pilotage JAI di STS Ambang Luar Sungai Musi

Sebelum peraturan tersebut diresmikan dan dilaksanakan di Wilayah Perairan Tanjung Buyut Anchorage, Palembang hanya menggunakan menggunakan VTS (Vessel Traffic Service). Hal tersebut mulai dilaksanakan pada tahun 2015 yang dilengkapi peralatan seperti Radar, Automatic Identification System (AIS), Radio VHF Communication, CCTV dan Meteorologi Sensor.

Menyusul dikeluarkannya peraturan tersebut, pemerintah mendelegasikan layanan kepanduan kepada sejumlah perusahaan jasa pemanduan yang memiliki izin usahan BUP (Badan Usaha Pelabuhan), termasuk PT Jasa Armada Indonesia (JAI), anak usaha PT Pelindo Jasa Maritim Subholding (SPJM). Di samping melaksanakan jasa pemanduan sebagai penerima pelimpahan wewenang pemerintah, sebagai BUP, JAI juga melakukan layanan aktivitas penundaan, dengan market share di STS sekitar 80%.

Seiring tingginya kunjungan coal carrier, aktivitias layanan kepanduan di STS Ambang Luar Sungai Musi terus mengalami peningkatan. Pada tahun ini, menurut data dari JAI Palembang, rata-rata kunjungan coal carrier mencapai 50 call per bulan. Dengan asumsi setiap coal carrier membutuhkan supply batubara dari 8-10 tongkang, total jumlah feeder call (tongkang) mencapai 400-500 call per bulan.

“Saat ini, total pergerakan layanan JAI di STS Ambang Luar Sungai Musi mencapai 900 gerakan per bulan, baik untuk layanan pandu maupun tunda,” kata Branch Manager JAI Palembang Fajar kepada Indonesia Shipping Gazette.

“Hampir 90% layanan kami untuk aktivitas batubara,” lanjutnya.

Ketika media Indonesia Shipping Gazette melakukan kunjungan ke Lokasi STS tersebut pada akhir November lalu, memang kawasan tersebut begitu ramai. Puluhan tongkang batu bara sedang merapat dan antri sekitar lima (5) coal carrier yang melakukan bongkar muat. “Ini belum puncak keramaian,” kata salah satu crew kapal tunda yang sedang melakukan aktivitas penundaan.

“Di sini, memang puncak keramaian tidak menentu. Itu tergantung kiriman dari hulu yang sangat bergantung pada kondisi (pasang-surut) Sungai Musi. Terkadang puluhan tongkang sekali datang,” lanjutnya.

Sejak dimulai pelayanan tahun 2019, menurut JAI, trend kunjungan kapal terus mengalami peningkatan. Kapal-kapal yang dilayani bervariasi, mulai dari kapal dengan panjang 70 meter sampai dengan lebih dari 250 meter dengan petumbuhan gerakan rata-rata 45% per tahun. Sementara dari 2019 hingga 2022 terjadi pertumbuhan gerakan sebesar 180% dan produksi GT kapal total sebesar 164%.

Salah Satu Kapal Tunda JAI di STS Ambang Luar Sungai Musi

 

Saat ini PT Jasa Armada Indonesia Tbk menempatkan 4 Petugas Pandu dan 2 Unit Kapal Tunda untuk melayani kegiatan alih muat/sts di lokasi tersebut. Dan rencananya PT Jasa Armada Indonesia Tbk juga akan menambah unit Kapal Tunda, Kapal Pandu dan Petugas Pandu guna optimalisasi pelayanan di lokasi tersebut.

Fasilitas tersebut, menurut Fajar, masih memadai untuk saat ini. Namun, jika gerakannya mencapai 1.500 per bulan, sudah harus ada penambahan. “Tentu kantor pusat sudah memertimbangkan hal tersebut dan sudah berencana untuk menambah fasilitas sesuai dengan trend pertumbuhan yang ada,” kata Fajar.

Peningkatan layanan di STS tersebut turut berkontribusi dalam mendongkrak revenue dan laba JAI. Berdasarkan laporan keuangan tidak diaudit per 30 September 2022, pendapatan bersih JAI tembus Rp671,05 miliar, tumbuh 11,83 persen dibandingkan dengan realisasi kuartal III/2021 sebesar Rp600,08 miliar (year-on-year/yoy).

Kenaikan pendapatan tersebut berdampak pada kenaikan laba usaha JAI sebesar 16,5 persen menjadi Rp120,32 miliar per September 2022 dibandingkan dengan RP103,83 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Pertumbuhan tersebut membuat laba tahun berjalan atau laba bersih perseroan turut meningkat 12,22 persen dari Rp90,54 miliar menjadi Rp101,67 miliar pada 9 bulan 2022 ini.

Join Telegram Group Shipping & Logistics:

Kenaikan revenue dan laba tersebut tentu tak terlepas dari kontribusi pendapatan dari layanan dari STS Ambang Luar Sungai Musi. Apalagi, tingginya kunjungan kapal oceangoing (coal carrier/mother vessel) turut mendongkrak pendapatan dollar perusahaan ini. Untuk diketahui, tariff pandu dan tunda untuk kapal oceangoing di-charge dalam dollar, sementara untuk tongkang-tongkang dalam negeri dalam rupiah.