Terminal Peti Kemas (TPK) Belawan
PT Pelindo Terminal Petikemas (SPTP), perusahaan operator terminal peti kemas, melakukan pembatasan penumpukan petikemas sebagai langkah untuk mengantisipasi adanya cuaca buruk yang menerjang area terminal peti kemas.
Seluruh terminal diinstruksikan untuk tidak menumpuk peti kemas lebih dari 4 lapis. Dalam kondisi cuaca normal, terminal dapat menumpuk peti kemas setinggi 6 lapis.
“Pembatasan penumpukan peti kemas dilakukan untuk meminimalkan peti kemas jatuh akibat angin kencang. Ini sudah menjadi prosedur perusahaan untuk meminimalkan kecelakaan kerja, yang diakibatkan oleh cuaca buruk,” kata Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas. Widyaswendra, Senin (02/01).
Lanjutnya, operasional bongkar muat peti kemas di dermaga juga menyesuaikan dengan kecepatan angin di lokasi terminal. Contohnya kegiatan bongkar muat peti kemas di TPK New Makassar akan dihentikan ketika kecepatan angin sudah mencapai 20 meter per detik atau sekitar 40 knot.
“Saat kecepatan angin mencapai kecepatan tersebut (40 knot), sesuai prosedur keamanan dan keselamatan kerja, seluruh personil diwajibkan untuk meninggalkan alat bongkar muat dengan segera dan memastikan rem badai sudah diaktifkan, serta pin jangkar alat sudah dipasang,” urai Widyaswendra.
Selain antisipasi hujan deras dan angin kencang, SPTP juga mengantisipasi adanya luapan air laut (rob) yang masuk ke area terminal. Khusus TPK Semarang misalnya, SPTP menyiagakan 29 pompa air untuk mengantisipasi masuknya air laut ke area operasional terminal. Selain menyiagakan pompa, TPK Semarang juga melakukan rekayasa dengan menambah bantalan untuk menjaga petikemas dengan posisi paling bawah agar aman dari genangan air.
“Kami rutin melakukan simulasi penganganan keadaan darurat, baik angin kencang maupun air rob, sehingga saat hal tersebut terjadi seluruh personil telah siap dan mengetahui tugas dan peran masing-masing,” tutup Widyaswendra.
Jadwal sandar tetap
Dalam pernyataannya, General Manager PT Tanto Intim Line Cabang Medan, Bustanul Arifin Siregar menyebut kondisi cuaca yang tidak menentu tidak mengganggu operasional kapal yang menuju ataupun meninggalkan TPK Belawan. Karena kapal yang beroperasi menuju pelabuhan utama di Sumatra Utara tersebut berukuran rata-rata 17.000 gross tonnage (GT), sehingga tidak berpengaruh pada stabilitas kapal pada saat menghadapi cuaca di tengah luat.
“Kami ada 3 kedatangan kapal setiap minggu di TPK Belawan, 2 kapal dari Jakarta dan 1 kapal dari Surabaya. Sejauh ini tidak ada keterlambatan, semua masih sesuai jadwal sandar yang telah ditetapkan,” katanya.

