Pembangunan Gudang Transit Curah Kering di Pelabuhan Ciwandan (Banten) sudah hampir rampung 100%. Diharapkan gudang tersebut segera beroperasi sehingga bisa membantu kecepatan bongkar muat dan pada akhirnya bisa memangkas port stay.
Terbagi dalam enam (6) compartment dengan masing-masingnya berukuran 1.800 m2 (60x30m), gudang yang dibangun di atas lahan seluas satu hektar ini diharapkan mampu menampung berbagai komoditas curah kering (dry bulk) seperti gandum, jagung, dan gula, dengan total kapasitas mencapai 45.000 ton.

Gudang terbagi dalam 6 compartment
“Pembangunan fisik gudang sudah selesai. Saat ini sedang dilakukan evaluasi dan pemasangan fasilitas tambahan seperti CCTV serta kelengkapan jembatan timbang di gate in/out. Di samping itu, tim dari kantor pusat (Pelindo Pusat) sedang melakukan evaluasi. Proses penyerahan dari vendor kepada kami (Pelindo) akan segera dilakukan,” kata Agung Fitrianto, General Manager Pelindo Regional 2 Banten.
“Segera setelah serah terima dari vendor, kami akan segera lakukan serah terima ke PTP (PT PTP Terminal Nonpetikemas) untuk dioperasikan,” lanjut Agung.
Agung menjelaskan, pembangangunan gudang ini merupakan bagian dari rencana Pelindo dalam mendukung kecepatan bongkar muat yang saat ini masih menggunakan sistem truck losing yakni pembongkaran dari kapal langsung ke truk dan selanjutnya dikirim keluar dari pelabuhan.
Selama ini barang-barang curah itu langsung diangkut dari kapal ke atas truk. Namun kadang menghadapi kendala. Jika truk tersebut terhambat dalam perjalanan karena kendala macet di jalan atau proses bongkar di luran lama, hal tersebut akan berdampak pada terhentinya kegiatan bongkar muat di pelabuhan.

Agung Fitrianto
Keberadaan gudang ini diharapkan bisa mengatasi masalah ini. Proses bongkar muat barang tersebut tidak terhambat oleh ketersediaan angkutan truk yang datang ke Pelabuhan. Sebab, barang yang datang bisa langsung diturunkan ke gudang, kemudian nanti truk angkutan barang bisa membawa barang tersebut dari gudang.
“Semangatnya adalah untuk mempercepat proses bongkar muat,” jelas Agung.
Agung menjelaskan, nantinya, gudang ini akan dioperasikan oleh PT. PTP Terminal Nonpetikemas, anak usaha Pelindo Multi Terminal Subholding (SPMT), yang berpengalaman dalam menangani barang-barang curah. “Jika nantinya sudah resmi diserahterimakan dari vendor, kami akan segera serahkan ke PTP untuk dioperasikan,” jelas Agung.
Dukung Pertumbuhan Dry Bulk sebagai Kargo Unggulan
Sementara itu, Branch Manager PT PTP Terminal Nonpetikemas Banten Andi Purwantoro menyambut baik atas selesainya pembangunan gudang tersebut. Menurut Andi, keberadaan gudang tersebut nantinya akan sangat membantu kinerja operasional, baik di sisi lautnya (port stay kapal) maupun sisi darat (proses delivery dari pelabuhan ke hinterland). Disamping itu, dengan fasilitas gudang yang modern, storage komoditas, khususnya komoditas unggulan seperti gandum, akan jauh lebih aman.
“Gudang ini akan mendorong proses bongkar muat terus berlangsung tanpa harus menunggu keberadaan truk. Jika saat ini pembongkaran akan terpaksa berhenti karena truk belum datang, maka nantinya, proses bongkar akan berjalan terus. Ini tentu akan berimbas pada produktivitas harian,” jelasnya.

Andi Purwantoro
Menurut data yang ada, saat ini (dengan sistem truck losing), bongkar muat rata-rata Pelabuhan Banten sekitar 8 – 14 ribu ton per hari. Setelah Gudang beroperasi, kemampuan bongkar muat diharapkan naik sekitar 16-18 ribu ton per hari.
Hal ini juga akan berimbas pada port stay kapal, dari saat ini rata-rata empat hari akan terpangkas menjadi tiga hari.
Gudang ini juga akan membantu kenyamanan proses bongkar muat beberapa komoditas curah kering unggulan seperti gandum, gula, dan jagung. Komoditi curah kering (dry bulk) tetap menjadi unggulan untuk Pelabuhan Ciwandan. “Komoditas unggulannya dari dry bulk adalah gandum. Gudang ini diharapkan bisa membantu kelancaran bongkar muat komoditas-komoditas curah kering, termasuk gandum,” kata Andi.

