Dalam dua tahun terakhir (2023 – 2024), upah pekerja dalam industri pelayaran mengalami peningkatan sekitar 10%. Namun, kenaikan tersebut tidak secara otomatis meningkatkan minat orang untuk bekerja di sektor ini. Bahkan sebaliknya, angka migrasi pelaut untuk pindah kerja ke sektor lain malah meningkat.
Hal tersebut disampaikan dalam laporan survey terbaru Danica Crewing Specialists dengan respondent sebanyak 4.900 pelaut. Survey tersebut juga mengungkapkan, saat ini, industri pelayaran sedang mengalami kekurangan pelaut yang kompeten. Disamping adanya migrasi besar-besaran, pekerjaan menjadi pelaut dinilai kurang diminati oleh generasi baru.
Padahal, kata Henrik Jensen, CEO Danica Crewing Specialists, sejalan dengan kinerja keuangannya yang semakin baik, sejumlah perusahaan pelayaran menwarkan upah yang lebih baik. “Antara tahun 2023 dan 2024, upah pelaut rata-rata mengalami kenaikan sebesar 10%,” kata Henrik Jensen dalam release mengenai hasil survey tersebut.
Kenaikan upah ini terjadi di semua jenis kapal. Hanya saja, memang tetap ada perbedaan tingkat upah dan kenaikan upah antara pekerja dari negara-negara tertentu. Perwira senior dari negara India yang bekerja di kapal kargo curah kering, misalnya, mendapatkan upah yang lebih tinggi sekitar 10 dibanding dengan rekan-rekan mereka dari Eropa Timur dan Filipina. Sementara itu, perwira junior asal Filipina menerima gaji lebih rendah daripada rekan mereka dari Eropa Timur dan India.
Sering Ganti Pekerjaan
Survei tersebut mengungkapkan bahwa pelaut kini lebih sering berganti pekerjaan. 58 persen pelaut melaporkan telah berganti pemberi kerja setidaknya sekali dalam tiga tahun terakhir, sebuah peningkatan signifikan dibandingkan dengan data lima tahun lalu. Di tahun 2019, hanya sekitar 25 persen pelaut berganti pekerjaan untuk mencari gaji yang lebih tinggi, namun kini angka tersebut melonjak menjadi 37 persen.
Selain faktor gaji, pelaut juga mencari keuntungan lain seperti akses internet gratis, kapal yang lebih baru, kesempatan promosi, dan asuransi kesehatan. Semua faktor ini menjadi alasan utama mereka untuk pindah pekerjaan.
Faktor Kesejahteraan
Namun, meskipun ada peningkatan dalam kompensasi, kesejahteraan awak kapal tetap menjadi isu yang signifikan. Danica Crewing Specialists melaporkan beberapa masalah yang mengkhawatirkan, termasuk:
- Kekurangan makanan dan air minum, yang masih dialami oleh 25 persen pelaut, meningkat dari 20 persen pada tahun 2019.
- Ketidakpastian pembayaran gaji: 35 persen pelaut melaporkan bahwa mereka tidak dibayar tepat waktu, sementara 7 persen lainnya tidak menerima gaji mereka secara penuh.
- Masalah pengembalian tepat waktu: Meski ada penurunan jumlah pelaut yang tidak dibebastugaskan tepat waktu sejak pandemi, sekitar 20 persen pelaut masih belum pulang sesuai jadwal.
Selain itu, survei tersebut juga mencatat adanya laporan tentang perundungan dan pelecehan di laut, dengan 1 dari 8 pelaut mengalaminya. Lebih lanjut, sekitar 35 persen pelaut melaporkan ketidakpatuhan terhadap aturan jam istirahat yang telah ditetapkan oleh undang-undang. Kekhawatiran mental juga meningkat, dengan 14 persen pelaut melaporkan merasa tertekan selama kontrak mereka pada tahun 2024, naik dari 11 persen pada tahun sebelumnya.
Berita baiknya, akses pelaut ke dukungan kesehatan mental semakin meningkat. Meskipun masih ada ruang untuk perbaikan, 30 persen pelaut kini memanfaatkan layanan dukungan mental yang tersedia, meningkat dari 23 persen pada tahun 2023. Namun, pelaut yang merasa bahwa layanan tersebut bermanfaat sedikit menurun, dengan 65 persen yang menganggapnya efektif, dibandingkan dengan 75 persen pada tahun lalu.

