Skip to content

Efek Kebijakan Tarif Trump terhadap Volume Impor dari China Kecil

Kebijakan tarif impor yang diterapkan oleh Presiden AS Donald Trump tampaknya tidak memberikan dampak signifikan terhadap arus impor dari China. Volume impor tetap tinggi, sementara kemacetan di pelabuhan China dan AS justru meningkat. Hingga saat ini, tidak ada indikasi perubahan besar terkait kondisi tersebut.

Pengenaan tarif 10% terhadap seluruh impor China ke AS, menurut Ross Atkins dari BBC, bertujuan untuk melindungi konsumen AS dari pengaruh ekonomi luar dan meningkatkan kemandirian Amerika. Namun, efektivitas tarif 25% yang telah berlaku sejak 2018 masih dipertanyakan, mengingat data terbaru menunjukkan kemacetan pelabuhan tetap terjadi di kedua negara.

Get Free Latest Magazine by Join Our Weekly Newsletter:Click here to join free weekly newsletter

Menurut CEO Beacon, Fraser Robinson menjelang Tahun Baru Imlek, rata-rata waktu berlabuh kapal di sejumlah pelabuhan utama China meningkat. Shanghai mengalami lonjakan hingga 21 jam, sementara Zhoushan dan Yantian juga mencatat peningkatan waktu berlabuh masing-masing 9 dan 3 jam. Di AS, pelabuhan di pantai timur seperti Charleston dan Savannah juga mengalami penundaan yang signifikan.

“Peningkatan kemacetan menjelang Tahun Baru Imlek bukanlah hal yang aneh. Namun, tekanan tambahan akibat tarif perdagangan dan potensi pengalihan rute melalui Terusan Suez dapat menyebabkan ketidakpastian bagi pengirim barang sepanjang tahun,” kata Robinson sebagaimana ditulis sea-trade.com.

Tarif 25% yang diperkenalkan sejak pertengahan 2018 seharusnya membatasi arus impor dari China. Namun, menurut Peterson Institute for International Economics (PIIE), perjanjian perdagangan yang ditandatangani antara AS dan China pada Januari 2020 gagal mencapai target. China hanya memenuhi 58% dari komitmen pembelian barang dan jasa AS senilai $200 miliar pada 2020 dan 2021, meskipun kesepakatan tersebut awalnya disebut sebagai “perjanjian perdagangan bersejarah” oleh Trump.

Analis MDS Transmodal, Antonella Teodoro, mencatat bahwa ketidakseimbangan perdagangan antara AS dan China tetap konsisten. Pada 2017, China mengirim hampir empat kali lebih banyak kontainer ke AS dibandingkan sebaliknya, dan tren ini terus berlanjut. Impor AS dari China mencapai hampir 12 juta TEU pada 2021, sedangkan ekspor AS ke China hanya mencapai 1,73 juta TEU dan kembali turun menjadi 1,65 juta TEU pada tahun berikutnya.

“Perang dagang (2018-2019) dan pandemi (2020-2021) memberikan dampak besar terhadap arus perdagangan. Penurunan ekspor AS menunjukkan melemahnya permintaan barang AS di China atau adanya pergeseran rantai pasok. Meski ada sedikit pemulihan pada 2024, ekspor AS tetap lemah,” jelas Teodoro.

Secara keseluruhan, sebelum tarif diberlakukan pada 2018, impor AS dari China mencapai 10,6 juta TEU. Pada 2024, angka ini hanya turun sedikit menjadi 10,4 juta TEU. Sebaliknya, ekspor AS ke China turun dari 2,78 juta TEU pada 2017 menjadi 1,65 juta TEU pada 2024.

PIIE menyimpulkan bahwa satu-satunya aspek “historis” dari perjanjian perdagangan AS-China 2020 adalah kegagalannya dalam mencapai tujuan yang ditetapkan. Meskipun demikian, data MDS Transmodal menunjukkan bahwa ekspor AS dalam satuan berat ton menunjukkan tren yang sedikit berbeda. Impor AS dari China, yang mencapai 77,7 juta ton pada 2017, meningkat menjadi 82 juta ton pada tahun berikutnya sebelum turun ke 70,5 juta ton pada 2024. Sementara itu, ekspor AS ke China sempat mencapai puncaknya di 127,4 juta ton pada 2021 sebelum turun menjadi 99,3 juta ton pada 2023.

Join Telegram Group Shipping & Logistics:

Teodoro menambahkan bahwa ekspor AS cenderung berorientasi pada komoditas dengan beban berat, sementara ekspor China lebih banyak menggunakan kontainer dengan nilai tinggi. “Perdagangan kedua negara menurun pada 2023, dengan penyusutan lebih tajam di sisi China. Namun, pada 2024, perdagangan AS-China diperkirakan akan mengalami pemulihan,” tutupnya.