Kendati proyeksi pertumbuhan ekonominya mencapai 8% tahun ini, China sedang berjuang untuk mengatasi banyak tantangan ekonomi yang dibuatnya sendiri. Kerugian utang pengembang properti terbesar di negara itu –oleh China Evergrande yang berutang lebih dari USD 300 miliar (setara dengan Rp 4,294 Triliun) – mengancam akan menghancurkan pasar properti. Penjualan rumah tinggal baru turun sebanyak seperlima.
Beijing juga bergerak untuk mengendalikan banyak raksasa teknologi China, memicu aksi penjualan saham antara lain raksasa belanja online Alibaba dan produsen video game Tencent. Pada hari Jumat, Tencent diperintahkan untuk menangguhkan peluncuran aplikasi baru sebagai bagian dari pembatasan lebih lanjut pada rencana ekspansinya.
Bulan lalu, regulator China membidik sektor perbankan regional, di tengah kekhawatiran bahwa para konglomerat dan pejabat pemerintah daerah telah membangun hubungan yang terlalu dekat dengan beberapa pemberi pinjaman kecil dan menengah di negara itu. Menurut majalah The Economist, bank-bank ini membentuk sekitar sepertiga dari sektor perbankan komersial China, dengan aset USD 14 triliun.
Ekspor Menopang Lemahnya Ekonomi
Sektor instrumen manufaktur China yang luar biasa membantu menopang perekonomian negara tersebut. Pada bulan Oktober, The Asian Powerhouse ini mencatat rekor surplus perdagangan bulanan sebagai efek dari melonjaknya ekspor meskipun terdapat gangguan pada rantai pasokan global. Bulan lalu nilai ekspor naik sebesar 27,1% dari tahun sebelumnya menjadi USD 300,2 miliar.
Sementara Beijing bertindak dalam upaya mengendalikan pasar properti, bank serta perusahaan teknologi, beberapa analis dikejutkan dengan tetap besarnya permintaan barang-barang China di negara barat pasca lockdown ini. Pada titik tertentu, mereka berpendapat, Amerika Serikat dan Eropa akan melihat pertumbuhan layanan domestik, termasuk pariwisata dan perhotelan, menyusul permintaan barang impor.
Max Zengelin, kepala ekonom di Mercator Institute for China Studies (MERICS) yang berbasis di Berlin, mengatakan kepada DW , “China mendapatkan keuntungan melalui permintaan global yang sangat kuat, sementara di dalam negeri, titik lemahnya adalah tingkat konsumsi. Hal ini tidak pernah benar-benar pulih (dari pandemi), dibandingkan dengan investasi atau manufaktur.”
Rebound dalam belanja konsumen mengalami hambatan semenjak wabah COVID-19 pertama kali muncul di Wuhan tahun 2019 lalu dimana memunculkan kebijakan lockdown. Pembatasan tersebut merugikan penjualan ritel yang mengalami rebound hanya sebesar 2,5%, gagal mencapai perkiraan kenaikan 7% dari tahun ke tahun di bulan Agustus.
Winter Olympic tidak membantu
The Winter Olimpyc, yang berlangsung di Beijing dan provinsi Hebei pada bulan Februari, biasanya akan menjadi dorongan besar bagi segala sektor perekonomian. Tetapi dengan adanya pembatasan masuk kemungkinan akan menurunkan minat para penggemar olahraga asing, sementara perjalanan domestik skala besar pun dapat memicu menyebarnya wabah virus korona dan semakin menurunkan tingkat belanja konsumen.
Menurut proyeksi Bloombers Economics, momentum ekspor yang kuat diperkirakan akan menopang pertumbuhan untuk beberapa bulan lagi. Tetapi menurunnya permintaan dari Barat tetap menjadi risiko besar bagi sektor ekonomi Beijing dan akan membuat kota ini berada pada “tempat yang sulit”, ujar Zengelin. Para pemimpin China kemudian akan “di bawah tekanan untuk melepaskan stimulus yang mungkin bertentangan dengan upaya mereka untuk mengurangi risiko keuangan.”
China membuat pernyataan untuk berhenti memenuhi sektor ekonomi dengan sejumlah besar stimulus moneter dan fiskal untuk mendorong pertumbuhan. Sebaliknya, Beijing merencanakan langkah-langkah stimulus yang lebih kecil dan ditargetkan terhadap konsumsi domestik, termasuk bantuan untuk usaha kecil dan menengah. Pendekatan baru ini adalah cara untuk mencapai visi Presiden Xi Jinping tentang “kemakmuran bersama,” untuk mengatasi ketidaksetaraan pendapatan dan kekayaan yang semakin memburuk dalam dekade terakhir.
Kebijakan tidak selaras dengan konsep teoritis
Selama bertahun-tahun Kepemimpinan China mengklaim bahwa konsumsi domestik adalah prioritas ekonomi tetapi manufaktur untuk ekspor terus mendominasi. The Communist Party’s Politburo Standing Committee mengajukan strategi “sirkulasi ganda”, di mana permintaan domestik dirangsang, sementara ketergantungan pada pasar luar negeri dikurangi. Zengelin mengatakan ide itu tetap menjadi “konsep teoretis, bukan kebijakan.”
Zengelin juga menambahkan “Kebijakan ekonomi China bertentangan dengan peningkatan konsumsi domestik. Untuk mendongkrak konsumsi, diperlukan perubahan fundamental, kelembagaan, dan restrukturisasi ekonomi. Konsumsi domestik tetap menjadi titik lemah China dan saya tidak melihat indikasi perubahan apa pun dalam jangka pendek.”
Baru-baru ini ekonom AS, Stephen S. Roach, mengatakan dalam sebuah opini untuk Project Syndicate “rencana redistribusi dan pengaturan ulang akan berdampak besar (buruk) bagi “jantung” berbasis pasar yang telah menopang pertumbuhan ekonomi China sejak tahun 1980-an. Selain itu peningkatan kontrol Negara juga mungkin merupakan kesalahan perhitungan yang berbahaya.Zeneglin mendukung komentar tersebut dengan menggarisbawahi bahwa “menguatkan konsumsi berarti mundurnya negara, tetapi kami melihat kebalikannya.”
Think tank AS bulan lalu melaporkan Atlantic Council and consultancy Rhodium Group meminta Beijing untuk mengizinkan sektor swasta memainkan peran yang lebih besar dalam perekonomian dan meningkatkan investasi lintas batas untuk mempertahankan keunggulan ekonominya. Menurut laporan tersebut, “Tanpa perubahan yang berorientasi pasar, China akan berjuang untuk mempertahankan potensi pertumbuhan yang melebihi 3% per tahun pada pertengahan dekade ini.”
Sumber: DW

