Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) ikut prihatin atas kondisi kemacetan parah yang melanda sepanjang Jalan Yos Sudarso, Jakarta Utara, kata Ketua DPD Aptrindo DKI Jakarta Mustajab Susilo Basuki.
Untuk menekan kemacetan, DPD Aptrindo DKI Jakarta sudah menerbitan surat himbauan kepada para pengusaha truk (anggota) agar menghindari dan mengurangi beban kegiatan di jalan raya tersebut pada jam sibuk terkait kegiatan anak sekolah dan jam karyawan ke kantor sekitar pk 06.00 – 07.00, tambah Mustajab, Rabu (25/7/2018).
Senin lalu masyarakat pendemo mendatangi Kantor Walikota Jakut minta agar Walikota ikut menyelesaikan kemacetan parah di Jl Yos Sudarso, Jakarta Utara
“Kami sudah ingatkan anggota bagi yang belum mendesak agar pada jam sibuk tadi bisa menangguhkan lewat di jalan tersebut,” katanya
“Kita minta pada anggota agar pada jam sibuk kegiatan anak berangkat sekolah dan karyawan ke kantor kegiatan operasonal angkutan barang di tahan dulu untuk kurangi kemacetan di jalan raya wilayah Jakarta Utara,” ujar Mustajab dalam percakapan dengan Indonesia Shipping Gazette.
Namun solusi terbaik, kata Mustajab, harus dilakukan penataan ruang kembali baik daerah hunian masyarakat mau pun sentra bisnis logistik.
“Kedua wilayah tersebut harus mampu dipisahkan tata ruangnya sehingga tidak terjadi pertemuan langsung antara dua kepentingan,” tambahnya.
Menurut dia, kedua aktivitas ini sama sama penting. Arus barang logistik yang digerakkan dengan armada trailler merupakan tiang utama penyangga perekonomian nasional Indonesia.
Di sisi lain kepentingan masyarakat umum untuk beraktivitas sehari-hari baik ke kantor, ke sekolah atau kesibukan lainnya mestinya juga tidak terganggu oleh pergerakan arus barang logistik.
Kongkretnya, ujar Mustajab, di wilayah pelabuhan mulai dilakukan penataan dengan parameter tertentu baik ruang hunian untuk masyarakat mau pun sentra kegiatan logistik.
Misalnya disatukannya daerah pool truk trailler, depo kontainer, pergudangan dan perkantoran logistik yg melayani pelabuhan dengan dilengkapi jalur koneksitas.
Contonya ada jalan khusus dari dan ke pelabuhan untuk akses ke pool, depo, pergudangan dan perkantoran sehingga tidak terjadi pertemuan langsung dengan akses kegiatan masyarakat sehari-hari.
“Ini hanya bisa diwujudkan kalau semua pemangku kepentingan peduli dengan masalah ini. Lalu duduk bareng dan berpikir dengan jernih tanpa mendahulukan kepentingan masing masing,” tegas Mustajab. (wilam)

