Aptrindo: Gerakan Angkutan Barang Tak Efisien & Perlu Kawasan Logistik Terpadu

Pergerakan angkutan barang ekspor/impor dari garasi hingga ke Pabrik (impor) atau Pelabuhan Tanjung Priok (ekspor) tidak efisien. Karena harus melakukan 20 gerakan dan 14 gerakan di antaranya membawa kontainer kosong atau hanya membawa kereta (buntutnya) saja.

Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) menilai: selain tidak efisien secara bisnis, kondisi ini juga menjadi salah satu penyebab kemacetan di Jl Cakung Cilincing (Cacing)/ Marunda hingga kawasan Pelabuhan Tanjung Priok.

Demikian rangkuman wawancara Indonesia Shipping Gazette dengan Ketum DPP Aptrindo Gemilang Tarigan dan Ketua DPD Aptrindo DKI Mustajab Susilo Basuki secara terpisah minggu ini.

Untuk memangkas gerakan angkutan barang yang tidak efisien sekaligus mencegah kemacetan, Aptrindo mengusulkan agar dibangun kawasan logistik terpadu di sekitar kawasan industri. “Di sana ada depo kontainer kosong, grasi dan dilengkapi fasilitas rumah susun untuk tempat tinggal pengemudi,” kata Mustajab Susilo Basuki.

Dengan demikian , ujar Mustajab, angkutan barang tidak perlu banyak melakukan gerakan saat mau mengangkut barang ekspor mau pun impor.

Untuk angkut barang ekspor , ujarnya, kendaraan dari garasi langsung ke lokasi logistik terpadu untuk ambil kontainer kosong sekaligus diisi barang tujuan ekspor dan lanjut ke Pelabuhan. Dari pelabuhan kembali ke garasi.

Hal serupa juga terjadi untuk barang impor. Angkutan dari garasi langsung ke Pelabuhan ambil barang selanjutnya langsung ke kawasan logistik terpadu untuk antar barang ke pabrik sekaligus kembalikan kontainer kosong dan pulang ke garasi yang lokasinya di daerah sama, tambah Mustajab.

Sementara, Gemilang Tarigan memberikan problem solving yang lain. Dia mengusulkan agar Pelabuhan Tanjung Priok ditetapkan sebagai Pelabuhan kontainer dengan depo kontainer kosong berada di Pelabuhan sehingga Angkutan hanya membutuhkan beberapa gerakan saja, ujar Tarigan.

Memberikan contoh banyaknya gerakan angkutan barang sekarang ini, Tarigan mengatakan untuk ekspor dari gerasi yang tersebar di Cakung, Cilincing Semper, Marunda & berbagai tempat lain harus ke Depo antara lain di Jl.Cacing untuk ambil kontainer kosong.

Selanjutnya, bawa kontainer kosong tadi ke pabrik untuk diisi barang ekspor kemudian diangkut ke Pelabuhan Tanjung Priok, lalu kembali lagi ke garasi dalam keadaan kendaraan kosong.

Hal yang sama juga terjadi pada kegiatan mengangkut barang impor. Kendaraan dari garasi ke Pelabuhan ambil barang impor kemudian dibawa ke pabrik. Selanjutnya dari pabrik bawa kontainer kosong ke depo, kemudian pulang ke garasi.

Menjawab pertanyaan, Ketua DPD Aptrindo DKI Mustajab menegaskan kemacetan di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok termasuk Jl.Cakung – Cilincing (Cacing) tidak mudah diselesaikan karena disebabkan banyak faktor.

Selain banyaknya gerakan angkutan barang, kurangnya buffer area, dan kecepatan bongkar muat di Pelabuhan belum optimal, juga akibat belum semua stake holder di Pelabuhan menerapkan 24/7 (kerja 24 jam sehari dan 7 hari seminggu).

Misalnya masih banyak angkutan umum ngantri di depo untuk kembalikan kontainer kosong karena depo jam 17.00 sudah tutup.

Problem lain, tambah Tarigan, terjadi ketidakseimbangan penggunaan kontainer pada kegiatan ekspor dan impor juga berdampak pada angkutan harus membawa kontainer kosong dari kapal dengan ongkos sangat minim.

Tarigan mengatakan kegiatan ekspor umumnya menggunakan kontainer 20 feet. Sementara impor menggunakan kontainer 40 feet sehingga sering terjadi kelangkaan kontainer 20 feet di dalam negeri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *