Ketua DPD Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) DKI Jakarta Mustajab Susilo Basuki menilai Tol Trans Jawa belum siap untuk melayani angkutan logistik.
Pasalnya, dari hasil survey Aptrindo belum lama ini, mencatat mulai dari ruas Tol Pejagan hingga ke Mojokerto Surabaya sekitar 15 Rest Area (RA) belum dilengkapi dengan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).
“Kita belum bicara soal tarif tol mahal”, tambah Mustajab, baru kelengkapan sarana penunjang seperti SPBU saja masih belum siap, ujarnya dalam percakapan dengan Indonesia Shipping Gazette, Kamis (7/2/2019). Berikut Rest Area (RA) yang belum dilengkapi SPBU yaitu RA 292 B di ruas Tol Tegal /Pemalang, RA 362 B Batang/Waleri, 378 A antara Batang – Waleri , 389B antara Waleri/ Kendal dan 391 A antaara Waleri /Kendal. Sementara pada RA 429 A setelah Gerbang Tol Kali Kelungkung ada SPBU tapi belum dioperasikan.
Selanjutnya sekitar 8 titik RA mulai dari Karang Anyar /Solo hingga Mojokerto Surabaya belum dilengkapi dengan SPBU.
Mustajab mengatakan kita belum bisa mengharapkan Tol Trans Jawa dapat menurunkan biaya logistik. Karena selain tarifnya mahal sarana penunjang seperti SPBU belum siap dioperasikan.
Menurut Mustajab, Tarif Tol Trans Jawa terlalu mahal. Misalnya Jajarta – Pasuruan sekitar Rp 1.637.000 sekali jalan atau Rp 3.274.000 (P/P) untuk jenis angkutan sumbu 3 atau lebih (golongan 4 dan 5).
“Dengan tarif tol sebesar itu plus uang jalan sopir termasuk BBM antara Rp 4 – 5 juta P/P”, ujar Mustajab, secara bisnis sudah tidak efisien angkutan barang menggunakan tol tersebut. Sementara ongkos yang diterima dari pemilik barang berkisar antara Rp 10 – Rp 15 juta.
“Kita sebagai pengusaha angkutan barang masih harus menghitung biaya ganti ban. Misalnya trailer dengan ban 22 buah harus ganti setiap 6 bulan kalau melayani Jakarta – Surabaya.”
Pasalnya, sebagian besar jalannya terbuat dari cor beton yang lebih cepat menghabiskan ban kendaraan dibandingkan dengan jalan aspal.

