Kapal Kontener Idle Cetak Rekor 11,6% dari Total Kapasitas Global, Ini Penyebabnya

Hingga akhir Mei 2020, total kapal kontener (containership) yang tidak beroperasi (idle) mencetak rekor, dengan kapasitas sebesar 2,72 juta TEU, atau sekitar 11,6% dari total kapasitas global.

Menurut Lembaga Analis Alphaliner, ada dua faktor utama yang menyebabkan tingginya kapal idle selama lima bulan pertama tahun ini.

Pertama, tingginya angka blank sailing (penangguhan jadwal pelayaran) sebagai dampak dari turunnya volume perdagangan kontener (containerized cargo) selama merebaknya coronavirus (covid-19).

Kedua, sejumlah kapal sedang docking untuk pemasangan scrubber sebagai respons terhadap pemberlakuan aturan baru IMO (International Maritime Organization) per 1 Januari, 2020, terkait penggunaan bahan bakar dengan kandungan sulfur yang rendah bagi kapal yang belum dilengkapi scrubber. Sebagai dampaknya, sejak akhir tahun lalu, banyak perusahaan pelayaran global secara bertahap men-docking-kan kapal-kapalnya untuk pemasangan scrubber.

Menurut data Alphaliner, ada 64 kapal dengan total kapasitas mencapai 571.858 TEU saat ini sedang docking untuk pemasangan scrubber.

Alphaliner juga menjelaskan, dua pelayaran terbesar global yakni Maersk dan MSC memiliki porsi terbesar dari total kapasitas idle tersebut. Kedua pelayaran tersebut menyumbang sebesar 845.000 TEU. Menurut Seatrade Maritime News, separuh lebih dari kapasitas idle dari kedua pelayaran tersebut disebabkan karena kapal sedang docking untuk pemasangan scrubber, sementara sisanya karena kebijakan blank sailing.

Alphaliner memprediksi angka kapasitas idle diperkirakan akan mengecil dalam beberapa waktu ke depan menyusul berakhirnya kebijakan lockdown di sejumlah negara yang bisa mendorong aktivitas perdagangan berangsur pulih.

“Ketakutan pelayaran akan turunnya volume pada bulan Mei, yang mendorong mereka melakukan kebijakan blank sailing dalam jumlah besar, dinilai terlalu berlebihan. Kenyataannya, selama bulan Mei, malah terjadi kekurangan kapasitas untuk sejumlah rute. Hal ini memicu kenaikan freight rate (tarif angkut) selama periode tersebut,” tulis Alphaliner dalam pernyataannya sebagaimana ditulis Seatrade Maritime News.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *