Sejauh Mana Market Pelabuhan Tanjung Priok Tergerus Patimban Jika Sudah Beroperasi?

Penulis: Harijanto (Direktur Eksekutif Himpunan Masyarakat Peduli Maritim)

Pelabuhan Patimban, Subang Jawa Barat telah ditetapkan pengelolaannya kepada Pihak Swasta oleh Pemerintah. Hal ini telah disampaikan oleh Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dihadapan para pengusaha kapal yang tergabung dalam Asosiasi Badan Pelabuhan Indonesia (ABPI) dan Persatuan Pengusaha Pelayaran Niaga Nasional Indonesia atau Indonesian National Shipowners’ Association (INSA) dalam acara HUT Ke-5 ABPI di Hotel JW Marriot, Jakarta, Jumat (21/2/2020). Menurutnya, penyerahan amanah itu diberikan agar pelabuhan baru tersebut kelak dapat bersaing dan berkompetisi dengan pelabuhan-pelabuhan yang sudah sejak lama berdiri seperti Pelabuhan Tanjung Priok. “Insyaallah pada bulan September 2020 akan soft launching,” tambahnya.

Pernyataan yang sangat menarik untuk dibahas lebih lanjut dan dicermati, sekaligus mengakhiri polemik yang selama ini berkembangan, tentang siapakah Pengelola Pelabuhan Patimban. Mengapa menarik untuk dibahas.

Pertama dari letak geografisnya, Pelabuhan Patimban terletak di Jawa Barat bagian Barat yang hampir berdekatan langsung dengan Ibukota Jakarta hanya terhalang dua kabupaten yaitu Karawang dan Bekasi. Dengan letak geografis tersebut akan dapat mereduksi waktu dan biaya bagi kegiatan ekspor dan impor khususnya dari kawasan kawasan industri yang berada di wilayah Bekasi dan Karawang dan umumnya untuk wilayah Jawa Barat sekitarnya yaitu wilayah Bandung, Cirebon dan daerah lainnya di Jawa Barat. Bandung selama ini melaksanakan kegiatan ekpor impornya melalui Trucking dan sebagian kecil menggunakan Kereta Api ke Pelabuhan Tanjung Priok. Sedangkan Cirebon sebagian besar menggunakan trucking untuk kegiatan ekspor dan impornya ke Pelabuhan Tanjung Priok.

Share of Industrial Estates (area)

Region Area (ha) Share (% )
Banten 12,234 27.7%
Bekasi (West Java) 9,775 22,1%
Karawang (West Java) 16,400 37,1%
Purwakarta (West Java) 3,187 7,2%
Other (West Java) 1,452 3,3%
DKI Jakarta 1,132 2,6%
Total 44,179 100,0%

Source : JICA

Dengan dioperasikannya Pelabuhan Patimban, rantai waktu dan distribusi pengiriman akan semakin cepat. Karena selama ini kemacetan lalu lintas di DKI Jakarta dan / atau jalan tol Cikampek menyebabkan keterlambatan dan tidak efisien transportasi darat dan memaksa pemasok untuk mengambil alih persediaan berlebih untuk menghindari gangguan jalur produksi pelanggan mereka. Perusahaan logistik mengoperasikan layanan di malam hari dan perusahaan manufaktur terpaksa menjadwal ulang perpindahan tenaga kerja serta berjuang untuk mengurangi biaya material dan upah. Kondisi yang tidak menguntungkan tersebut menimbulkan biaya tambahan untuk perusahaan.

Kedua dari aspek operasional. Kondisi objektif saat ini yang terjadi di Pelabuhan Tanjung Priok antara lain informasi dan / atau keterlambatan pengiriman kontainer kosong telah menyebabkan kerja lembur para karyawan, kurangnya area penumpukan petikemas, terbatasnya fasilitas berlabuh kapal, lalu lintas terus menerus mengalami kemacetan baik di dalam maupun sekitar pelabuhan dan lead time yang lebih lama. Selanjutnya, kerusakan barang selama pekerjaan bongkar muat, tingginya tarif penyimpanan petikemas dan pencurian kargo di dalam pelabuhan, demo buruh/karyawan serta banjir kerap kali dikeluhkan pengguna jasa.

Dengan dibangunnya pelabuhan baru berskala internasional yang letaknya berada diluar Ibukota seperti Pelabuhan Patimban akan dapat diharapkan dapat mengakomodir dan adaptip terhadap keinginan dan harapan dari pengguna jasa. Adapun keinginan dan harapan tersebut telah dirangkum oleh Tim Suvey JICA sebagai berikut :

  • Efisiensi dan fungsi pelabuhan baru minimal sama pelayanannya atau jauh lebih baik dari Pelabuhan Tanjung Priok.
  • Jalan raya baru harus dibangun untuk mengamankan akses yang lancar ke port baru.
  • Layanan bea cukai minimal sama atau lebih efisien dari Pelabuhan Tanjung Priok.
  • Cadangan daerah dan pedalaman (hinterland) harus dikembangkan seiring dengan pengembangan pelabuhan baru.
  • Diterapkannya layanan 3 hari gratis untuk layanan penumpukan.
  • Jumlah Gate (gerbang) yang cukup harus disediakan di port baru.
  • Adanya akses kereta api.

Demand pengguna potensial pelabuhan ini dapat mewakili suara atau keinginan seluruh komponen pelaku bisnis dipelabuhan bahwasannya efisiensi waktu dan biaya adalah merupakan hal yang utama dalam rangka menurunkan biaya logistik nasional.

Dari kedua aspek tersebut sudah dapat disimpulkan bahwasannya Pelabuhan Patimban akan memainkan perannya sebagai pelabuhan baru, dengan harapan baru dengan area market sharenya meliputi wilayah Jawa Barat kecuali wilayah Bekasi sedangkan Pelabuhan Tanjung Priok meliputi DKI Jakarta, Banten dan Bekasi sesuai kajian JICA.

Pembangunan Pelabuhan Patimban dalam Tahap pertama Fase I, lanjutnya akan digunakan untuk terminal peti kemas seluas 35 hektare dengan kapasitas 250.000 TEUs dan 25 hektare untuk terminal kendaraan utuh (completely build up/CBU) dengan kapasitas 218.000 unit. Fase II akan dikembangkan terminal peti kemas seluas 66 hektare berkapasitas 3,75 TEUs, terminal kendaraan berkapasitas 382.000 unit kendaraan utuh (CBU), dan Ro-Ro terminal sepanjang 200 meter. Tahap kedua, kapasitas pelayanan terminal peti kemas akan meningkat menjadi 5,5 juta TEUs. Dan pada tahap ketiga akan meningkat hingga 7,5 juta TEUs.

Yang menarik dari dibangunannya Pelabuhan Patimban dan penetapan pengelolaannya dipercayakan kepada pihak swasta akan terjadi persaingan (kompetisi) secara ketat antara Pelabuhan Tanjung Priok dengan Pelabuhan Patimban dimasa datang. Dengan beroperasinya Pelabuhan Patimban diperkirakan arus petikemas dan barang di Pelabuhan Tanjung Priok akan mengalami penurunan. Dan penurunan yang paling besar akan terjadi di Terminal Kendaraan PT. Indonesia Kendaraan Terminal (IKT).

Mengapa demikian, mengapa IKT yang akan banyak kehilangan pangsa pasar ketika telah beroperasinya Pelabuhan Patimban secara penuh. Seperti diketahui bahwasanya Pelabuhan Patimbang di design untuk menangani kegiatan petikemas, terminal kendaraan, menangani Cargo Break-bulk (Steel Coils) untuk Produksi Mobil dan Handling Petroleum Products. Selama ini IKT adalah perusahaan pioneer dan satu satunya perusahaan yang menangani layanan terminal kendaraan. Dengan beroperasinya Pelabuhan Patimban dengan pelayanan yang hampir sama dengan IKT tentunya pangsa pasar akan terbagi dua bahkan cenderung sebagian besar akan beralih ke Pelabuhan Patimban hal ini terkait dengan ada rencana Astra Group Sunter relokasi industri ke wilayah Karawang tahun 2023. Rencana pengembangan kawasan industri baru di timur Karawang. Satu pengembang memiliki rencana pengembangan kawasan industri seluas 2.000 ha di Kabupaten Subang dengan 800 ha tahap pertama akan beroperasi pada 2019 dan pembebasan lahan 360 ha selesai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *