Dibanding Forwarder, Kenaikan Laba Pelayaran Jauh Lebih Tinggi Selama Pandemi

Kendati mengahadapi masalah tarif sewa kapal charter yang sedang tinggi dan adanya beban biaya tambahan sebagai dampak dari kongesti di sejumlah Pelabuhan global selama merebaknya pandemi covid-19, pertumbuhan laba perusahaan pelayaran sangat memuaskan. Dibanding perusahaan forwarding, pertumbuhan laba perusahaan pelayaran jauh lebih tinggi.

Sejak kuartal pertama tahun lalu (Q12020), laba perusahaan pelayaran global terus mengalami peningkatan. Memang, hal yang sama juga dialami oleh perusahaan forwarding, akan tetapi dengan persentasi kenaikan yang lebih rendah.

Menurut data Xeneta, sebagaimana dikutip ifw-net.com, persentase kenaikkan laba operator pelayaran global meningkat dari 5% pada Q12020 (awal pandemi) menjadi 30% pada kuartal 2 tahun ini (Q2 2021). Sementara dalam periode yang sama, persentase kenaikan laba perusahaan forwarding global hanya meningkat dari 3% pada Q12020 menjadi 8% pada Q2 2021.

Ini merupakan sebuah ironi, kata Thorsten Diephaus, Direktur Strategi Xeneta. Mengapa? Karena, secara kasat mata, perusahaan forwarding membuat tagihan yang begitu besar dengan margin yang kelihatannya besar, tetapi bukan mereka yang mendapatkan keuntungan terbesar.

“Siapa yang dapat uang paling banyak? Sebenarnya, disaat harga pasar tinggi, sangat mudah bagi forwarder untuk mengambil margin yang lebih besar, Tetapi, faktanya, bukan mereka yang mendapatkan keuntungan terbesar,” kata Thorsten

Tidak seperti Thorsten yang sepertinya agak sinis dengan perusahaan pelayaran, Peter Sand, Kepala Analis Shipping BIMCO, melihat laba besar yang diraih perusahaan pelayaran juga merupakan buah dari strategi jitu dalam melakukan efisiensi biaya. Menurutnya, profit besar perusahaan pelayaran juga didorong oleh pengendalian biaya yang sangat ketat.

“Kita lihat operator pelayaran menurunkan biaya di setiap bagian bisnis mereka selama beberapa tahun terakhir. Juga, pengoperasian kapal kontainer super besar (ultra-large container ships) mampu menciptakan economy of scale yang lebih besar, sejauh kapal-kapal tersebut terisi penuh,” kata Sand.

“Semua upaya efisiensi sudah dilakukan perusahaan pelayaran. Dan hasilnya, cost per unit kontener mencapai rekor terendah. Operator tidak hanya diuntungkan dari spot market, tetapi juga dari kontrak jangka panjang. Dan ini penting karena bagian terbesar dari bisnis adalah kontrak jangka Panjang,” lanjut Sand.

Tariff Charter Naik Dua Kali Lipat

Kondisi shipping selama masa pandemi memang sesuatu yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Kelangkaan container, pertumbuhan demand yang lebih tinggi dari supply, serta kekurangan slot kapal turut memicu freight yang sangat tinggi serta kenaikan harga charter kapal yang luar biasa.

Harga charter mencapai titik tertinggi dalam sejarah. Belum lagi pelayaran dipaksa harus menerima periode kontrak yang lebih lama dari lazimnya. Menurut Xeneta, Sebagian besar perusahaan penyedia kapal charter hanya menerima charter jangka panjang dengan durasi 24 bulan. Ini sangat jauh lebih panjang dari durasi biasanya antara 6-12 bulan.

“Mereka (penyedia kapal charter) menaikkan tariff hingga dua kali lipat. Jika menginginkan harga lebih murah, anda harus mengkompensasinya dengan periode charter yang lebih panjang. Bahkan demi harga yang lebih murah atau karena memang persediaan kapal charter juga sudah habis, sejumlah perusahaan pelayaran terpaksa men-charter kapal tua yang secara komersial seharusnya sudah tidak layak,” kata Sand.

Solusi dengan pengadaan kapal baru juga tidak mudah. Pembangunan kapal baru butuh waktu yang lama. Apalagi, kapasitas galangan global sudah full book hingga tahun 2023/24.

Memang saat ini sedikit terbantu oleh adanya sejumlah kapal dry bulk yang difungsikan untuk mengangkut kontener. Tetapi, menurut Sand, hal ini tidak akan berlangsung lama. Kapal-kapal dry bulk akan kembali ke fungsi utamanya begitu kargo dry bulk sudah mulai tumbuh lagi.

“Pada akhirnya, pelayaran akan berupaya untuk menambah armada kapal container. Dani ini menjadi market yang potensial bagi penyedia kapal charter. Namun, penambahan armada tidak akan secara otomatis memangkas tariff (freight rate) karena masalah kongesti di Pelabuhan. Akibatnya, pelayaran tidak bisa secara otomatis mengankut lebih banyak kargo dari tahun-tahun sebelumnya,” kata Sand.

Pendapatan Rerata Per TEU Naik Tajam

Kendati ada perdebatan apakah kenaikan laba pelayaran lebih dipicu oleh efisiensi operasional atau karena kenaikan freight rate yang luar biasa, namun tak bisa dipungkiri kenaikan freight sangat memicu peningkatan pendapatan perusahaan pelayaran.

“Freight selalu bergerak dinamis. Tetapi yang pasti, selama pandemi, hitungan pendapatan rata-rata per TEU meningkat sangat tajam,” kata Thorsten.

Menurut hitungan Xeneta, kata Thorsten, pendapatan per TEU pada semester pertama tahun 2021 adalah $1500 – 2000, naik hampir dua kali lipat dari rata-rata sebelumnya sebesar $900 – 1100/TEU.

Sand juga mengakui hal tersebut, walau dia tetap berpendapat bahwa kenaikan freight bukan faktor tunggal kenaikan laba pelayaran tetapi juga terbantu oleh adanya efisiensi biaya. Sand juga mengakui pasar masih dalam tren naik, baik untuk kontrak jangka pendek maupun jangka panjang.

“Tetapi, ketidastabilan rantai pasok adalah masalah terbesar lainnya. Misalnya, waktu transit yang lebih lama dari diharapkan. Bagi pelayaran ini juga adalah biaya dan perlu strategi jitu agar efisiensi biaya bisa terjaga,” kata Sand.

Menurut Sand, dalam skala global, aktivitas rantai pasok saat ini sedang rapuh. Dan ini tentu sangat mencemaskan bagi aktivitas perdagangan, aktivitas pengiriman barang, dan terutama bagi pemilik barang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *