Skip to content

Eropa Kembali Dilanda Masalah Container Shortage, Diversifikasi Rantai Pasok Mendesak

Dalam analisis terbarunya terkait kinerja container shipping dan rantai pasok dalam triwulan pertama tahun ini (Q1 2022), lembaga riset Container xChange memaparkan, saat ini Eropa sedang menghadapi kekurangan kontainer (container shortage). Ada dua faktor utama penyebabnya.  Pertama, lockdown di China menyusul peningkatan jumlah kasus Covid. Kedua, perang di Ukraina yang sangat berdampak terhadap aktivitas perdagangan.

Container xChange juga melaporkan, bersamaan dengan masalah container shortage,  throughput pelabuhan juga menurun. Penurunan throughput setidaknya terjadi pada dua Pelabuhan Utama Eropa, Antwerpen dan Rotterdam. Throughput kedua Pelabuhan tersebut selama Q1 dilaporkan lebih rendah dibanding Q1 tahun lalu (2021).

Get Free Latest Magazine by Join Our Weekly Newsletter:Click here to join free weekly newsletter

Dalam laporan logistik kontainer bulanan yang berjudul ‘Where are all the containers‘,  Container xChange mengatakan sebagian besar container tersebut saat ini sedang menumpuk di pelabuhan di China sebagai dampak dari kebijakan lock down negara tersebut yang memang terkenal dengan kebijakan zero case tanpa kompromi.

“Situasi ini berpotensi menyebabkan kekacauan yang lebih besar dalam beberapa minggu atau bahkan beberapa bulan mendatang. Jika lock down terus berlanjut, dampaknya terhadap perdagangan di Eropa, khususnya Pelabuhan di Eropa, akan lebih lama, bisa berbulan-bulan,” kata Christian Roeloffs, salah satu pendiri dan CEO, Container xChange.

Fenomena lain yang dihadapi Eropa yakni penurunan harga peti kemas. Harga rata-rata kontainer 20 ft DC dan 40 ft HC dilaporkan menurun di pelabuhan Antwerpen, Rotterdam, dan Hamburg.

Dalam laporan analisisnya, Container xChange memaparkan harga rata-rata untuk peti kemas 40 ft HC turun $3.350 pada 23 Februari menjadi $2.760 pada 3 Mei 2022. Angka ini turun cukup drastis setelah invasi Rusia ke Ukraina. Apalagi jika dibanding dengan harga tertinggi (peak) pada Juli 2021 yang mencapai $ 4.400/40 ft HC.

Masalah kekurangan peti kemas di pelabuhan-pelabuhan utama Eropa pada gilirannya nanti akan berdampak pada bisnis dan aktivitas ekonomi lainnya, terutama rantai pasok. Industri mau tidak mau mencari jalan lain (dalam menjamin rantai pasok) agar industry dan aktivitas ekonominya bisa tetap jalan.

Perubahan Pola Rantai Pasok

Hasil analisis Container xChange mengamini pendapat-pendapat sebelumnya bahwa Perang Rusia-Ukraina memiliki konsekuensi yang mengerikan pada rantai pasok Eropa. Tetapi pada tingkat makro, dua dampak langsungnya adalah — kenaikan harga energi dan inflasi yang dihasilkan dari perang ini.

Kenaikan harga energi dan inflasi selanjutnya akan menciptakan ketidakseimbangan antara permintaan dan pasokan di seluruh industri dan wilayah. “Ada indikasi permintaan barang saat ini menurun, yang disebabkan karena inflasi dan biaya transportasi yang lebih tinggi. Tetapi pada saat yang sama, dorongan untuk mendapatkan barang-barang dari negara-negara yang lebih murah semakin meningkat. Permintaan ke negara-negara tersebut akan meningkat dan memicu kenaikkan permintaan akan jasa transportasi,” kata Roeloffs. Akibatnya, perubahan permintaan-penawaran dan pola sumber akan memperburuk ketidakseimbangan kontainer secara global.

Lockdown di China telah membawa lebih banyak ketidakpastian rantai pasok. “Lockdown China telah memperlambat rantai pasok global. Dengan demikian, berapa kali peti kemas berpindah dari tujuan ekspor ke tujuan impor berdampak signifikan. Ini bukan indikator yang baik untuk memprediksi ketersediaan dan harga kontainer dalam jangka pendek.”

“Prospek untuk rantai pasokan dan industri logistik kontainer tetap suram dan tidak pasti di tengah gangguan. Penguncian COVID dan perang di Ukraina akan terus berdampak pada ekonomi global secara signifikan. Oleh karena itu, kebangkitan rantai pasokan tetap tidak bisa dipasikan.”

Minimalisir Resiko, Diversifikasi Rantai Pasok

Menurut Container xChange, banyak perusahaan yang ingin mendiversifikasi rantai pasok mereka di masa yang akan datang untuk meminimalisir resiko. Pola rantai pasok yang lebih bersifat linier saat ini – di mana sebagian besar masih berkonsentrasi pada beberapa area, wilayah, atau negara tertentu – dinilai riskan dan tidak lagi menjamin keberlangsungan industri dan bisnis mereka.

“Dan oleh karena itu, perusahaan-perusahaan ingin membuat strategi baru dengan mendiversifikasi sumber-sumber baru dari wilayah lain. Penambahan rute perdagangan akan membantu mendistribusikan risiko dan pada saat yang sama mendapatkan komponen yang sama dari berbagai wilayah. Dan itu akan memecah permintaan rantai pasok,” jelas Container xChange.

Pada saat sebelum pandemi, isu rantai pasok lebih terkait dengan masalah efisiensi dan soal ketepatan waktu pengiriman sehingga bisa menghasilkan keuntungan yang lebih besar. Saat ini, kata Container xChange, perusahaan akan menata ulang rantai pasokan mereka secara lebih fundamental, artinya sejumlah aspek seperti jalur perdagangan, lokasi mitra, dan rute peti kemas dimasukkan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari pola rantai pasok.

“Resiko diminimalkan dengan cara diversifikasi. Jika kita menerapkan logika yang sama pada rantai pasok, diversifikasi bisa menjadi arah strategis yang dapat diadopsi oleh perusahaan untuk bisnis,” kata Container xChange.

Join Telegram Group Shipping & Logistics:

Sumber: Container xChange