Skip to content

Perang Bisa Picu Industri Perpendek Rantai Pasok, dari Global ke Regional

Sama seperti aktivitas ekonomi dan perdagangan, kegiatan supply chain terus mendapat tekanan dalam beberapa tahun terakhir. Setelah tertekan oleh ketegangan hubungan AS-China dan pandemi Covid-19, perang Ukraina memberi tekanan yang lebih dalam lagi terhadap aktivitas rantai pasok.

Menurut hasil studi Economist Intelligence Unit (EIU), semakin besarnya tekanan tersebut bisa saja berdampak pada perubahan pola supply chain ke depan, dari pola yang bersifat global ke pola yang sifatnya lebih regional.

Get Free Latest Magazine by Join Our Weekly Newsletter:Click here to join free weekly newsletter

Perang di Ukraina, kata EIU sebagaimana ditulis lloydslist, kemungkinan akan mendorong industri global untuk memperpendek rantai pasok. “Tekanan yang besar terhadap supply chain akan memaksa industri untuk men-supply stok komponen utama dalam jumlah yang lebih banyak dan menambah supply dari pemasok lokal,” kata EIU.

Industri, termasuk industry otomotif akan memperpendek rantai pasok untuk menjamian ketersediaan stok sehingga produksi bisa berjalan sustainable. Rantai pasok yang lebih pendek dinilai kurang rentan terhadap gangguan perdagangan dan masalah geopolitik, sekaligus menurunkan biaya pengiriman dan asuransi.

Sebagaimana dilaporkan sebelumnya, industry-industri di Eropa, khususnya industri otomotif, sudah merasakan dampak langsung dari terganggunya supply  chain sebagai dampak dari perang di Ukraina. Reuters melaporkan banyak industri di Eropa saat ini mengalami kekurangan pasokan komponen utama karena supply dari Ukraina dan Rusia terputus.

Saat ini, tingkat produksi industri-industri besar eropa mengalami penurunan yang drastis. Produsen mobil terkemuka global milik Jerman seperti Porsche, Volkswagen, dan BMW serta produen truk MAN semuanya telah membatasi produksinya karena kurangnya pasokan komponen dari wilayah krisis.

Invasi Rusia telah memaksa penutupan pemasokan kabel-kabel – salah satu komponen penting mobil – dari Ukraina. Hal lainnya, Continental, perusahaan Jerman yang memproduksi suku cadang mobil, sudah menghentikan operasinya di Rusia dan sedang berupaya untuk mengalihkan produksi. Sebelum memulai produksi baru, produsen mobil sebagai pengguna suku cadang sudah pasti mengalami kendala yang berimbas pada produktivitas mereka.

“Jika situasi geopolitik, khususnya di Eropa Timur, tetap tegang atau bahkan memburuk, krisis supply chain akan semakin parah dan akan berdampak pada produktivitas industri dan level permintaan,” tulis Reuters mengutip kecemasan sejumlah produsen mobil.

Dilaporkan, karena kekurangan komponen, Porsche untuk sementara telah menangguhkan produksi mobil listrik Taycan di Stuttgart-Zuffenhausen. Itu berarti, ada sekitar 200 mobil Taycan batal diproduksi dalam sehari.

Hal yang sama dialami produsen ban Prancis, Michelin. Pekan lalu, perusahaan ini mengatakan akan menghentikan sementara produksi di beberapa pabriknya di Eropa karena masalah logistik.

Di Republik Ceko, lebih dari seperlima perusahaan sektor otomotif mengalami masalah karena kekurangan komponen.

Kendala dalam proses pengiriman karena penutupan moda transportasi, baik laut, udara, darat, maupun kereta api telah memperparah proses distribusi, baik distribusi komponen maupun distribusi hasil produksi otomotif. Apalagi, industri otomotif sebenarnya masih terkena dampak lain dari kekurangan chip dan melonjaknya harga energi.

Industry otomotif juga menghadapi kenaikan harga komponen yang luar biasa. Dari harga aluminium untuk bodi mobil hingga paladium untuk catalytic converter, semuanya melonjak sejak invasi.

Join Telegram Group Shipping & Logistics:

Produksi otomotif di Eropa sangat bertumpu pada rantai pasok yang kompleks. Ketika rantai pasok terganggu, industri mobil sangat mudah terpukul. Dan saat ini, dampaknya sudah dirasakan jauh lebih luas ketika rantai pasoknya terganggu.