Skip to content

Kapasitas Pelayaran Ditambah, Kontainer Malah Terjebak di Pelabuhan

Operator kapal mencoba menambah jutaan kontainer baru untuk mengatasi krisis kapasitas yang parah, namun kontainer-kontainer tersebut terjebak di dalam jalur dan pelabuhan saat shipping berada pada periode tersibuknya.

Musim puncak pengiriman biasanya dimulai pada akhir Juni ketika importir mulai memesan produk untuk musim sekolah dan liburan. Tahun ini, pesanan dilakukan pada pertengahan Mei karena perusahaan mencoba mengatasi kekurangan produk yang melanda mereka tahun lalu. Hal tersebut merupakan awal mula bertambahnya tantangan untuk membuat rantai pasokan lancar.

Get Free Latest Magazine by Join Our Weekly Newsletter:Click here to join free weekly newsletter

“Saat ini importir membawa kargo untuk berjaga-jaga, tidak tepat waktu, dan hal tersebut menyebabkan penumpukan peti kemas di Pelabuhan menjadi lebih banyak,” ungkap Gene Seroka, Direktur Eksekutif Pelabuhan Los Angeles. “Penumpukkan tersebut akan terus terjadi hingga awal tahun depan jika kita tidak meningkatkan kecepatan untuk mengeluarkan box tersebut dari kapal dan keluar dari pelabuhan.”

Seroka mengatakan box tersebut diangkat secara bertahap dan pelabuhan harus menangani lebih banyak kargo akibat dibukanya Shanghai, pelabuhan terbesar di dunia, setelah sempat ditutup selama dua bulan untuk memerangi wabah Covid.

Brokership dan konsultan kapal memperkirakan sekitar 12% kapal peti kemas dunia terjebak di luar pelabuhan yang padat selama berminggu-minggu lebih lama dari biasanya, dan distribusi darat—terutama di AS—masih terhambat oleh kurangnya kereta api, pengemudi truk, dan ruang pergudangan yang terbatas.

Operator kapal dan brokership mengatakan bahwa pada awal 2022, ada sekitar 50,5 juta kontainer yang tersedia, delapan juta lebih banyak dari sebelum pandemi.

Peningkatan tersebut terjadi karena melonjaknya permintaan untuk impor Asia oleh pengecer besar Amerika seperti Walmart Inc. dan Amazon.com Inc., yang secara kolektif merupakan lebih dari seperempat dari keseluruhan impor peti kemas di AS.

Eksekutif liner mengungkapkan, biasanya dibutuhkan rata-rata 45 hari untuk mengirim produk dari eksportir di China ke importir di AS, namun sekarang memakan waktu lebih dari 100 hari.

“Di pelabuhan ekspor, kapal Shanghai menunggu lebih lama untuk dimuat, dan di pelabuhan impor seperti Los Angeles mereka mengalami kemacetan karena tidak ada ruang di depo peti kemas,” ungkap Lars Jensen, kepala eksekutif perusahaan konsultan Vespucci Maritime yang berbasis di Denmark. “Ada cukup banyak kontainer dan lebih banyak lagi yang ditambahkan, tetapi itu tidak akan membantu jika setiap bagian dari rantai pasokan bergerak lambat.”

Di Los Angeles, 40% dari kontainer yang masuk ditujukan untuk diangkut dengan kereta api, tetapi hanya sekitar setengahnya yang berhasil dimuat setiap hari. Perusahaan kereta api besar merumahkan sebagian besar tenaga kerja mereka selama pandemi dan berjuang untuk mendapatkannya kembali setelah banyak yang pindah ke pekerjaan dengan gaji lebih baik, ungkap eksekutif shipping.

Seroka mengungkapkan bahwa, “Waktu yang dibutuhkan untuk mengangkut sebuah peti kemas dengan kereta api adalah dua hari, namun akibat volume peti kemas impor yang naik enam kali lipat sejak Februari, maka waktu yang dibutuhkan untuk mengangkut box tersebut bertambah menjadi lebih dari enam hari. “Selama pandemi, ada permintaan gila dan saat ini masih terlalu banyak persediaan yang masuk,” tambahnya.

Seroka juga mengatakan tidak cukupnya masinis dan gerbong, sementara setengah dari kapasitas gerbang pelabuhan untuk truk tidak terpakai akibat banyak pemilik kargo tidak mengambil box mereka karena kurangnya ruang pergudangan. Gudang kontainer dan pusat distribusi di California Selatan lebih dari 95% penuh.

Dalam beberapa hal, keadaan menjadi lebih baik. Saat ini lebih mudah untuk menemukan kontainer, dan antrian kapal yang menunggu untuk berlabuh di Los Angeles dan Long Beach adalah sekitar 30, turun dari lebih dari 100 pada Januari lalu, ketika importir berlomba untuk mengisi kembali persediaan yang semakin menipis.

Walmart mengatakan bahwa tingkat persediaan naik 33% selama setahun pada kuartal pertama, mencerminkan harga barang yang lebih tinggi akibat inflasi. Dikatakan juga perang di Ukraina dan peningkatan Covid-19 secara global menciptakan penundaan pengiriman.

Para eksekutif kapal mengatakan penambahan volume peti kemas telah membantu menjaga tarif pengangkutan tahun ini rata-rata USD 8.000 per box pada kapal jalur China-Pantai Barat AS. Tarif tersebut kurang dari setengah biaya shipping dari akhir tahun lalu, ketika Walmart dan raksasa ritel lainnya untuk sementara menyewa kapal mereka sendiri untuk mengangkut kargo.

Tetapi dengan adanya gangguan rantai pasokan hinterland yang memperlambat pergerakan barang, menyebabkan operator mengurangi penambahan kontainer.

“Sementara operator terus memesan peti kemas untuk mengatasi masalah ketersediaan, hal ini diperkirakan akan melambat seiring meningkatnya ketidakpastian,” ungkap Hanja Maria Richter, juru bicara perusahaan peti kemas Jerman Hapag-Lloyd AG. “Meningkatnya tingkat inflasi, kemacetan yang sedang berlangsung dalam rantai pasokan dan perang Rusia-Ukraina mempengaruhi sentimen investor dan potensi pertumbuhan perdagangan.”

Hapag-Lloyd menambahkan 50.000 kontainer di kapalnya pada kuartal kedua tahun ini.

Join Telegram Group Shipping & Logistics:

Seorang perwakilan dari A.P. Moller-Maersk A/S mengatakan kekurangan peti kemas global tampaknya telah berakhir, dengan rekor jumlah kotak kosong yang menunggu untuk dimuat di pelabuhan Asia, kebalikan dari tahun lalu ketika butuh waktu berbulan-bulan untuk ribuan kontainer kosong di pelabuhan Barat untuk kembali ke Asia.