Sejumlah lembaga analis melaporkan kondisi rantai pasok global saat ini dengan kesimpulan yang relatif sama – kongesti dan gangguan rantai pasok belum selesai, bahkan berpotensi tambah buruk. Jeda pada awal hingga pertengahan Februari belum bisa dijadikan acuan. Menurunnya angka antrian kapal di dua pelabuhan terbesar AS – Los Angeles dan Long Beach – yang selama ini dituding sebagai biang utama chaos rantai pasok global serta kondisi beberapa pelabuhan di Asia yang cukup baik pada Februari, juga tidak bisa menjadi kesimpulan bahwa kondisinya membaik.
Hasil kajian lembaga-lembaga tersebut menunjukkan fakta yang berbeda. Bahkan, ada potensi kongesti yang lebih buruk menjelang kuartal ke-2 (Q2).
Lembaga kajian Linerlytica yang berbasis di Asia misalnya, memaparkan data sementara bahwa pada beberapa minggu terakhir ini kemacetan di sebagian besar wilayah Asia berkurang. Dua pelabuhan terbesar di AS – Los Angeles dan Long Beach juga terlihat ada tanda-tanda penurunan jumlah antrian kapal. Namun, menurutnya, ini lebih disebabkan karena beberapa kapal dialihkan dari kedua pelabuhan tersebut ke pelabuhan lainnya. Imbasnya, sejumlah pelabuhan penerima peralihan tersebut malah mengalami kongesti yang semakin parah, bahkan beberapa mengalami rekor kongesti tertinggi.
“Untuk di Amerika, semua mata memang diarahkan ke LA (Los Angeles) dan LB (Long Beach). Ketika angka antrian kapal keduanya menurun, semua orang berpikir masalahnya sudah hampir selesai. Kenyataannya, secara keseluruhan, masalah (kongesti) di pelabuhan AS tetap pada rekor tertinggi. Pengurangan LA dan LB adalah hasil dari pengalihan kapal ke Pantai Timur AS serta pelabuhan Pantai Barat lainnya sejak Oktober 2021. Ini telah menyebarkan penularan kemacetan ke beberapa pelabuhan Amerika Utara lainnya,” tulis Linerlytica dalam keterangannya.
Secara total, Linerlytica menghitung 10% dari armada boxship global – atau 2,53m TEU – masih terjebak dalam kemacetan pelabuhan saat ini.
Sea-Intelligence, Lembaga Research yang berbasis di Denmark, memperkirakan akan terjadi peningkatan jumlah kapal yang dijadwalkan untuk mengirimkan kargo dari Asia ke Amerika Utara pada bulan Maret dan April. Ini akan menambah kemacetan pelabuhan karena dua alasan.
Pertama, jumlah kapal yang dijadwalkan berangkat denga tujuan Asia – USWC (Pantai Barat Amerika) akan meningkat tajam lebih dari 40% dibandingkan angka normal pra-pandemi, kata Alan Murphy, CEO Sea- Intelijen.
Kedua, karena lebih banyak kapal dikerahkan, maka jumlah kapal yang lebih kecil meningkat. “Sederhananya, menangani dua kapal 5.000 TEU lebih kurang efisien daripada menangani satu kapal 10.000 TEU, jika waktu dari pelabuhan asal hingga waktu Pelabuhan tujuan juga diperhitungkan,” jelas Murphy.
“Yang lebih mengkhawatirkan adalah akan terjadi peningkatan jumlah kapal, yakni kurang lebih 60% pada rute Asia – Pantai Timur Amerika dalam beberapa bulan mendatang. Pelayaran akan menghindari kemacetan di Pantai Barat AS dengan beralih ke Pantai Timur. Ini tentu berpotensi memperparah kongesti di pelabuhan-pelabuhan Pantai Timur,” lanjut Murphy
Sementara itu, analis di Alphaliner mengatakan mereka tidak melihat penundaan kapal di perdagangan Asia – Eropa Utara dan China – California mengalami peningkatan sejak survei perdagangan terbaru yang diterbitkan November lalu.
Menurut keterangan Alphaliner, kendati keseluruhan jumlah kapal yang menunggu untuk berlabuh di Los Angeles dan Long Beach mengalami penurunan dari angka 109 unit saat puncaknya pada 9 Januari menjadi hanya 76 pada awal minggu ini, namun waktu transit untuk kapal rute Asia – Los Angeles/Long Beach meningkat menjadi rata-rata 38 hari, naik dari 28 hari yang tercatat pada pertengahan November.
Hal yang sama terjadi pada rute Asia – Eropa Utara juga tidak mengalami perubahan sejak awal November, tanggal survei terakhir Alphaliner. Kapal 14.000 hingga 24.000 TEU pada rute ini masih membutuhkan rata-rata 17 hari lebih lama dari waktu normal pra-pandemi.
Kesimpulan yang tidak berbeda jauh disampaikan Platform Digital Seaexplorer milik perusahaan Logistic raksasa Kuehne+Nagel. Dengan menggunakan perspektif dan metode agak berbeda, yang disebutnya sebagai Indikator Gangguan Global, Seaexplorer menghitung waktu tunggu kumulatif TEU dalam beberapa hari berdasarkan kapasitas kapal kontainer di titik-titik rawan yang terganggu.
Seaexplorer mengumpulkan data dari sejumlah pelabuhan yang paling terkena dampak seperti Los Angeles, Long Beach, Seattle, Vancouver, Prince Rupert, Oakland, New York, Savannah, Hong Kong, Shenzhen, Shanghai, Ningbo, Rotterdam, dan Antwerp.
Indikator yang dipakai Seaexplorer adalah TEU Waiting Days (TWD). Cara menghitungnya dengan mengalikan kapasitas kapal dengan jumlah hari waiting time. Misalnya satu kapal dengan kapasitas 10.000 TEU menunggu 12 hari sama dengan 120.000 TWD (TEU hari tunggu).
Awal minggu ini, Senin, 14 Februari, total TWD (TEU Waiting Days) dari seluruh Pelabuhan yang paling terkena dampak sebagaimana disebutkan di atas mencapai 12,32 juta hari, naik dari 11,56 juta hanya dalam waktu tiga minggu. Padahal dalam waktu normal sebelum pandemi, TWD hanya sekitar 1 juta TEU hari.
Terakhir, data dari platform US project44 juga memperkirakan kemacetan akan memburuk dalam beberapa minggu mendatang. “Sementara pasar angkutan laut kemungkinan akan sedikit terjeda selama Februari, kami memperkirakan permintaan akan meningkat sekali lagi setelah fasilitas manufaktur dibuka kembali. Potensi kemacetan pelabuhan lebih lanjut kemungkinan terjadi di bulan mendatang karena pengecer AS dan shippers lainnya mengisi dan meningkatkan inventory mereka,” jelas project44.

