Kongesti pelabuhan, terutama pelabuhan-pelabuhan di AS dan Eropa, selama merebaknya pandemic Covid-19, tidak hanya menyebabkan tertundanya proses pengiriman barang, tetapi juga menimbulkan biaya tambahan bagi pemilik barang (shipper) yang jumlahnya sangat fantastis. Pada tahun lalu (2021) total pengeluaran tambahan yang dikeluarkan shipper bahkan mencapai ratusan juta dolar.
Analisis baru dari Project44 menyimpulkan, selain adanya peningkatan biaya pengiriman, shipper juga harus mengeluarkan biaya tambahan sebagai dampak kongesti. Bahkan, menurut hitungan Project44, total kumulatif biaya tambahan yang dikeluarkan shipper pada 2021 mencapai USD 321 juta. Biaya tambahan ini sebagian besar untuk biaya inventory karena karena kemacetan pelabuhan.
Analisis Project44 memperkirakan antara Januari dan November 2021 total nilai kargo yang mengalami penundaaan karena kongesti Pelabuhan-pelabuhan global mencapai USD 238 miliar, dimana sebagian besar terjadi di Pelabuhan Los Angeles dan Long Beach. Analisis project44 juga melaporkan pada tahun 2021, jumlah container yang mengalami masalah karena kongesti rata-rata mencapai 540.255 TEU per bulan dan rata-rata 377 kapal peti kemas per bulan. Mengutip hitungan HSBC, Project44 memperkirakan kongesti menyebabkan adanya biaya tambahan sebesar USD 106 per TEU.
Selanjutnya, peningkatan waktu transit kargo, proses perizinan hingga pengiriman sampai ke Pelabuhan tujuan berdampak pada meningkatnya biaya yang harus dikeluarkan oleh para shippers. Sebelum pandemi, waktu yang dibutuhkan untuk transit hingga proses perizinan dari pelabuhan Cina ke Los Angeles berkisar selama 22 hari. Shifl, sebuah platform pengiriman barang digital melaporkan bahwa saat ini waktu transit meningkat menjadi sekitar 60 hari berdasarkan rata-rata 17,6 hari menunggu di Los Angeles.
Mengingat waktu transit rata-rata antara pelabuhan utama Cina dan Los Angeles adalah selama 60 hari, shippers melakukan pembayaran bunga atas barang yang dikirim melalui jalur laut rata-rata selama dua bulan. Artinya, Project44 memperkirakan total biaya tambahan antara Januari dan November 2021 adalah hampir sebesar USD 321 juta. Kendati nilai tersebut merupakan sebagian kecil dari total biaya barang, namun tetap menjadi catatan penting dalam analisis.
Josh Brazil, wakil presiden Supply Chain Insights di project44 mengungkapkan, “Dengan nilai suku bunga terendah dalam sejarah, biaya untuk menyimpan lebih banyak inventaris lebih rendah dari yang Anda harapkan,”. Rendahnya tingkat inventaris memasuki tahun 2021, Ia mencatat bahwa didukung oleh kondisi pembiayaan perdagangan yang rendah, dengan menyediakan inventaris lebih banyak dan lebih awal merupakan ide yang bagus untuk pengecer dan akan membantu shippers. Namun Brazil menambahkan bahwa hal tersebut hanya akan memperburuk masalah kemacetan.
Dengan suku bunga terendah dalam sejarah, perusahaan juga dapat membiayai jumlah kelebihan penyimpanan inventaris pokok di laut selama dua bulan, ungkap project44. Kendati mungkin tidak sepenuhnya disengaja, namun kemacetan membantu perusahaan menghindari biaya penyimpanan pada kelebihan inventaris. Kendati shippers harus membayar denda terkait bunga atas barang yang terdampar di laut, namun biayanya kecil jika dibandingkan dengan menyimpan persediaan tersebut di darat di mana harga pergudangan tinggi dan ketersediaannya langka.
Brazil menambhakna, “Fenomena ini telah menggarisbawahi betapa multidimensinya krisis rantai pasok. Kendati dengan menyimpan lebih banyak inventaris mungkin tampak seperti solusi jangka pendek yang baik, namun industri juga sangat membutuhkan lebih banyak visibilitas, manajemen kargo yang lebih baik, serta peningkatan infrastruktur dan proses.”
Menurut intelijen project44, shippers menghadapi efek domino dari gangguan yang melebihi perkiraan penundaan pengiriman mereka. Namun, mereka mengimbanginya dengan memahami manfaat suku bunga rendah dan mengirimkan pesanan paling cepat pada bulan Juni dan Juli untuk meningkatkan persediaan pada waktunya untuk musim belanja liburan dan memenuhi permintaan konsumen secara keseluruhan.
Analisis menyimpulkan bahwa perusahaan pelayaran mengambil keuntungan dari kondisi pemesanan barang dagangan secara berlebihan, dengan beberapa barang masih berada di laut dan akan digunakan untuk mengisi kembali persediaan yang habis atau dipasarkan dengan diskon di bulan-bulan mendatang.
The National Retail Federation dalam perkiraannya sependapat bahwa pengecer AS memesan lebih awal dan berhasil membangun kembali persediaan yang mengarah kepada ekspektasi bahwa pertumbuhan impor akan kembali normal pada tahun 2022 sehingga membantu mengurangi permasalahan serta penambahan biaya seperti biaya pengangkutan barang yang didorong oleh kemacetan pelabuhan dan backlog.

