Kongesti (kenaikan jumlah antrian kapal) di pelabuhan-pelabuhan China, termasuk Shanghai, Ningbo, Zhoushan, dan Qingdao, menyusul kebijakan lockdown negara tersebut dalam mengantisipasi angka penyebaran Covid-19 yang kembali naik, memicu kenaikan freight rate Asia-AS dan Asia-Eropa.
Kongesti di Pelabuhan tersebut memperparah tekanan rantai pasok setelah sebelumnya tertekan sabagi dampak dari invasi Rusia di Ukraina yang memaksa sejumlah jalur rantai pasok terganggu.
Menurut sejumlah laporan sebagaimana ditulis Bloomberg, pada pertengahan bulan ini, tercatat ada 72 kapal sedang antri di Pelabuhan Qingdao. Jumlah ini hampir dua kali lipat dari angka akhir Februari lalu.
Meningkatnya jumlah kapal yang antri di pelabuhan tersebut dan pelabuhan-pelabuhan China lainnya yang selanjutnya akan berdampak pada delay jadwal pelayaran yang cukup lama, akan kembali memicu kenaikan freight rate, tulis Bloomberg.
Memang biasanya, setelah perayaan Tahun Baru Imlek, ada penigkatan jumlah kapal ke China yang berdampak pada antrian kapal yang cukup tinggi. Namun, saat ini, antrian kapal jauh lebih tinggi dari biasanya yang dipicu oleh kebijakan lockdown sesuai dengan kebijakan China ketika angka penyebaran covid sedang naik.
Tidak hanya di Qingdao, antrian kapal juga terlihat di beberapa Pelabuhan besar China, termasuk Shanghai, Ningbo dan Zhoushan. Menurut Bloomberg, per Maret 15 total ada 262 kapal yang sedang antri di ketiga Pelabuhan tersebut, naik dari 243 pada data 7 Maret. Namun situasi di Shenzhen dan Hong Kong mulai mereda. Jumlah kapal yang antri di dua Pelabuhan tersebut turun dari turun dari 208 kapal per 7 menjadi 162 kapal pada 15 Maret.
Penyebaran cepat varian omicron di China meningkatkan tekanan pada rantai pasok global yang sebelumnya sudah tertekan karena invasi Rusia ke Ukraina. Invasi ini telah menghentikan layanan kereta api container China-Eropa dengan pangsa pasar sekitar 1-2% dari total arus peti kemas Asia-Eropa plus berhentinya jadwal pelayaran sejumlah operator besar, termasuk Maersk, ke Rusia.

