Kenaikan Pesanan Kapal Baru Belum Membantu Keseimbangan Pasar, Freight Akan Terus Naik

Freight rate (tarif angkutan) diprediksi akan terus naik tajam dalam beberapa waktu mendatang. Penyebab utamanya karena ketidakseimbangan antara pertumbuhan demand dan supply. Pertumbuhan demand (volume cargo) hampir dua kali lipat dibanding supply (ketersediaan ruang kapal).

Memang, cerita kenaikan freight bukan hal baru selama merebaknya Pandemi Covid-19. Tercatat, sejak awal 2020, kenaikan freight merata pada hampir semua rute, dengan nilai yang fantastis. Freight China-US West Coast pada bulan Mei, menurut Freightos Baltic Index, naik 66% dibanding Januari. Apalagi dibanding awal 2020 ketika pandemi Covid-19 mulai merebak luas, naik lebih dari 400%.  Freightos mencatat hal yang sama untuk rute Asia-Eropa yang naik masing-masing 92% dan 480% pada periode tersebut.

“Covid telah menjadi pemicu terbesar terhadap apa yang sedang terjadi pada container shipping, dengan siklus super yang akan terus berlanjut,” kata Jonathan Roach, analis kontainer di Braemar ACM Shipbroking yang berbasis di London. “Kenaikan tariff-nya luar biasa. Dan sepertinya tidak akan berubah sampai tahun depan.”

Apalagi, ledakan permintaan masih akan terus berlanjut terutama untuk mengisi stok barang. Sejumlah perusahaan retail terkemuka saat ini sedang meningkatkan permintaan setelah proses supply chain terganggu selama merebaknya pandemi. Menurut laporan Wall Street Journal, dua raksasa retail global Walmart dan Amazon.com sedang melakukan hal tersebut. Ini berimbas memicu penignkatan permintaan, khususnya terhadap barang-barang buatan China. Kedua perusahaan tersebut akan secara masif mengisi kembali stok mereka setelah selama satu tahun rantai pasok terganggu karena pandemi.

Pada sisi lain, pertumbuhan kapasitas kapal atau ketersediaan ruang kapal mengalami ketersendatan. Ini tak terlepas keengganan atau prediksi yang salah dari perusahaan pelayaran dalam investasi pembangunan kapal baru.

Anjloknya perdagangan pada awal pandemi turut menyulutkan semangat perusahaan pelayaran untuk melakukan pemesanan kapal baru pada tahun lalu. Lockdown pada awal 2020 untuk mengendalikan penyebaran virus corona menyebabkan perdagangan anjlok yang mendorong perusahaan pelayaran tidak begitu bersemangat. Hal ini berimbas pada kondisi pasar tahun ini.

Kekurangan kapasitas masih akan berlanjut yang memicu kenaikan freight rate hingga akhir tahun 2021, bahkan hingga tahun depan.

Pesanan Kapal Baru Masif, namun Belum Membantu

Ketidakseimbangan kondisi pasar saat ini turut memicu masifnya oder kapal baru tahun ini. Namun, menurut Roach, hal tersebut belum bisa membantu keseimbangan pasar dalam waktu dekat, mengingat pembangunan kapal butuh waktu cukup lama. Sebagian besar kapal-kapal yang di-oder tahun ini, baru bisa selesai pada tahun 2023.

Menurut VesselsValue, sebuah provider data investasi kapal yang berbasis di London, dalam lima bulan pertama tahun ini (Januari-Mei 2021), total order kapal kontener baru sudah mencapai 208 unit dengan total nilai $16,3 miliar. Hal ini jauh lebih tinggi dari total pesanan 120 kapal senilai $8,8 miliar pada tahun 2020. Juga masih lebih tinggi dari order sebelum bencana covid-19. Pada tahun 2019, total order kapal kontener tercatat sebanyak 114 unit dengan total nilai $6,9 miliar.

“Benar-benar di luar prediksi. Hitungan sebelum merebaknya Covid-19, tentu berdasarkan kapasitas yang tersedia dan total pesanan baru, seharusnya pasar tahun ini tidak terganggu, demand dan supply ada pada posisi imbang. Namun, Covid-19 meruntuhkan semua prediksi dan hitungan tersebut. Saat ini demand naik tajam yang mendorong hampir semua perusahaan pelayaran melakukan pemesanan kapal baru,” kata eksekutif senior dari salah satu perusahaan galangan kapal Korea sebagaimana dikutip Wall Street Journal.

“Covid mengguncang rantai pasok, tarif pengiriman melonjak dan sekarang semua orang ingin menambah lebih banyak kapal,” lanjutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *