Per hari ini, 1 Februari 2025, Aliansi Pelayaran Gemini – kerjasama Maersk dengan Hapag-Lloyd – sudah mulai berjalan. Aliansi ini, menurut keterangan resmi Maersk kepada Indonesia Shipping Gazette, bertujuan untuk menciptakan jaringan laut yang lebih fleksibel dan saling terhubung, dengan tingkat keandalan jadwal yang diprediksi melebihi 90 persen setelah sepenuhnya diterapkan.
Ada sekitar 340 kapal yang akan dioperasikan oleh kedua pelayaran tersebut jika nantinya beroperasi penuh. “Memang tidak semua kapal langsung beroperasi untuk service ini per hari ini. Akan diimplementasikan secara bertahap,” kata Johan Sigsgaard, Chief Product Officer-Ocean Maersk dalam keterangannya.
“Kami siap memulai fase baru dalam jaringan ini. Selama setahun terakhir, kami telah merencanakan transisi ini dan mensosialisasikan pelanggan kami. Dengan desain yang inovatif, kami yakin pelanggan kami akan merasakan manfaat dari peningkatan keandalan, fleksibilitas, dan produk yang lebih kompetitif.”
Periode transisi diharapkan akan berlangsung hingga akhir Mei 2025, di mana kapal-kapal akan secara bertahap masuk ke jaringan baru dan keluar dari perjanjian yang ada dengan operator lain. Bulan Juni akan menjadi bulan pertama di mana jaringan Gemini sepenuhnya terintegrasi, dengan seluruh kapal berlayar sesuai jadwal baru yang telah disusun.
Jaringan bersama antara Maersk dan Hapag-Lloyd ini akan mencakup jalur perdagangan Timur/Barat dan terdiri dari 29 layanan pelayaran utama (mainliner service) dan 28 layanan shuttle service. Ini memungkinkan kedua perusahaan untuk menawarkan solusi pengiriman yang lebih efisien dan terhubung secara global.

KONSEP HUB & SPOKE
Berbeda dengan aliansi lainya seperti Ocean Alliance, Premier Alliance, maupun MSC yang berjalan secara mandiri, Aliansi Gemini akan menjadi satu-satunya yang menggunakan konsep Hub & Spoke yang mengandalkan proses transshipment di pelabuhan-pelabuhan yang berfungsi sebagai hub.
Oleh karena itu, fokus utama dari jaringan ini adalah pada hub transshipment yang menerapkan model ‘hub & spoke’, didukung oleh loop shuttle khusus berkapasitas tinggi yang menghubungkan hub regional dengan pelabuhan lainnya. Secara keseluruhan, layanan jalur utama hanya akan singgah di 56 pelabuhan, sementara 29 pelabuhan lainnya akan dilayani oleh shuttle khusus.
Proses transshipment akan fokus di delapan pelabuhan utama yang dioperasikan APMT (APM Terminals), sister company Maersk dan dua terminal jaringan Hapag-Lloyd.
Delapan hub utama yang merupakan pelabuhan/Terminal APMT termasuk Maasvlakte Rotterdam (Belanda), North Sea Terminal Bremerhaven (Jerman), APM Terminals Algeciras (Spanyol), APM Terminals Tangier dan Medport Tangier (Morocco), Suez Canal Container Terminal Port Said (Mesir), Port Salalah (Oman), dan Port of Tanjung Pelepas (Malaysia).
DIANGGAP KUNO, TETAPI MENGUNTUNGKAN OPERATOR FEEDER
Beberapa analis mengeritik konsep dan skema “hub and spoke” Gemini. Konsep ini dinilai sudah kuno dan tidak efektif.
Tan Hua Joo, analis dari Lembaga Research Alphaliner mengkritik Gemini sebagai aliansi pelayaran yang lemah, terutama karena Maersk dan Hapag-Lloyd kurang agresif dalam memperluas armada selama masa booming pasca-Covid. Sementara MSC, pesaing utama, sangat aktif dalam membangun armadanya. Maersk dan Hapag-Lloyd dilaporkan berencana menambah kapal, tetapi gap dengan MSC tetap besar.
Gemini juga dianggap kalah dalam jumlah pelayaran mingguan dibandingkan aliansi lain, dan metode hub-and-spoke dianggap sudah ketinggalan zaman. Biaya transshipment yang lebih tinggi diperkirakan akan menjadi masalah. Meskipun Maersk dan Hapag-Lloyd menjanjikan keandalan lebih besar, Tan meragukan pemilik barang akan membayar lebih untuk ketepatan waktu.
Kendati demikian, beberapa pelayaran feeder menyambut gembira skema pengoperasian Aliansi Gemini ini. Mereka menilai, skema ini akan menghidupkan bisnis feeder baik di pelabuhan hub maupun pelabuhan yang berperan sebagai spoke.
Setidaknya, pelayaran feeder akan terkoneksi dengan pelayaran shuttle Gemini yang diperkirakan menjadi penghubung pelayaran feeder ke jaringan global.
TANJUNG PELEPAS HUB UTAMA
Dari delapan hub yang diplot aliansi ini sebagai pusat kegiatan transshipment, Port of Tanjung Pelepas (PTP) akan menjadi hub utama, yang menangani lebih dari sepertiga service Gemini. Dari total 57 service Gemini, 20 service akan dilayani Tanjung Pelepas, termasuk 12 mainliner service dan 8 shuttle service.
Maersk percaya Tanjung Pelepas, akan mampu mengatasi tekanan sebagai hub global utama dalam jaringan Kerjasama Gemini.
Apakah Tanjung Pelepas bisa optimal menjalankan peran tersebut, mengingat kapasitas terpasang Tanjung Pelepas yang masih kalah jauh dibanding hub tetangga Pelabuhan Singapura? Apalagi, jika melihat data yang ada, tingkat utilisasi Tanjung Pelepas sudah hampir mendekati 100% dari kapasitas terpasangnya.
Berdasarkan data eeSea, throughput Tanjung Pelepas pada tahun lalu (2024) mencapai 12,12 juta TEUs, sementara kapasitas terpasang hanya 12,5 juta TEUs. Itu artinya, tingkat utilisasinya sudah sangat mendekati 100%.
Menanggapi kekwatiran tersebut, Kepala Hub APM Terminals, Lars Michael Jensen, menjelaskan proses penambahan kapasitas sedang berlangsung.
“Kami dan mitra sedang menjalankan program perluasan Tanjung Pelepas. Disamping itu, beberapa peralatan baru seperti QCC (quay container crane) dan RTG (rubber tyred gantry crane) sedang dipesan. Peralatan-peralatan baru ini akan mendukung peningkatan kapasitas terpasang,” jelas Jensen.
“Selain itu, dengan keandalan jadwal liner yang lebih baik dalam jaringan Gemini, hub kami dapat merencanakan operasi dengan lebih efisien, yang pada gilirannya juga meningkatkan kapasitas pelabuhan.”
Tahun lalu, Tanjung Pelepas memesan 48 unit RTG dan 11 QCC. Semuanya sudah menggunakan energi listrik yang ramah lingkungan.
Apalagi, menurut Johan Sigsgaard, implementasi jaringan baru ini tidak akan terjadi dalam waktu sekejab, tetapi akan memakan waktu hingga tiga bulan.
Sigsgaard juga mengatakan ada tambahan kapasitas dari beberapa pelayaran yang akan pindah dari Tanjung Pelepas ke hub Singapura, menyusul kebijakan dari pelayaran tersebut serta kebijakan dari aliansi masing-masing.
Evergreen akan segera pindah ke Singapura, menyusul keputusan pelayaran Taiwan tersebut untuk ikut menjadi operator salah satu terminal di Tuas Singapura. Kendati layanan mainliner nya pindah, Evergreen belum mengumumkan adanya perubahan terkait lima layanan intra-Asia dan tiga layanan feeder yang dioperasikan Evergreen ke Tanjung Pelepas.
Selain Evergreen, dua service Ocean Alliance Asia-Eropa Utara, yaitu NEU6 dan NEU7, yang saat ini singgah di Tanjung Pelepas, akan berhenti singgah terhitung mulai Februari ini dan pindah ke Singapura. Layanan NEU7 dengan kapasitas sekitar 63.000 TEU per bulan dan NEU6 dengan kapasitas 46.000 TEU per bulan akan pindah ke Singapura.
Selain itu, layanan Asia-Eropa milik MSC dengan kapasitas 44.000 TEU per bulan, juga akan keluar dari Tanjung Pelepas menyusul berakhirnya aliansi 2M antara MSC dengan Maersk. MSC meluncurkan jaringan mandiri dan memilih untuk memasukkan Vung Tao dan Kolombo sebagai port of call non-Tiongkok di Asia.
“Kapal-kapal yang saat ini beroperasi di layanan 2M akan menyelesaikan rotasi mereka. Kapal yang meninggalkan Asia hari ini akan tetap berada dalam rotasi 2M hingga menyelesaikan seluruh perjalanan pulang-pergi. Dengan demikian, transisi penuh ke layanan Gemini baru akan selesai pada Mei, dan kami baru bisa mendapatkan gambaran lengkap tentang kinerja jaringan ini pada Juni,” jelas Sigsgaard.

