Hapag-Lloyd, perusahaan pelayaran peti kemas terbesar kelima global, mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 19% pada tahun 2024. Laba bersih Hapag-Lloyd pada 2024 tercatat sebesar 2,4 miliar euro ($2,61 miliar), turun dari 2,9 miliar euro pada tahun sebelumnya, 2023.
Perusahaan pelayaran asal Jerman ini memperkirakan laba kemungkinan akan kembali turun pada tahun 2025, mengingat tantangan bisnis yang lebih berat.
Hal tersebut disampaikan dalam laporan kinerja 2024 dan prediksi bisnis untuk tahun 2025 yang dirilis pada Kamis, 20 Maret 2025.
CEO Hapag-Lloyd, Rolf Habben Jansen, menjelaskan penurunan laba ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk melemahnya tarif di pasar AS dan gangguan yang disebabkan oleh serangan militan Houthi terhadap jalur pelayaran di Laut Merah. Hal ini diperkirakan akan membayangi prospek perusahaan ke depan.
Sebagai respons terhadap penurunan kinerja, perusahaan mengusulkan pemotongan dividen tahunan sebesar 11,4%, menjadi 8,20 euro per saham, turun dari jumlah sebelumnya. Saham Hapag-Lloyd merosot 8% dalam perdagangan minggu lalu.
Hapag-Lloyd juga menyatakan krisis yang terjadi di Terusan Suez tidak akan segera terselesaikan. Hal ini memaksa pelayaran kapal untuk mencari rute alternatif yang lebih mahal di sekitar Afrika untuk menghindari serangan militan Houthi di Laut Merah. Keadaan ini semakin memperburuk tantangan yang dihadapi oleh perusahaan.
Proyeksi Laba 2025: Maksimal 1,5 Miliar Euro
Untuk tahun 2025, Hapag-Lloyd memperkirakan laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) akan berada dalam kisaran nol hingga 1,5 miliar euro, jauh lebih rendah dibandingkan dengan 2,6 miliar euro yang tercatat pada 2024.
“Lingkungan ekonomi dan geopolitik saat ini masih penuh dengan ketidakpastian. Dalam kondisi seperti ini, kami memperkirakan laba pada 2025 akan lebih rendah dibandingkan dengan 2024,” kata Habben Jansen. Ia juga memperkirakan prospek pertumbuhan ekonomi AS akan mengalami penurunan lebih lanjut pada tahun ini.
Pada awal tahun 2025, Hapag-Lloyd memulai kerja sama dengan Maersk dalam aliansi Gemini. Kerja sama ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi operasional dan daya saing kedua perusahaan.
Tahun ini, Hapag-Lloyd akan terus melakukan ekspansi bisnis dengan penambahan armada. Capex tahun ini akan dialokasikan untuk pembiayaan armada baru, termasuk 24 kapal baru yang akan dibangun di Tiongkok. Di sisi lain, perusahaan juga akan melakukan efisiensi biaya operasional agar penurunan laba tidak semakin dalam.

